Mangupura, baliwakenews.com
Mungkin belum banyak yang tahu ternyata di bawah tebing kawasan Pura Geger Dalem Pemutih, Desa Adat Peminge terdapat sebuah mata air yang disucikan. Mata air suci ini berada di pinggir Pantai Geger dengan rasanya yang payau.
Hal itu diungkapkan Bendesa adat peminge Made Warsa di sela-sela Prosesi Karya Mamungkah, Peduduasan Agung dan Ngenteg Linggih yang dilaksanakan di Pura tersebut, Kamis (19/12/2024).
Made Warsa memaparkan, diharapkannya kawasan Pura Geger Dalem Pemutih ini bisa menjadi daerah destinasi wisata ( DTW) unggulan sehingfa ke depannya masyarakat akan mendapatkan kesejahteraan secara lahir dan batin. Terlebih sudah dilakukannya penataan di sekitaran Pura Geger Dalem Pemutih ini.
Karenanya ke depan dia berharap perlu ditata kembali agar kelihatan lebih elok dan indah sehingga kawasan memenuhi standar pariwisata yang bisa lebih menjadi daya tarik wisatawan mancanegara atau dunia. Di wilayah Pura Geger Dalem Pemutih ini sambung dia, sangat memungkinkan untuk dikembangkan wisata religius.
Hal ini dikarenakan di area bawah di tepi pantai atau di bawah tebing terdapat mata air atau Tirta kelebutan yang selama ini memang berfungsi sebagai tempat pengelukatan atay penyucian diri serta pengobatan.
“Air suci ini juga dipakai untuk keperluan upacara yang dimohon oleh masyarakat dari berbagai daerah untuk kepentingan upacara Ngingsah apabila ada ada karya agung,” ungkapnya sembari menambahkan kalay rasa air suci ini seperti air payau walaupun berada di area pinggir laut.
Hal Ini kata dia, merupakan sebuah karunia bagi masyarakat Desa Adat Peminge yang nantinya juga bisa dikembangkan untuk kawasan wisata. Selain itu dia berharap melalui karya yang dilaksanakan di Pura tersebut vibrasi dari upacara ini akan mampu memberikan karunia yang luar biasa kepada seluruh masyarakat khususnya di Desa Adat Peminge.
Salah seorang tokoh masyarakat Peminge, Wayan Suwendra menambahkan wilayah selatan Kabupaten Badung ada beberapa destinasi wisata yang berada di wilayah desa adat. Desa Adat Peminge juga memiliki daerah yang menjadi ikon wisata. Dia berharap ke depan ikon wisata ini dikembangkan sehingga akan menjadi DTW unggulan.
Jika ini dikembangkan maka akan berdampak kepada pembangunan Bali secara keseluruhan. Termasuj terhadap Pendapat Asli Daerah juga akan meningkat. Hal ini tentunya dengan adanya penetapan melalui Perda atau Pergub.
“Mungkin ini menjadi satu-satunya di daerah Bali dimana ada sumber air suci yang rasa airnya masih payau. Maka dari itu ini harus disyukuri untuk dijaga dan dipelihara,” pungkas Suwendra. BWN-04































