91 Sawa dan 65 Krama Ikuti Yadnya Massal Desa Adat Kuta

Iklan Home Page

Mangupura, Baliwakenews.com – Sebanyak 91 sawa akan mengikuti upacara Atiwa-Tiwa Atma Wedana, sementara 65 krama menjalani mepandes atau nyurud ayu dalam karya besar Desa Adat Kuta. Menariknya, seluruh pelaksanaan yadnya massal tersebut digelar secara gratis.

Untuk memastikan rangkaian upacara berjalan lancar, ratusan pemilet dan krama Desa Adat Kuta mulai mempersiapkan berbagai tahapan yadnya. Persiapan ditandai dengan prosesi memasar, negtegang lan ngingsah karya hingga sejumlah rangkaian lainnya di Bale Peyadnyan, Anggara Umanis Uye, Selasa (1/9/2026).

Rangkaian persiapan tersebut menjadi bagian menuju pelaksanaan Atiwa-Tiwa Atma Wedana serta Manusa Yadnya berupa mepandes atau metatah massal yang dijadwalkan berlangsung Sukra Umanis Menail, 11 September 2026 mendatang.

Dalam prosesi memasar, ratusan pemilet dan krama desa tumpah ruah membeli berbagai kebutuhan pangan dan sarana persembahyangan yang telah disediakan khusus untuk keperluan yadnya.

Menariknya, transaksi berlangsung dengan penuh kejujuran dan ketulusan. Krama mengambil kebutuhan pangan maupun sarana upacara, kemudian membayar sesuai barang yang diperolehnya.

Jero Mangku Kahyangan Tiga Desa Adat Kuta, Jero Mangku I Nyoman Budi Utama, mengatakan memasar dalam rangkaian upacara keagamaan memiliki makna khusus. Pasar bukan sekadar tempat transaksi, tetapi menjadi bagian dari proses mempersiapkan kebutuhan yadnya.

Baca Juga:  Wabup Suiasa Membuka Kontes dan Pameran Bonsai di Pecatu

“Dari tutur-tutur, mengapa ada pasar Betara di Desa (Betara Siwa berstana di Bale Agung) mengajarkan manusia untuk berdagang atau disebut atuku. Disanalah kita dalam Hindu ada pasar dan ada Ida Betara yang melinggih di pasar, yang disebut melanting,” jelas Jero Mangku Budi Utama.

Ia mengingatkan agar sarana kebutuhan upacara diperoleh melalui pasar yang telah disiapkan dalam rangkaian yadnya. Menurutnya, sarana yang dinilai mala atau leteh akan disucikan kembali melalui prosesi tersebut.

“Makanya untuk sarana upacara jangan membeli di tempat lain, harus di pasar. Karena barang-barang itu sudah disumpat oleh Ida Batara Melanting, Jadi Sang Hyang Sedana Mertha Jaya yang bertugas untuk membersihkan sarana upacara dalam hal ngewangun yadnya,” ungkapnya.

Setelah memasar, prosesi dilanjutkan dengan negtegang lan ngingsah karya, ngadegang rare angon, ngadegang sunari, ngadegang pindekan, ngadegang guru dadi, ngadegang tapini, mapakideh, hingga ngunggahang tirta pengalang sasih dan panca cuntaka di pesisir Pantai Kuta.

Baca Juga:  Paripurna Istimewa HUT ke-16 Kota Mangupura, Momentum Refleksi Kemajuan Yang Telah Tercpai

Seluruh prosesi tersebut dipuput oleh Ida Pandita Mpu Nabhe Jaya Wijayananda.
Ida Pandita menerangkan, setiap pelaksanaan yadnya diawali dengan negtegan. Kata negtegan atau negteg berasal dari kata enteg yang berarti ajeg, kokoh dan pageh.

Maknanya menjadi pengingat agar umat memiliki keteguhan dalam menjalankan seluruh rangkaian yadnya.

“Iraga sadar, diluar kita itu masih banyak hal-hal yang tidak bisa kita lihat yang dapat menjauhkan kita. Sehingga kita menghaturkan banten di bucu-bucu, banten penghalang sasih, banten beburon di kuburan, sehingga tidak menggangu pelaksanaan sarana upacara yang telah disiapkan,” jelas Ida Pandita Mpu.

Sementara ngingsah atau isah memiliki makna memfokuskan diri. Setelah tahapan tersebut, krama diharapkan tidak lagi memikirkan hal-hal di luar pelaksanaan yadnya.

Karena itu, setelah prosesi negtegan dan ngingsah, Desa Adat Kuta tidak diperkenankan melaksanakan upacara ngaben lagi. Seluruh krama diarahkan untuk fokus pada satu yadnya, yakni Atiwa-Tiwa Atma Wedana dan mepandes.

“Seandainya ada yang mati/meninggal, kelayon sekar yang boleh menengok hanya satu rumah, sebelah sebelahnya saja, dan adanya jam malam dalam Bahasa Bali Nyulubin,” tutur Ida Pandita Mpu.

Baca Juga:  Tim Luwir Wiana Terus Bergerak Perangi Covid-19 Semprot Perumahan dan Serahkan APD ke Puskesmas

Melalui negtegan dan ngingsah, seluruh pemilet dan krama desa juga diajak mempersiapkan diri serta mengendalikan diri melalui Tapa Yadnya Yasa Kerthi. Pengendalian tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya agar seluruh rangkaian yadnya berjalan baik hingga selesai.

Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana, selaku pengayah di Desa Adat Kuta, menyampaikan terima kasih atas lancarnya pelaksanaan upacara persiapan tersebut.

“Usai upacara negtegan dan ngingsah hari ini, saya memohon dengan sangat kepada para pemilet dan panitia karya untuk me-yasa kerthi atas pelaksanaan dari hari ini hingga nantinya akhir dari upacara atiwa tiwa dan mepandes massal, memperoleh kerahayuan,” jelas Bendesa Alit Ardana.

Karya besar tersebut mendapat dukungan berbagai unsur Desa Adat Kuta. Prosesi Negtegan dan Ngingsah diiringi Santhi Desa Adat Kuta, gong jangkep dari Br. Segara Kuta, Pemedek Br. Segara, Pemangku Desa, panitia dan serati banten, serta Pecalang Desa Adat Kuta. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR