Mangupura, baliwakenews.com
Parade ogoh-ogoh di Desa Adat Bualu tak sekadar menjadi tontonan yang menyedot perhatian ratusan wisatawan, tetapi juga menegaskan kekuatan tradisi dan kreativitas generasi muda dalam menjaga warisan budaya Bali.
Bertempat di Catus Pata hingga Jalan By Pass Ngurah Rai, masyarakat dan wisatawan tampak berbaur menikmati rangkaian parade yang menjadi bagian dari Dresta Lango. Kegiatan ini dibuka dengan pemukulan kentongan oleh Bendesa Adat Bualu, I Made Suarma, bersama Sekcam Kuta Selatan I Wayan Sujaka Arianta, General Manager The Nusa Dua, Lurah Benoa, serta unsur panitia dan tokoh masyarakat.
Berbeda dari sekadar atraksi wisata, ogoh-ogoh yang ditampilkan masing-masing banjar mencerminkan ide, pesan moral, hingga nilai filosofis yang digarap serius oleh para yowana (pemuda). Parade diawali dengan ogoh-ogoh penggembira, diikuti peserta dari dinas dan banjar adat, menambah semarak suasana pengerupukan menjelang Nyepi.
Bendesa Adat Bualu, I Made Suarma, menegaskan bahwa Dresta Lango dilandasi konsep Tri Hita Karana, yang menjadi pedoman dalam menjaga keseimbangan kehidupan. Mulai dari parahyangan melalui pelaksanaan melasti, palemahan lewat gerakan kebersihan lingkungan, hingga pawongan yang menekankan pentingnya persatuan masyarakat.
“Ogoh-ogoh ini bukan hanya hiburan, tapi bagian dari upaya menjaga jati diri dan budaya kita. Generasi muda harus tampil di depan, berkarya, dan tidak hanya menjadi penonton di desa sendiri,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya sinergi seluruh elemen desa dalam mendorong kemajuan, termasuk melalui program kebersihan yang telah mulai dijalankan sebagai proyek percontohan di tingkat banjar.
Sementara itu, Sekcam Kuta Selatan I Wayan Sujaka Arianta memberikan apresiasi atas konsistensi Desa Adat Bualu yang mampu menjaga tradisi ini hingga memasuki pelaksanaan ke-20. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kekompakan masyarakat dan kuatnya komitmen dalam melestarikan budaya.
“Ini bukan hal mudah. Butuh kerja keras dan kebersamaan. Dresta Lango menjadi bukti bahwa tradisi bisa tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.
Dengan balutan seni, tradisi, dan semangat kebersamaan, parade ogoh-ogoh di Bualu bukan hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga menjadi ruang aktualisasi generasi muda sekaligus pesan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan partisipasi aktif masyarakat. BWN-04

































