baliwakenews.com – Di sudut-sudut desa Bali, pagi Penampahan Galungan selalu ditandai suara babi melenguh, aroma bumbu menyengat, dan kesibukan warga yang bekerja bergotong-royong.
Namun di tengah arus zaman yang berubah, muncul pertanyaan yang menggelitik sekaligus mengusik hati nurani, apakah benar umat Hindu Bali harus memotong babi menjelang Hari Raya Galungan?
Dari Tradisi ke Spiritualitas
Bagi I Wayan Artana (53), peternak babi asal Gianyar, Penampahan Galungan adalah masa panen. Sejak muda, ia terbiasa menyembelih sendiri babi peliharaannya untuk dipersembahkan dan dibagikan ke keluarga. Namun kini, dua dari empat anaknya enggan melanjutkan tradisi itu.
“Mereka bilang kasihan babinya. Mereka malah beli ayam dari pasar dan bikin lawar pakai itu,” katanya sambil tersenyum getir.
Ia tidak sendiri. Generasi muda seperti Komang Ayu (28), seorang pegiat lingkungan di Denpasar, juga mempertanyakan makna di balik penyembelihan hewan tersebut.
“Saya percaya pada Galungan, tapi saya ingin menjalankan ritualnya dengan cara yang lebih etis. Kami sekeluarga sekarang pakai ayam atau bahkan hanya sesajen sayur. Toh esensinya kan pada rasa syukur,” ujarnya.
Lontar dan Simbolisme, Mengapa Babi?
Secara tradisional, pemotongan babi pada Penampahan Galungan diyakini bersumber dari ajaran dalam lontar-lontar Bali seperti Lontar Dharma Caruban dan Lontar Sundarigama. Dalam teks tersebut disebutkan bahwa babi melambangkan kama atau hawa nafsu rendah manusia. Maka, menyembelih babi menjadi simbol pengendalian diri menjelang Galungan, hari kemenangan dharma atas adharma.
Almarhum Ida Pedanda Gede Made Gunung, salah satu sulinggih paling dihormati di Bali, pernah menyampaikan bahwa: “Babi itu simbolik. Yang dikorbankan bukan sekadar tubuh hewan, tapi sifat tamasik kita sendiri yakni malas, rakus, dan egois. Namun zaman berubah, dan simbol bisa disesuaikan,”
Makna Caru, dan Alternatif Zaman Modern
Upacara caru yang dilakukan saat Penampahan Galungan merupakan bentuk yadnya atau persembahan. Daging yang dikurbankan, baik babi, ayam, atau lainnya, bukan sekadar untuk konsumsi, melainkan menjadi bagian dari banten atau persembahan suci untuk para leluhur dan manifestasi Tuhan.
Namun menurut Dr. I Ketut Donder, dosen filsafat Hindu di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar: “Makna terdalam Galungan ada pada transformasi batin, bukan pada apa yang kita potong. Jika niatnya suci, ayam, bebek, bahkan sesajen dari sayur pun bisa menjadi simbol persembahan yang sah,”.
Hal senada disampaikan oleh Mangku Nengah, seorang pemangku dari Karangasem: “Tradisi itu lentur. Yang penting adalah kesadaran. Tidak semua orang mampu beli babi. Asal banten lengkap, dan niatnya tulus, yadnya tetap diterima,”.
Gesekan Tradisi dan Kesadaran Baru
Namun perdebatan tak berhenti di ranah teologis. Banyak warga kini mempertimbangkan faktor lingkungan, etika hewan, hingga ekonomi.
Meski begitu, tidak sedikit pula warga yang tetap bertahan pada cara lama. Mereka khawatir bahwa mengubah bentuk yadnya bisa merusak keseimbangan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
“Kami menjaga warisan leluhur. Kalau mulai diganti, pelan-pelan bisa hilang makna Galungan itu sendiri,” kata Jro Mangku Sutama dari Bangli.
Mencari Titik Temu
Di tengah perdebatan antara konservatif dan progresif, satu hal menjadi benang merah: keinginan menjaga makna Galungan sebagai momen refleksi, pembersihan batin, dan syukur kepada Tuhan.
Mungkin jawabannya bukan pada harus atau tidak harus memotong babi, tapi bagaimana masing-masing individu dan keluarga menyesuaikan tradisi dengan zamannya tanpa kehilangan jiwanya.
Sebagaimana dikatakan Ida Pedanda dalam salah satu dharma wacananya: “Kebenaran itu tidak kaku. Ia hidup di antara keikhlasan dan kebijaksanaan.”
Dan di setiap lawar, urutan, atau sesajen sayur, jika diolah dengan tulus, Galungan tetap akan terasa suci. BWN-01





























