Pulau Pudut, Jejak Pulau Kecil yang Nyaris Hilang Ditelan Abrasi di Tanjung Benoa

Iklan Home Page

Mangupura, baliwaknews.com

Tanjung Benoa dikenal sebagai pusat olahraga air di Bali. Namun di balik riuhnya wisata banana boat, parasailing, dan jet ski, ada kisah tentang sebuah pulau kecil yang pernah menjadi bagian penting dari lanskap kawasan ini, Pulau Pudut. Kini, pulau itu hanya tersisa dalam ingatan, hilang ditelan abrasi dan perubahan garis pantai.

Pulau Pudut dulunya terletak tak jauh dari ujung semenanjung Tanjung Benoa. Ukurannya kecil, hanya beberapa hektare, namun cukup menonjol karena berada di jalur perairan yang ramai dilintasi nelayan maupun wisatawan.

Bagi warga lokal, Pulau Pudut punya makna tersendiri. Ia kerap dijadikan tempat singgah nelayan, area beristirahat. “Dulu kalau mancing, kami sering istirahat di sana. Pulau itu jadi penanda bagi warga Tanjung Benoa,” kenang I Wayan Dharma, salah seorang warga setempat.

Baca Juga:  DPRD Bali Gelar Rapat Rumuskan Kode Etik, Dewan Usulkan Paripurna Bisa Diikuti dengan Zoom

Namun sejak beberapa dekade terakhir, Pulau Pudut mulai tergerus ombak. Gelombang laut, ditambah aktivitas pembangunan di sekitar Teluk Benoa, membuat daratannya semakin menyusut. Hingga akhirnya, Pulau Pudut benar-benar hilang dan yang tersisa hanyalah pasir laut dan kenangan.

Menurut catatan tokoh adat Tanjung Benoa, Made Wijaya, abrasi yang menghancurkan Pulau Pudut juga mengubah dinamika ekologi kawasan pesisir. Hilangnya pulau kecil ini berdampak pada hilangnya habitat biota laut tertentu dan memperbesar risiko abrasi lanjutan di pesisir sekitarnya.

Hilangnya Pulau Pudut kini menjadi simbol nyata bagaimana pesisir Bali menghadapi ancaman abrasi. Tanjung Benoa, yang dikenal indah dengan pasir putih dan aktivitas baharinya, tidak lepas dari tantangan perubahan lingkungan akibat faktor alam maupun ulah manusia.

Baca Juga:  PPTI Kabupaten Badung Kampanyekan Kolaborasi Bersama Penanggulangan TBC

“Pulau Pudut mengingatkan kita bahwa daratan bisa lenyap jika tidak dijaga. Ini pelajaran penting bagi generasi sekarang,” ujar Made Wijaya pada suatu kesempatan.

Meski Pulau Pudut sudah hilang, masyarakat Benoa masih menyimpan kenangan kuat tentang keberadaannya. Ada harapan suatu hari dilakukan upaya konservasi pesisir, mulai dari penanaman mangrove, penataan kembali kawasan pantai, hingga pembangunan tanggul alami agar kejadian serupa tidak menimpa daratan lain di sekitar Tanjung Benoa.

Pulau Pudut memang telah hilang secara fisik, namun kisahnya tetap hidup sebagai pengingat, laut bisa memberi kehidupan, tapi juga bisa merenggut daratan. Tanjung Benoa kini tak lagi memiliki Pulau Pudut, tetapi kenangannya menjadi warisan tak ternilai tentang dinamika alam dan pentingnya menjaga garis pantai Bali.

Baca Juga:  Diberi Kesempatan Pamerkan Produk Dalam Pesta Rakyat HUT Ke-14 Mangupura, UMKM Badung Ucapkan Terimakasih

Harapan baru belakangan muncul dari Pemkab Badung yang berencana melalukan konservasi terhadap keberadaan pulau ini.

Bahkan pemaparan terkait rencana ini, sempat dilakukan Dinas PUPR Badung. “Harapan kami hal ini bisa segera terealisasi sehingga keberadaan Pulau Pudut bisa dilestarikan kembali,” harap Tokoh yang juga Bendesa Adat Tanjung Benoa ini. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR