Mangupura, baliwakenews.com
Penanganan abrasi Pantai Kuta oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida sedang berjalan. Hal ini juga sesuai dengan harapan tokoh Kuta mengingat abrasi yang terjadi cukup parah. Namun demikian Desa Adat Kuta berharap penanganan abrasi ini bisa bertahan berguna untuk jangka panjang.
Harapan ini dilontarkan Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana. Menurut Alit Ardana, karakter ombak Pantai Kuta yang relatif keras memerlukan penanganan yang maksimal agar abrasi tidak terulang kembali.
Mengingat pengalaman sebelumnya di tahun 2006 lalu, seusai dilakukan penataan dengan pengsian pasir ternyata kembali terjadi abrasi karena pasirnya kembali hanyut dan hilang terbawa arus.
Karenanya, harapan desa adat agar Breakwater dibangun terlebih dahulu. “Berikutnya baru dilanjutkan dengan pembangunan senderen penahan pasir. Setelah itu barulah dilakukan pengisian pasir agar kondisi pantai kembali normal,” ujarnya Jumat (25/4/2025).
Sejauh ini koordinasi dengan pihak proyek kata dia berjalan dengan baik dan sesuai yang diharapkan. “Sebab dulu pernah dilakukan pengisian pasir sekitar tahun 2006, akhirnya kembali ditarik oleh air. Kami harapkan dalam proyek kali ini tidak terjadi lagi. Karenanya diawali pembangunan breakwater dan senderan sebelum diisi pasir,” sarannya sembari menambahkan dengan dibangunnya breakwater nantinya juga akan memecah ombak ke darat sehingga tidak menggerus pasir yang ada.
Terkait pengaruh pembangunan breakwater terhadap kegiatan peselancar, Alit Ardana menegaskan pembangunan penangkal gelombang ini hanya sampai di depan kantor Satgas Pantai Kuta, sehingga di kawasan sisi utara ombak untuk kegiatan selancar tidak akan terganggu.
Dari informasi yang didapatnya, rencananya proyek ini dikerjakan dua tahun dan selesai pertengahan atau akhir 2026. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pimpinan proyek guna memastikan apa yang menjadi harapan desa adat bisa terpenuhi. BWN-04
































