Denpasar, baliwakenews.com
Menginventarisir atlet baik yang masih bisa bertanding maupun yang sudah pensiun perlu dilakukan mulai sekarang demi menatap PON XXI/2024 yang dihelat di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut). Hal itu terungkap pada Diskusi Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) PWI Bali yang dilangsungkan di Hotel Neo Denpasar, Selasa (28/12).
Diskusi yang digelar dua hari itu, di hari pertama melibatkan tiga narasumber yakni Sekretaris Umum (Sekum) KONI Bali IGN Oka Darmawan, Praktisi Olahraga Dr. Maryoto Subekti dan Ketua PWI Bali IGMB Dwikora Putra. Menurut Oka Darmawan, kesuksesan prestasi Bali peringkat lima besar PON Papua lalu, masih menyisakan PR ke depan untuk mempertahan prestasi itu. Tantangan itu diantaranya sinergitas pemerintah dengan KONI Bali yang harus tetap dijaga, ketersediaan SDM, termasuk pendanaan.
Sedangkan untuk menjaga kesuksesan pada PON 2024 di Aceh dan Sumut mulai sekarang perlu dilakukan inventarisasi atlet-atlet guna mengetahui presentase atlet yang memasuki usia pensiun dan yang masih dapat tampil kembali di ajang PON. “Ini yang harus kita data. Kita perlu inventarisasi atlet yang pensiun maupun atlet yang bisa bertanding lagi. Terkait talenta baru untuk PON 2024 bisa dilihat dari hasil Porprov Bali tahun 2022 mendatang,” beber Oka Darmawan.
Di lain pihak, Maryoto Subekti mengakui, saingan Bali pada PON 2024 cukup berat, sejumlah provinsi yang menempel Bali seperti Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Riau termasuk dua tuan rumah yakni Aceh dan Sumatera Utara. Sementara Ketua PWI Bali IGMB Dwikora Putra menekankan pentingnya peran media dalam meningkatkan prestasi olahraga di Bali. Diharapkannya media tetap menjalankan perannya dalam memberikan edukasi dan fungsi kontrol berupa kritik membangun kepada para pengurus KONI Bali dan cabang olahraga, termasuk menggali keluh kesah para atlet. “Selama ini saya mengamati berita-berita yang disajikan media lebih banyak mengangkat tentang kegiatan pengurus KONI dan cabor saja. Harus ditonjolkan juga atletnya,” tegasnya.
Ke depan, pihaknya berharap kepada media bisa menyajikan kritik terhadap KONI maupun mengurus cabor. Tapi kritik itu sifatnya membangun, bukan mengubur tanpa solusi. “Namun bisa diibaratkan gelitikan atau cubitan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan ke depannya,” tandas Dwikora Putra. BWN-06































