Kutuh, baliwakenews.com
Malam pengerupukan di Desa Kutuh tahun ini berlangsung penuh semarak. Parade ogoh-ogoh yang digelar sehari sebelum Hari Raya Nyepi sukses menyedot perhatian masyarakat hingga wisatawan mancanegara.
Bendesa Adat Kutuh, Jro Nyoman Mesir, mengaku bangga atas kelancaran pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai antusiasme warga sangat tinggi, terlihat dari partisipasi setiap banjar yang menampilkan ogoh-ogoh terbaiknya, lengkap dengan atraksi kreatif dari sekaa teruna-teruni.
“Setiap banjar ikut ambil bagian. Ini menunjukkan semangat gotong royong dan kreativitas generasi muda kita sangat luar biasa. Ke depan tentu kita harapkan bisa lebih baik lagi,” ujar Nyoman Mesir.
Menurutnya, parade ogoh-ogoh bukan sekadar hiburan bagi masyarakat lokal, tetapi juga menjadi tontonan menarik bagi wisatawan yang sedang berlibur di kawasan Kutuh. Hal ini sejalan dengan posisi Desa Kutuh sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Badung Selatan.
“Ini memberi dampak positif bagi pariwisata desa. Budaya tetap lestari, ekonomi juga ikut bergerak,” tambahnya.
Sementara itu, Perbekel Desa Kutuh menegaskan bahwa parade ogoh-ogoh merupakan ruang ekspresi bagi generasi muda dalam berkarya. Ke depan, pihak desa berkomitmen menyediakan wadah yang lebih representatif agar kreativitas tersebut bisa berkembang lebih maksimal.
“Kami ingin memberi ruang yang lebih baik bagi anak-anak muda untuk berkreasi, sekaligus melibatkan UMKM agar kegiatan seperti ini juga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Nyepi kepada umat Hindu yang merayakan, seraya mengajak masyarakat menjalankan tapa brata penyepian dengan penuh makna.
Daya tarik parade ogoh-ogoh Kutuh juga dirasakan langsung oleh para wisatawan. Pengpeng, wisatawan asal China yang baru pertama kali menyaksikan tradisi ini, mengaku terkesan.
“Sangat luar biasa. Saya bangga bisa melihat pertunjukan ini untuk pertama kalinya,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Stevan, wisatawan asal Jerman yang telah lama tinggal di Bali. Ia menilai setiap parade ogoh-ogoh selalu memiliki keunikan tersendiri.
“Saya sudah 29 tahun di Bali dan sering menonton ogoh-ogoh. Selalu unik dan berkesan, termasuk yang di Kutuh ini,” katanya.
Dengan kolaborasi kuat antara desa adat, pemerintah desa, generasi muda, dan masyarakat, parade ogoh-ogoh di Kutuh tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga panggung budaya yang memperkuat identitas lokal sekaligus mendukung pariwisata berkelanjutan. BWN-04

































