PKM Unwar Tingkatan Produksi Kelompok Tani Ternak Kelinci

Bedugul, baliwakenews.com

Guna membantu kelompok tani ternak di Kawasan Bedugul dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam memanfaatkan kotoran kelinci baik padat maupun cair, Program Kemitraan Masyarakat Universitas Warmadewa (PKM Unwar) melaksanakan pelatihan kepada Kelompok Tani Ternak “Lestari”, beberapa waktu lalu. PKM mengajak Kelompok Tani untuk meningkatkan kreativitas dan inovasinya dengan meningkatkan kemampuan kelompok menjadikan produk pupuk padat dan cair sesuai harapan.

PKM dilaksanakan oleh Tim Akademisi FP-Unwar tersebut terdiri dari Ir.A.A.Ngr.Mayun Wirajaya,MM., Ir.Made Sri Yuliartini,MSi., dan Dr. I Gusti Agus Maha Putra Sanjaya,SP.,MM. dan dibantu oleh 3 orang mahasiswa PS.Agroteknologi FP-Unwar.

Ketua Tim Ir.A.A.Ngr.Mayun Wirajaya,MM. dalam penyuluhan dan praktek lapang Sabtu 1 Juni 2024, memaparkan sebagian besar masyarakat Desa Candi Kuning menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, peternakan, perkebunan. Di sektor pertanian, komoditas yang dikembangkan oleh petani sebagian besar berupa tanaman hortikultura yang tumbuh dan berkembang dengan baik sangat didukung oleh iklim disekitarnya. Sebagian besar petani menanam tanaman hortikultura berupa kentang, broccoli, selada, wortel, paprika, bawang daun prei dan lainnya.

“Bekerja di sektor pertanian menjadi mata pencaharian sumber penghidupannya dengan tanaman yang dibudidayakan di lahan milik petani maupun lahan sewa, membutuhkaan pupuk untuk meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman. Saat ini petani masih mempergunakan pupuk organik dan an organik,” ungkapnya.

Sampai saat ini, pupuk organik yang digunakan pupuk kandang ayam yang dalam pemenuhan luasan penanaman sebagian besar dibeli dari luar daerah Desa Candi Kuning, sedangkan potensi pengembangan kelinci di Desa Candi Kuning sebagai sumber pupuk sangat potensial masih kurang dimanfaatkan oleh petani.

Baca Juga:  Wabup Suiasa Sampaikan 4 Ranperda Dalam Rapat Paripurna DPRD Badung 

Melihat masih banyaknya potensi limbah dari hewan yang dapat dipakai sebagai pupuk organik dan cukup besarnya kebutuhan akan pupuk organik. Maka kelinci yang cukup banyak dipelihara oleh petani ternak kelinci di wilayah Desa Candi Kuning menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pupuk organik dari limbah kelinci sangat terbuka lebar.

“Tercatat jumlah kelinci di Desa Candi Kuning 1.164 ekor yang dikembangkan oleh beberapa peternak yang sebagian besar mencari anak kelinci untuk dijual. Mereka belum mengolah kotoran kelinci sebagai sumber pupuk organik dengan intensif,” ujarnya.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan bahwa permintaan akan pupuk kandang kelinci padat yang semakin meningkat. Disisi lain beberapa permasalahan yang dihadapi mitra yaitu limbah kotoran kelinci dari hasil budidaya kelinci untuk pemenuhan permintaan masih kekurangan dan perlu rumah penjemuran untuk bahan yang diolah, perlu perbaikan tempat fermentasi, efisiensi dan efektivitas fermentasi dengan compost bag, belum dimilikinya peralatan dan bahan untuk melakukan pengolahan, anggota kelompok perlu ditingkatkan pemahamannya terhadap proses fermentasi limbah kotoran kelinci untuk mutu yang lebih baik dan faktor penunjang lainnya.

Untuk itu Tim Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa mengajak Kelompok Tani Ternak “Lestari” untuk meningkatkan kreativitas dan inovasinya dengan meningkatkan kemampuan kelompok menjadikan produk pupuk padat dan cair sesuai harapan.

