Pandemi Covid-19 Ekonomi Bali Terendah Secara Nasional

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis dan Pariwisata Universitas Hindu Indonesia, Putu Krisna Adwitya Sanjaya, SE.,M.Si.

Denpasar, baliwakenews.com

Tahun 2020 perekonomian Bali sangat terpukul akibat hantaman pandemi Covid-19. Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis dan Pariwisata Universitas Hindu Indonesia, Putu Krisna Adwitya Sanjaya, SE.,M.Si., memaparkan perekonomian Bali terjun bebas dari 1,7 persen di triwulan 1 kemudian menjadi 11 dan 12,2 persen di triwulan 2 dan 3 tahun 2020.

“Bila dirata -ratakan pertumbuhan ekonomi Bali memang dibawah nasional bahkan terendah secara nasional,” tukas Putu Krisna, Minggu 28 Februari 2021.

Pandemi Covid-19 meluluh lantahkan berbagai sektor yang selama ini menjadi lokomotif perekonomian Bali seperti sektor pariwisata. Pertumbuha ekonomi Bali terendah di Indonesia yakni sebesar minus 9, 31 persen diatas Bali ada Kepulauan Riau minus 3,80, banten minus 3,38 persen, sedangkan 3 provinsi yang pertumbuhan ekonominya positif adalah Maluku (4,92%), Sulawesi Tenggara (4,86%) dan Papua (2,3 %).

Sedangkan pertumbuhan Ekonomi Indonesia di level minus 2,07 persen terkontraksi cukup dalam bila dibandingkan tahun 2019 dan 2018 masing-masing 5,02 persen dan 5, 17 persen.

“Indikator lainnya seperti jumlah pengangguran di Bali pada Agustus 2020 sebanyak 144,5 ribu orang. Angka ini naik 267,8 persen dari Agustus 2019 yang jumlah penganggurannya 39,3 ribu orang,” ungkapnya.

Peningkatan pengangguran ini menurut Putu Krisna juga seiring dengan bertambahnya jumlah angkatan kerja sebesar 2,38 persen menjadi 2,6 juta. Bila dilihat dari tingkat pengangguran terbuka juga bertambah 4,06 persen dari 1,57 persen pada Agustus 2019 menjadi 5,63 persen pada Agustus 2020.

“Peningkatan pengangguran ini juga diiringi oleh peningkatan kemiskinan bila dicermati selama periode Maret – September 2020, persentase penduduk miskin di perkotaan tercatat mengalami peningkatan, dari 3,33 persen pada Maret 2020 menjadi 4,04 persen pada September 2020,” katanya.

Hal serupa juga terjadi di pedesaan, tercatat persentase penduduk miskin mengalami peningkatan dari 4,78 persen pada Maret 2020 menjadi 5,40 persen pada September 2020. Garis kemiskinan juga tercatat naik dikisaran 1,94 persen, dari Rp 429.834 per kapita per bulan pada Maret 2020 menjadi Rp 438.167 per kapita per bulan pada September 2020. Hal tersebut merupakan warning untuk segera dilakukan akselerasi dan pengintensiffan langkah-langkah maupun upaya- upaya riil untuk pemulihan agar perekonomian Bali tidak terperosok lebih dalam.

Hantaman Covid -19 ini memang mempengaruhi secara langsung perekonomian Bali yang sangat bertumpu pada sektor tersier utamanya pariwisata. “Harus bergerak bersama, berkomitmen bersama antara seluruh komponen jangan ada lagi ego- ego sektoral. Hal berikutnya yang sekiranya mampu memperbaiki agar ekonomi Bali tidak terperosok lebih dalam lagi adalah dilanjutkannya proyek- proyek swasta yang sebelumnya sempat terhenti karena covid, belanja pemerintah termasuk yang terkait dengan penanganan covid,” tandasnya.

Bali, imbuh Putu Krisna, sudah ditetapkan menjadi daerah super prioritas penanganan covid yang tentu akan menjadi “laverage” stimulus untuk dongkrak laju pertumbuhan ekonomi Bali.*BWN-03

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: