Kuta, baliwakenews.com
Beberapa pria terpantau melewati sebuah jembatan reot dari kayu bekas yang dirakit terbentang di atas alur sungai belakang Cocoon Beach Club, Seminyak, Kuta. Jembatan kecil sepanjang puluhan meter itu dibangun melayang di atas sebagian lebar sungai. Usut punya usut ternyata jembatan dari kayu bekas tersebut adalah sebuah akses jalan satu-satunya menuju sebuah lahan kosong yang ada di belakang areal tersebut. Lahan kosong tersebut ditempati beberapa pria asal wilayah timur yang setiap hari melalui akses tersebut.
Mereka tinggal di sana karena diminta atau ditugaskan menjaga lahan tersebut oleh perwakilan pemiliknya. Diminta komentarnya, salah seorang di antara penjaga lahan tersebut Tarsisius Ketun (30), mengungkapkan kalau tracking atau jembatan yang dirakit memggunakan kayu bekas tersebut sudah dibangun bertahun-tahun silam lamanya. Hal ini dikarenakan lahan yang ditempati dan dijaga mereka sama sekali tidak memiliki akses lain untuk keluar masuk yang bisa dilalui. Dikarenakan sekeliling lahan tersebut kini sudah berdiri bangunan baru yang konon akan dipergunakan sebagai tempat akomodasi wisata. “Mau bagaimana lagi? Pemilik lahan katanya sudah berusaha untuk mendekati pemilik sebelah, tapi tetap tidak ada perkembangan,” ucap Tarsisius Ketun (30), Jumat (26/11/2021).
Jembatan kecil nan reot tersebut diakuinya cukup menyulitkan pihakmya dalam melakukan aktivitas. Seperti halnya ketika membawa air galon, yang harus amat berhati-hati akibat tracking yang riskan jebol. Namun mereka mengaku tidak punya pilihan lain dan terpaksa melalui jemebtan itu. Akibat akses yang sulit dan ekstrem tersebut pula yang diyakini menjadi salah satu penyebab rekannya akhirnya meninggal sekitar dua bulan lalu. Ketika itu rekannya yang beberapa hari mengalami sakit akhirnya harus kehilangan nyawanya ketika dilarikan ke rumah sakit karena sulitnya akses keluar dari lokasi.
“Almarhum sebenarnya adalah salah satu saudara yang bertahun-tahun bersama kami menjaga lahan ini. Di lahan ini, dia tinggal bersama anak dan istrinya. Namun sekitar dua bulan lalu dia mengalami sakit, sehingga harus segera kami larikan ke rumah sakit. Tapi sayang kami sepertinya sedikit terlambat, sehingga nyawa saudara kami itu tidak dapat tertolong. Dia didiagnosa mengalami serangan jantung,” ungkap Tarsisius Ketun didampingi dua rekan lainnya Benediktus Suni (34) dan Darius Ketun (22).
Diapun mengaku merasa amat bersalah akibat kejadian tersebut. Apalagi kepergian saudaranya tersebut meninggalkan istri dalam keadaan hamil 6 bulan. “Coba saja ada akses keluar masuk yang lebih baik, saya yakin nyawa saudara kami itu bisa tertolong. Tidak seperti saat itu, kami membutuhkan waktu lebih dari 20 menit untuk berjalan hanya sekitar 70 meter menuju ambulans yang sudah menunggu di jalan raya,” ujarnya lirih.
Perwakilan pemilik lahan, Pendeta Sephard Supit secara terpisah juga mengaku sangat menyayangkan dan meminta maaf atas kejadian tersebut. Pembukaan akses keluar masuk ke lahan tersebut, kata dia sesungguhnya sudah beberapa kali coba diupayakan. Bahkan pihaknya juga sudah bernegosiasi supaya ada pembukaan jalan di sana. Termasuk sempat dimediasi oleh Jro Bendesa setempat. Dimana hasil pembicaraan akan dibukakan akses beberapa meter. “Namun sampai sekarang nyatanya belum dibuka, bahkan justru ditembok,” ujarnya sembari mengaku tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Karenanya dia mengaku siap untuk melakukan negosiasi kembali agar ada jalan keluar yang didapat. “Kami berharap ada pihak-pihak berwenang yang ikut menaruh perhatian terhadap persoalan ini. Dan kami, tentu siap untuk dimediasi dan bernegosiasi kembali,” pungkasnya BWN-04































