Mangupura, baliwakenews.com
Pagi itu, angin laut membawa aroma asin yang akrab bagi warga pesisir Tanjung Benoa. Dari kejauhan, Pulau Pudut terlihat samar, lebih kecil dari yang diingat warga tua desa. Pasir yang dulu membentuk garis pantai kini hilang sedikit demi sedikit, bahkan nyaris tinggal kenangan tergantikan oleh air laut yang semakin maju.
“Dulu, waktu saya kecil, pulau itu jauh lebih lebar. Sekarang, tiap tahun terasa makin menyusut,” cerita seorang nelayan sambil menunjuk ke arah pulau kecil itu. Kekhawatiran seperti inilah yang akhirnya mendorong Pemerintah Kabupaten Badung untuk bertindak. Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bidang Sumber Daya Air (SDA), mereka memulai langkah penyusunan Detail Engineering Design (DED) Konservasi Teluk Benoa.
Selasa (12/8/2025), di Aula Kantor Lurah Benoa, para tokoh desa adat dari Bualu, Tanjung Benoa, dan Terora duduk bersama. Gambaran, citra satelit, dan rencana awal diputar dalam sebuah slide diiringi suasana serius, namun penuh harap.
“Kami sudah menunjuk tim konsultan untuk mengkaji kondisi di Pulau Pudut. Hasilnya jelas, terjadi abrasi signifikan. Rencana awalnya, kita akan normalisasi alur laut, mengangkat sedimen yang menumpuk, lalu menempatkannya kembali di sekitar Pulau Pudut,” ujar Sastrawan Wiguna, perwakilan Tim SDA PUPR Badung.
Namun, langkah itu tak bisa dilakukan begitu saja. Ada regulasi tata ruang yang perlu disesuaikan. Karena itu, masukan dari desa adat menjadi kunci. “Kita ingin rencana ini matang, karenanya kami mengharpkan masukan dari Jro Bendesa dan para tokoh,” tambahnya.
Bendesa Adat Tanjung Benoa, I Made Wijaya, yang akrab disapa Yonda, tak segan menyuarakan pendapat. “Pulau Pudut wajib diselamatkan. Kalau dikembalikan seperti semula, akan ada manfaat nyata bagi masyarakat pesisir. Apalagi kita punya mangrove di Tanjung, bisa jadi kawasan konservasi terpadu,” katanya.
Yonda bahkan membayangkan Pulau Pudut sebagai destinasi wisata berbasis konservasi, dikelola dengan filosofi Tri Hita Karana, harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. “Jangan dibiarkan telantar. Kelola bersama desa adat, agar pulau ini terjaga dan memberi manfaat,” ujarnya mantap.
Rapat hari itu memang baru langkah pertama, tapi suasana optimisme terasa. Para pemangku kepentingan sepakat, Pulau Pudut bukan hanya sebidang tanah di tengah laut, melainkan warisan alam yang layak diperjuangkan.
Jika rencana ini berjalan, suatu hari nanti anak-anak di pesisir Tanjung Benoa mungkin bisa melihat Pulau Pudut seperti dulu dengan pasirnya putih, bentuknya utuh, dan menjadi tempat di mana alam, budaya, dan ekonomi berjalan beriringan. BWN-04


































