Relawan Sudirta ‘’Door to door’’ Antarkan Bingkisan untuk Penyandang Disabilitas

Relawan Sudirta berikan bingkisan kepada Kadek Mertayasa yang Stunting dan lumpuh di Desa Pempatan

Karangasem, baliwakenews.com

Menjelang akhir tahun 2020, Anggota Komisi III DPR RI, Wayan Sudirta, berbagi bingkisan kecil untuk 20 orang penyandang disabilitas di tiga desa Kecamatan Rendang. Kepedulian terhadap penyandang disabilitas terus dibuktikan dengan berkeliling Bali membagikan bingkisan.

Relawan Sudirta yang terdiri dari Wayan Ariawan, Nyoman Sutaya dan Putu Wirata Dwikora, didampingi beberapa relawan dan Pengurus Ranting PDI Perjuangan desa setempat menyambangi langsung para penyandang disabilitas ini.

Kali ini desa yang disasar adalah Desa Besakih, Desa Pempatan, Desa Menanga, di Kecamatan Rendang. Bingkisan yang diberikan masing-masing berupa beras dan uang taliasih. Dua puluh penyandang disabilitas tersebut hidup sangat berat di rumah-rumah mereka yang terpencar, sebagian besar di tengah perkebunan di kaki Gunung Agung,

‘’Bingkisan kecil ini hanya dukungan dan simpati pada kehidupan dan perjuangan keluarganya yang tentu sangat berat merawat para penyandang disabilitas itu,’’ ujar Sudirta, saat menyerahkan bingkisan kepada Relawan sebelum turun ke lapangan, di Rumah Aspirasi DPR RI Denpasar.

Baca Juga:  Carry vs Fuso, Pengemudi Terjepit Begini Kronologisnya

Di Desa Pempatan diserahkan untuk 12 penyandang disabilitas, di Desa Besakih 4 penyandang dan di Desa Menanga 4 penyandang.

Mereka menjadi penyandang disabilitas dengan penyebabnya yang berbeda, ada yang memang sudah disabilitas sejak lahir mengalami ‘’stunting’’ dan gangguan pertumbuhan sehingga fisiknya lemah, tidak bisa bicara atau mendengar, juga tidak mampu beraktivitas, sehingga hidupnya membutuhkan perawatan orang lain. Kategori kedua, ada yang disabilitas setelah kecelakaan, diantaranya jatuh dari pohon, kecelakaan lalu lintas. Ketiga, ada yang karena stroke akhirnya tidak mampu beraktivitas, lumpuh dan lemas. Ada pula ibu muda yang menjadi cacat mental setelah keguguran dan lemah fisik sampai sekarang, ataupun ibu yang mengalami kebutaan tanpa diketahui sebabnya saat usianya 40-an tahun.

Baca Juga:  Tim UPP Saber Pungli Bali Sidak Pelabuhan Padangbai

Beberapa penyandang mendapat sumbangan dan bantuan dari yayasan kemanusiaan, berupa kursi roda, tempat tidur yang bisa digeser, sampai bantuan untuk pangan lainnya. Namun, jumlahnya memang jauh dari cukup, sehingga menggantungkan hidup dari keluarga.

‘’Kalau keluarganya miskin dan melarat, tentu sangat berat bagi mereka. Kita berharap pemerintah memperhatikan serius nasib warga yang seperti ini,’’ ujar Mangku Jana Relawan di Desa Menanga dan Komang Gunawan Relawan di Desa Pempatan.

Relawan Sudirta yang turun ke lapangan, sangat prihatin menyaksikan kondisi warga penyandang disabilitas tersebut. Apalagi, kebanyakan dari mereka dan keluarganya, hidup dalam tingkat ekonomi dan sosial yang berat dan rendah.

Seperti contoh gadis cilik Komang Artini (6), yang berpeluang untuk disembuhkan dari tungkainya yang lumpuh, hanya sesekali dirawat, karena kedua orangtuanya sangat miskin, dan hidup menumpang diatas tanah orang lain di Desa Pempatan. Ada juga Putu Alit (18), Kadek Mertayasa (18), Kadek Beni Artha (24), hanya tiduran, duduk saja di dapur atau yang cuma duduk diatas kursi roda, tanpa bisa melakukan kegiatan apapun, dan harus dirawat oleh orangtuanya.

Baca Juga:  Seorang Penyelam Hilang di Gili Tepekong Saat Lakukan Penelitian

Nengah Jadra (50) di Desa Pempatan dan Nengah Juliarta (47) di Desa Pempatan, keduanya lumpuh, dan kesulitan biaya pengobatan untuk penyembuhannya. Belum lagi Jadra mengalami komplikasi diabetes, selain lumpuh dan patah tulang, hingga hidupnya semakin menderita.

‘’Bingkisan kecil ini tidaklah seberapa. Mereka berharap, pemerintah hadir dengan program, karena untuk menyambung hidup, mereka sangat berat. Begitu juga soal pengobatannya,’’ pungkas Wayan Ariawan.*BWN-03

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: