PKM Unwar Bantu Petani Peternak Kelinci di Desa Candikuning untuk Pengolahan POP dan POC

Iklan Home Page

Tabanan, baliwakenews.com

Tim Program Kemitraan Masyarakat Universitas Warmadewa ( PKM Unwar) yang diketuai Ir. Anak Agung Ngurah Mayun Wirajaya, MM., kembali melaksanakan pengabdian Pengembangan Pupuk Organik Berbasis Kotoran Kelinci Pada Kelompok Tani Ternak di Desa Candikuning-Kecamatan Baturiti, Tabanan-Bali. Kali ini tim melakukan pendampingan dan praktek lapangan alih teknologi pembuatan POP (Pupuk Organik Padat) dan POC (Pupuk Organik Cair).

AA. Mayun memaparkan sebelumnya pada 15 Desember 2022 telah dilakukan penyuluhan dan praktek dilapang sehingga petani peternak anggota kelompok Lestari telah mampu mengadopsi materi yang diberikan untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Dalam kesempatan pertemuan diberikan bagaimana membudidayakan kelinci dengan baik dan benar mulai dari pakan, kandang, penyakit dan lainnya sehingga dengan kelinci yang sehat akan mendapatkan bahan untuk pupuk organik padat dan cair yang bermutu.

“Alih teknologi tentang pengolahan limbah padat dan cair kami sampaikan kepada petani peternak. Demikian juga untuk bersaing dipasar kami sampaikan tentang materi kemasan yang berlabel dapat memberi citra positif pada produk yang dihasilkan, ” ucap AA Mayun.

Bersama anggota Tim PKM Ir. Made Sri Yuliartini, M. Si., dan Dr. Ir. I Gusti Agus Maha Putra Sanjaya, M. Si., kembali melaksanakan pengabdian dari Hibah Kemendikbud Ristek
Kegiatan Kemandirian Masyarakat (KKM) dengan pendampingan dan praktek lapang alih teknologi pada 21 Desember 2022. Pada kesempatan tersebut telah dicoba proses penggilingan dengan mesin penggiling bahan pupuk organik padat yang telah dikeringkan untuk mendapatkan bahan yang dapat dikemas langsung atau dilakukan proses fermentasi untuk didapatkan pupuk yang lebih banyak jumlahnya dan lebih bermutu.

Lebih lanjut dikatakan Tim PKM Unwar melihat masih banyaknya potensi limbah dari hewan dan cukup besarnya kebutuhan akan pupuk organik, maka kelinci yang cukup banyak dipelihara oleh petani ternak kelinci di Candikuning menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pupuk organik dari limbah kelinci sangat terbuka lebar. Tercatat jumlah kelinci di Desa Candikuning 1.164 ekor. Walaupun keberadaan kelinci dan kotorannya cukup tersedia, namun masih kurang mendapat perhatian dari petani untuk memanfaatkannya sebagai sumber pupuk organik.

Baca Juga:  KONI Tabanan Ingin GOR Debes Utara Jadi Magnet Event Olahraga Bergengsi

Pupuk organik cair yang berasal dari urin kelinci mempunyai kandungan unsur hara yang cukup tinggi yaitu N 4%, P2O5 2,8%, dan K2O 1,2% relatif lebih tinggi daripada kandungan unsur hara pada sapi (N 1,21%, P2O5 0,65%, dan K2O 1,6%) dan kambing (N 1,47%, P2O5 0,05%, dan K2O 1,96%) . Selain urin kelinci kandungan feses kelinci dimana satu ekor kelinci yang berusia dua bulan lebih, atau yang beratnya sudah mencapai 1 kg akan menghasilkan 28,0 g kotoran lunak per hari dan mengandung 3 g protein serta 0,35 g nitrogen dari bakteri atau setara 1,3 g protein. Pemakaian pupuk organik perlu ditingkatkan dan mendapat prioritas tidak hanya untuk meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga untuk membantu menciptakan agroekosistem yang berkesinambungan dan aman bagi kesehatan manusia.

Perkembangan produksi berbagai jenis pupuk organik dimasyarakat saat ini memunculkan persaingan yang begitu ketat di pasar dan berpengaruh terhadap produksi pupuk kelinci di Desa Candikuning. Ketersediaan pupuk dengan kemasan yang baik akan lebih mudah disalurkan dan diminati pasar. Pengemasan mempunyai peranan dan fungsi yang penting dalam menunjang distribusi produk terutama yang mudah mengalami kerusakan. Diharapkan dengan ketersediaan kemasan yang sudah memadai akan dapat menembus pasar di luar Desa Candikuning

Baca Juga:  Komit Tangani Pencegahan Stunting, Pemkab Tabanan Sukses Sabet 2 Juara Pertama Tingkat Nasional

Pelaksanaan PKM Unwar yang bermitra dengan Kelompok Tani Ternak “LESTARI” yang terdiri dari 5 anggota dan diketuai oleh Kadek Sutama dengan jumlah kelinci dipelihara sebanyak 65 ekor dengan kandang yang sederhana. “Program ini kami arahkan pada usaha pemanfaatan kotoran kelinci dengan baik, tersedianya mesin penggiling kotoran padat kelinci dan alat pengemas, kemasan dengan labeling produk, terbangunnya rumah tempat penggilingan, serta usaha/bisnis kotoran kelinci dalam bentuk POP (Pupuk Organik Padat) dan POC (Pupuk Organik Cair), ” ungkapnya.

Memanfaatkan kotoran kelinci yang sebelumnya tidak dipandang merupakan pekerjaan harapan dalam mengisi waktu yang menguntungkan. Dengan adanya pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Kemendikbud Ristek pada masyarakat Desa Candikuning di kelompok tani ternak “Lestari” akan mengalami perubahan dibidang budidaya tanaman dan mengolah sumberdaya alam terutama kelinci dengan memanfaatkan kotorannya secara maksimal.

Alih teknologi tentang pengolahan limbah padat dan cair yang telah sampaikan dan cara bersaing dipasar terkait kemasan yang berlabel dapat memberi citra positif pada produk yang dihasilkan. Selain itu juga telah diadakannya dan disumbangkan bangunan pengoperasian mesin penggiling kotoran padat kelinci dan mesin gilingnya, alat pengemasan/pres untuk kemasan, kemasan yang berlabel untuk pupuk organik padat dan cair, timbangan yang memadai, pemasangan talang sebagai penampung kotoran padat dan cair yang jatuh dari kandang, gentong penyimpan urin, dan alat serta bahan pendukung lainnya.

“Setelah praktek proses penggilingan dengan mesin penggiling bahan pupuk organik padat yang telah dikeringkan untuk mendapatkan bahan yang dapat dikemas langsung atau dilakukan proses fermentasi untuk didapatkan pupuk yang lebih banyak jumlahnya dan lebih bermutu. Didapatkan bahwa dengan adanya mesin penggilingan dapat menyediakan lebih cepat dan lebih banyak bahan pupuk padat dari kotoran kelinci untuk dikemas setelah penggilingan maupun yang akan difermentasi, ” tukasnya.

Baca Juga:  Peringatan Hari Jadi Provinsi Bali ke-65, Bupati Sanjaya Tabur Bunga di TMP Pancaka Tirta

Kemasan yang telah berlabel dipakai untuk mengemas hasil pupuk padat yang isinya telah ditimbang sesuai kemampuan kemasan dan dikemas/ditutup dengan alat pengemas/sealer.
Selain itu talang penampung kotoran kelinci padat dan cair yang telah dibuat baru, memungkinkan kotoran tertampung lebih banyak dan tidak hilang begitu saja dimana telah dialirkan ke ember penampung yang ada di hilir. Untuk pupuk organik cair dari urin kelinci setelah ditampung di ember penampungan akan dikumpulkan pada gentong yang lebih besar. Selanjutnya dilakukan proses fermentasi selama 2-3 minggu dan setelah dipanen dikemas dengan menggunakan botol plastik yang berlabel untuk dipasarkan diluar daerah karena lebih mudah dalam pengangkutan untuk dipasarkan atau dijual pada petani/masyarakat dalam bentuk yang belum difermentasi.

“Semua kegiatan pengolahan dan pengemasan dapat dilakukan dibangunan tempat mesin penggiling dan produk yang telah dikemas disimpan di tempat itu, ” tukas AA. Mayun.

Bantuan yang diberikan dari Program Kegiatan Kemandirian Masyarakat (KKM) yang dilaksanakan oleh tim Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, telah dirasakan manfaatnya begitu besar memperlancar usaha kelompok sehingga harapan kelompok mitra dan anggotanya produk yang dihasilkan dapat mempunyai kualitas, kuantitas dan kontinuitas produksi sehingga dapat bersaing di pasar dengan produk-produk pupuk organik lainnya. Dengan demikian penghasilan petani peternak dapat meningkat dan memberi tambahan yang dapat mensejahterakan anggotanya.*BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR