Kutuh, baliwakenews.com
Situasi pandemi dengan penerapan Prokes Ketat membuat kegiatan masyarakat dilakukan dengan pembatasan-pembatasan. Hal ini untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus Covid 19 yang mulai menurun. Seperti halnya di Desa Kutuh yang kini masuk dalam zona hijau. Pelaksanaan Lomba Bahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali Ketiga tahun 2021, Sabtu (27/2) yang digelar Desa Adat Kutuh juga dengan pembatasan-pembatasan. Baik dari segi peserta, jenis lomba maupun jumlah peserta.
Bendesa Adat Kutuh, Nyoman Mesir ditemui di sela-sela kegiatan menegaskan kalau pelaksanaan Bulan Bahasa Bali tersebut memang banyak manfaatnya. Apalagi kaitannya dengan sor singgih yang jarang dipakai di masyarakat. Dimana kebanyakan yang dipakai adalah tingkatan mider dan singgihnya masih jarang. Pelaksanaanya juga sangat bermanfaat bagi generasi muda yang belakangan terkesan cenderung lebih suka berbahasa asing daripada bahasa Bali. Apalagi sering terjadi anak yang sejak lahir sudah diajari bahasa Indinesia sehingga malah tidak tahu berbahasa Bali.
Hanya saja dia menyoroti momen pelaksanaanya di tengah pandemi kuranglah tepat. Karena selain persiapan yang kurang matang, juga harus dilakukan dengan pembataaan sesuai ketentuan prokes yang ada. Karenanya dia berharap ke depan pelaksanaanya agar dirancang lebih baik lagi di saat situasi sudah aman dan masyarakat tidak was-was. Namun demikian dia tidak mau menyalahkan siapapun karena situasi pandemi saat ini. “Hanya saja saya kira penyelenggaranya kurang tepat karena warga masih memikirkan kondisi korona dan di sisi lain harus melakukan lomba,” ujarnya
Termasuk pula kaitannya dari sisi anggaran mengingat ekonomi yang lagi terpuruk. “Di Kabupaten, Kecamatan dan desa kan ada Widya Sabha mungkin bisa merancangnya dengan matang melalui pembinaan-pembinaan termasuk anggarannya agar tidak menjadi beban di desa adat. Dengan begitu pelaksanaanya akan lebih matang dan pesertanya juga lebih siap,” sarannya.
Ketua Panitia, Ketut Gita membenarkan pelaksanaan Lomba kaitannya Bulan Bahasa Bali kali ini dilakikan dengan penerapan prokes ketat dan sejumlah pembatasan-pembatasan. Termasuk dalam pelaksanaanya hanya berlangsung sehari. Meski pelaksananya dalam pembatasan namun dia menegaskan kalau kegiatan tetap sesuai roh Bulan Bahasa Bali yang digagas dari 3 tahun lalu. Pembatasan yang dimaksud yakni dari peserta dan juga undangan serta jenia lomba yang digelar. Apalagi kebetulan dia adalah bagian dari satgas Covid Desa Adat Kutuh. “Peaksanaan dari pembukaan hingga penutupan kita lakukan hanya sehari,” ujarnya.
Karenanya peserta dari dua katagori Utsawa dan Wimbakara pihaknya hanya melakukan wimbakara atau lomba. Diantaranya lomba mesatua bali oleh ibu PKK, Nyurat aksara bali siswa SD serta mebaca aksara Bali tingkat Daa Teruna atau remaja dengan peserta terbatas. Pihaknya di Widyasabha dan kebendesaan sangat mengapresiasi kegiatan Bulan Bahasa Bali ini. Karena sebagai ajang pembentukan katakter dan watak generasi yang juga menjadi tugas di kebendesaan yaitu melestarikan dan membudayakan aksara bali.
Sesuai dengan temanya Wana Kerti Sabdaning Taru Mahottama, sangat berhubungan dengan pembentukan karakter dan memuliakakn sastra dan aksara bali kita. “Harapan kami betul betul sastra dan akasara bali menjadi jiwa dan membentuk karakter kita. Warisan leluhur harus digalakkan dan akan menjadi pondasi pembangunan di desa adat,” tegasnya.
Untuk pemenang 1 sampai 3 dalam lomba ini akan mendapat tropi dan hadiah motivasi serta semua peserta mendapat piagam penghargaan. Sedangkan untuk penjurian merupakan kombinasi antara juri lokal yang sudah pengalaman serta penyuluh bahasa dan sastra dari Pemprop Bali.BWN-04
