Baca Juga:  Membuat Berita Lingkungan Menjadi "Seksi" Puluhan Wartawan Mendapat Pelatihan

“Kotoran kelinci padat dan cair dapat lebih bermanfaat bila dijadikan produk yang berkualitas, memenuhi kebutuhan pasar/kuantitas lebih banyak dan dapat tersedia secara kontinu,” tutur Ir. AA.Ngurah Mayun Wirajaya, MM.

Pupuk padat khususnya yang dibutuhkan pasar selama ini belum dapat memenuhi kuantitas karena masih terkendala dengan rumah pengeringan dan sempitnya lahan yang dimiliki oleh peternak yang berpengaruh pada ketersediaan bahan baku untuk difermentasi lebih banyak.

“Peningkatan kuantitas bahan baku untuk difermentasi dapat ditingkatkan dengan menyediakan rumah pengeringan dimana dengan ditambahnya rumah pengeringan akan membantu kelompok mitra untuk menyiapkan bahan baku lebih banyak dan lebih cepat serta dapat menambah produksi setiap bulannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani peternak,“ kata Mayun Wirajaya.

Mayun Wirajaya bersama tim mengungkapkan dengan menyiapkan dan mengolah bahan baku dengan baik pada kondisi lahan kegiatan yang sempit dapat pula memanfaatkan alat-alat yang ada di pasar antara lain compost bag dengan daya tampung 200 kg. Ini guna meningkatkan efisiensi lahan yang dibutuhkan sehingga produksi akan dapat memenuhi pasar.

Ditambahkan bahwa meningkatkan efisiensi dari kotoran padat kelinci yang ketersediaannya terbatas maka dilakukan penambahan bahan padat sapi dan ayam yang jumlahnya melimpah namun memberi manfaat yang lebih besar bila diberikan secara tunggal melalui proses fermentasi selama 3-4 minggu di kompos bag dan selanjutnya akan dilakukan kembali uji kualitas pupuk.

Baca Juga:  Lakukan 3 M dan Hindari 3 R Cegahan Covid-19

“Urin kelinci sebagai bagian kotoran yang sangat bermanfaat sebagai pupuk ditingkatkan kualitasnya dengan menambahkan rumput bintang yang mudah didapat disekitar lokasi kegiatan melalui proses fermentasi selama 3-4 minggu. Untuk mengetahui kandungan unsur haranya selanjutnya akan dilakukan uji laboratorium,” ujar Mayun Wirajaya didampingi tim.

Ketua Kelompok Tani Ternak “Lestari”, Kadek Sutama mengaku sangat bersyukur atas penyuluhan, praktek lapangan dan bantuan bahan/alat langsung yang diberikan oleh Tim Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa dalam mengelola 75 ekor kelincinya. Selain menambah pengetahuan dari penyuluhan, praktek lapang, penambahan bahan/alat diharapkan akan dapat meningkatkan produksi pupuk padat dari yang sebelumnya hanya 1,5-2 ton per bulan menjadi 3-4 ton per bulan. Saat penyuluhan juga diberikan materi bagaimana pengemasan yang baik, penguatan lembaga, dan pemasaran.

Ia mengakui saat ini telah terjadi peningkatan penggunaan pupuk organik padat maupun cair kelinci pada petani sekitar lokasi Bedugul /Baturiti maupun diluar daerah sebagai pupuk organik dalam mensubstitusi penggunaan pupuk anorganik sehingga menambah semangat untuk meningkatkan kemampuan produksi pupuk padat utamanya yang banyak diminta pasar.

“Kami berharap pembinaan oleh Tim FP-Unwar pada kelompok dapat berlanjut tahun berikutnya sehingga dapat mengisi pasar lebih luas dan bersaing dengan produk pupuk organik yang sudah ada di pasar POP,” pungkasnya. BWN-03

RELATED ARTICLES
- Advertisment -Iklan Idul Fitri DPRD BadungIklan Idul Fitri DPRD BadungIklan Idul Fitri PDAM BadungIklan SMSIIklan Lapor Pajak Poling Badung Poling Badung