Mangupura, baliwakenews.com
Festival Ogoh-Ogoh 2026 di GWK Cultural Park menjelma menjadi panggung bergengsi bagi para seniman muda Bali untuk adu kreativitas. Sebanyak 15 banjar di Kecamatan Kuta Selatan tampil all out, menghadirkan ogoh-ogoh terbaik dengan konsep kuat, detail rumit, dan pesan filosofis yang mendalam.
Sejak sore hari, atmosfer kompetisi sudah terasa saat parade dimulai di area Festival Park. Satu per satu ogoh-ogoh raksasa diarak dengan iringan gamelan, disambut sorak penonton yang memadati kawasan. Bukan sekadar tontonan, setiap karya seolah “berbicara”, menampilkan interpretasi unik tentang bhuta kala hingga figur mitologis dengan sentuhan artistik modern.
Puncak persaingan terjadi di kawasan Mandalaloka, tempat ogoh-ogoh dinilai secara ketat oleh dewan juri. Aspek penilaian tak hanya pada visual, tetapi juga kekuatan konsep, teknik pengerjaan, hingga makna yang diusung. Hal ini menjadikan festival bukan sekadar parade, melainkan arena kompetisi seni yang serius dan prestisius.
Dari persaingan tersebut, Sekaa Teruna Yowana Pratyaksa Banjar Bualu berhasil keluar sebagai juara pertama melalui karya “Roga Sanggara Bumi.” Ogoh-ogoh ini dinilai unggul dalam memadukan kekuatan visual dengan kedalaman filosofi serta teknik pengerjaan yang presisi. Posisi kedua diraih Sekaa Teruna Setya Budhi Banjar Ubung lewat “Pragola Mayuda Pralaya,” disusul Sekaa Teruna Widya Dharma Banjar Tengah dengan karya “Asuri Bava.”
Menariknya, dominasi Banjar Bualu juga terlihat dari raihan juara favorit pilihan pengunjung, yang menunjukkan kuatnya daya tarik karya mereka di mata publik. Direktur Operasional GWK Cultural Park, Rossie Andriani, menyebut festival tahun ini mencerminkan kolaborasi solid sekaligus peningkatan kualitas peserta. Bahkan, jumlah partisipasi meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. “Ini menunjukkan semangat generasi muda dalam melestarikan budaya terus tumbuh. Festival ini kami hadirkan sebagai ruang ekspresi sekaligus etalase budaya Bali,” ujarnya.
Di balik kemegahan yang tersaji, tersimpan proses kreatif panjang. Para anggota Sekaa Teruna Teruni menghabiskan waktu berminggu-minggu, bahkan hingga larut malam, untuk merancang dan menyempurnakan setiap detail karya, dari rangka, pahatan, hingga pewarnaan.
Festival ini pun semakin menegaskan posisi ogoh-ogoh sebagai karya seni monumental yang terus berkembang. Tidak lagi sekadar tradisi menjelang Nyepi, ogoh-ogoh kini menjadi simbol kreativitas generasi muda Bali yang mampu bersaing di panggung besar dan memikat perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.
Dengan atmosfer kompetisi yang kian kuat dan kualitas karya yang terus meningkat, Festival Ogoh-Ogoh GWK berhasil mengukuhkan diri sebagai salah satu panggung utama lahirnya karya-karya ogoh-ogoh terbaik di Bali. BWN-04



































