Denpasar, baliwakenews.com – Di sebuah ruang kelas di Denpasar, uang kas sempat menjadi bara kecil yang nyaris membakar suasana. Siswi berinisial C, 14 tahun, mendadak jadi sorotan publik setelah unggahan di media sosial menyebutnya sebagai korban perundungan.
Narasi yang muncul begitu cepat, seorang anak dirundung karena latar belakang keluarganya. Tapi seperti banyak hal di dunia anak-anak, kebenaran kadang tak sesederhana yang terlihat.
Sekolah tempat C menimba ilmu, SMP PGRI 7 Denpasar, memilih angkat suara. Komang Jumantari, guru bimbingan konseling sekaligus wali kelas C, menyebut peristiwa itu sebagai konflik ringan antar teman sekelas. Awalnya, kata Jumantari, semua bermula dari hal yang biasa, yakni iuran mingguan untuk kas kelas.
“Awalnya karena urusan uang kas. A sempat keberatan saat ditagih, namun dia akhirnya tetap membayar,” tutur Jumantari saat ditemui, Sabtu (10/5). A adalah siswa yang merasa tersinggung ketika ditagih oleh bendahara kelas yang kebetulan adalah sahabat dekat C.
Di jam istirahat, A mendatangi bendahara kelas untuk memprotes sikapnya. Ketika itu, bendahara tidak sendiri. C dan satu teman lain tengah menemaninya. Perdebatan kecil pun terjadi. Suara meninggi, lalu baju saling tertarik. Tidak ada tamparan, tidak ada pukulan. Hanya empat siswa yang terlibat. Tapi gesekan yang terjadi cukup untuk membuat ramai satu sekolah dan belakangan, dunia maya.
“Ini murni persoalan komunikasi antar teman yang sudah akrab,” kata Jumantari. Ia menegaskan, tidak ada luka serius. Hanya nyeri ringan di bibir yang segera ditangani. Tak ada air mata di ujung cerita itu, hanya kejanggalan yang terlalu cepat dibumbui oleh asumsi.
Begitu guru mengetahui insiden tersebut, para siswa langsung dipanggil ke ruang guru. Di sana, mereka dimediasi. Tidak ada permusuhan yang mengakar. Tidak ada dendam yang tertinggal. Mereka sepakat untuk menyudahi.
Namun, dunia digital kadung bergerak lebih cepat daripada ruang guru. Sebuah narasi lain telah lebih dulu menyebar: C disebut dirundung karena latar belakang keluarga. Isu sensitif ini langsung ditepis oleh pihak sekolah. “Tidak ada ucapan atau laporan dari siswa lain mengenai hal itu,” ujar Jumantari.
Meski secara internal masalah telah diselesaikan secara damai, proses penyelidikan oleh aparat kepolisian tetap berjalan. Orang tua siswa, pihak yayasan, polisi, dan lembaga perlindungan anak telah duduk bersama dan menandatangani surat pernyataan bersama.
Kini, sekolah tengah mempertimbangkan untuk memindahkan beberapa siswa ke kelas berbeda demi mencegah konflik lanjutan. Tapi keputusan itu belum final.
“Kami berharap publik tidak terburu-buru menilai tanpa mengetahui kejadian sebenarnya,” tutup Jumantari. Dalam suara sang guru, ada kelelahan yang samar. Sebab di balik setiap unggahan dan komentar, ada remaja-remaja yang masih belajar tentang perbedaan, tentang marah, dan tentang damai. BWN-01

































