Badung, baliwakemews.com
Desa Adat Kuta, Rabu (25/11) menggelar Upacara Nangluk Merana dan Pecaruan sasih. Upacara ini digelar di masing-masing perempatan dan Pura Dalem Kahyangan. Dalam upacara tersebut 6 pelawatan tedun napak pertiwi. Prosesi sakral ini diiringi dengan sejumlah sadeg yang kerauhan dengan ngurek menggunakan keris. Hadir pula dalam upacara tersebut salah seorang tokoh Masyarakat Kuta, I Gusti Ngurah Anom Gumanti. Tokoh yang senantiasa hadir dan mendukung berbagai kegiatan yang dilaksanakan Krama Desa Adat Kuta ini didampingi Camat Kuta, Nyoman Rudiarta, Sekcam I Made Agus Suantara dan Lurah Kuta Ketut Suwana serta tokoh lainnya.
Untuk mendukung penerapan protokol kesehatan dalam upacara ini Ketua Fraksi PDIP di DPRD Badung ini juga menyumbang 500 masker untuk krama. Ditemui di sela-sela Upacara tersebut, Anom Gumanti memaparkan,
Nangluk Marena ini merupakan tradisi yang kaitannya dengan upacara keagamaan. Dimana pelaksanaannya dilakukan tiap tahun di sasih keenam. Seperti yang dilaksanakan di wilayah Banjar Pemaroran dengan menedunkan Palawatan Barong Bang dan beberapa tempat lainnya di wilayah Desa Adat Kuta.
Tujuan upacara tersebut, sambung Anom Gumanti adalah untuk mengharmonisasi kembali alam yang ada. Dimana aura-aura negatif dinetralisasi agar menjadi positif. Karena selama ini kondisi alam sudah banyak yang dieksploitasi untuk berbagai kegiatan baik kepentingan bisnis dan lainnya. “Karenanya dengan upacara ini kami melalukan harmonisasi alam agar menjadi baik dan dapat digunakan untuk kegiatan mensejahteraan umat khususnya di Kuta dan Bali pada umumnya,” ujarnya.
Karena kebetulan dilaksnakan saat suasana pandemi covid 19, semua umat yang hadir dengan disiplin protokol kesehatan pasti berdoa ke sang hyang widi wasa terutama melalui pelatawan yang tedun agar merana ini segera hilang dari muka bumi ini. “Mudah-mudahan dengan pelaksanaan upacara nangluk merana ini kondisi Kuta dan Bali secara umum segera kembali normal ” harapnya.
Terkait dengan protokol kesehatan, karena masyarakat melaksanakan srada bhakti ke ida sang hyang widi wasa, semua tokoh sudah melalukan antisipasi. “Saya selaku salah satu tokoh menyumbang 500 masker kepada krama agar dimanfaatkan dalam upacara ini,” ungkapnya sembari menambahkan kesehatan krama harus juga menjadi prioritas.
Mengacu pada penerapan prptokol kesehatan ini, pihak prajuru dan panitia juga sudah mengatur sedemikian ruma dimana tempat duduk pemedek, jro mangku dan sekaa gong agar ada jarak sesuai prokes yang berlaku. Selain itu pemedek juga sudah diingatkan untuk melakukan cuci tangan sebelum berangkat dan juga masing-masing membawa hand sanitizer serta selalu memakai masker. “Mudah-mudahan dengan doa kita bersama dan penerparan prokes secara disiplin pandemi ini bisa segera berlalu. Sebab krama Kuta yang menggantungkan hidup dari dunia pariwisata sangat terpuruk oleh pandemi berkepanjangan ini,” pungkasnya.
Harapan senada disampaikan Camat Kuta Nyoman Rudiarta dan juga Sekcam Kuta yang juga Ketua Gugus tugas Vovid 19 Kecamatan Kuta, I Made Agus Suantara. Rudiarta memaparkan Nangluk Merana ini sebenarnya rutin dilaksanakam tiap tahun. Melalui upacara ini, kita semua berdoa agar covid 19 ini segera berlalu. Pihaknya juga sudah menyarankan kepada desa adat dan prajuru banjar agar senantiasa memperhatikan protokol kesehatan. “Seperti yang kita lihat bersama semua krama yang hadir menggunakan masker,” imbuhnya.
Agus Suantara menambahkan, pada sasih keenam kalender Bali ini memang dikenal dengan terjadinya berbagai wabah penyakit. Karena itulah digelar upacara untuk menghilangkan wabah ini. “Seperti kita ketahui sasih keenam ini biasanya sering terjadi wabah penyakit, melalui upacara ini kita harapkan semua wabah termasuk covid 19 akan hilang dari muka bumi ini,” tutup Agus Suantara. BWN-04


































