Denpasar, baliwakenews.com
Bulan Juni yang dicanangkan sebagai bulan Bung Karno, merupakan momentum untuk lebih mendalami gagasan – gagasan cemerlang Bung Karno yang tak lekang oleh waktu. Akademisi Universitas Warmadewa, Dr. Drs. AA Gede Oka Wisnumurti, M.Si., mengatakan meskipun dalam suasana wabah Covid-19, tak menjadi halangan untuk memperingati hari lahir Bapak Bangsa yang juga Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno.
“Segala sisi kehidupan Sang Putra Fajar memang selalu menarik untuk dibahas dan yang terpenting adalah menyerap ajaran-ajarannya,” ucap pria yang sempat menjabat Ketua KPU Bali tersebut.
Salah satu ajaran yang sangat penting adalah “Trisakti” Bung Karno, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. “Gagasan berdikari yang dicetuskan Bung Karno dalam pidato kenegaraannya tahun 1964 sangat relevan dengan keberadaan lembaga desa adat di Bali,” papar Wisnumurti, M.Si., di sela menjadi nara sumber webinar Pembukaan Peringatan Bulan Bung Karno, bertajuk Aktualisasi Trisakti Bung Karno dalam Menyongsong Bali Era Baru”.
Ketua Yayasan Kesejahteran Korpri Propinsi Bali tersebut melanjutkan, Bung Karno dengan tegas menyatakan Indonesia tidak condong ke kapitalis atau komunis dalam era perang dingin, namun punya ideologinya sendiri yakni Pancasila.
Dikatakan Bung Karno selalu menegaskan Indonesia bukan boneka, apalagi kacung. “Kita negara merdeka dan bisa menentukan nasib kita sendiri,” jelasnya. Ideologi tersebut lebih dipertajam lagi melalui visi pembangunan Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” oleh Gubernur Koster yang tercermin melalui penguatan Desa Adat dengan makin diperkuat lewat Perda Nomor 4 Tahun 2019.
Wisnumurti menilai, desa adat dalam tata kelolanya punya kemandirian yang luar biasa, hampir seperti negara. “Ada nilai-nilai yang sangat dihormati, kebijakan, program kerja, kultur, pola hubungan sosial dan seterusnya. Desa Adat jadi model untuk kedaulatan di bidang politik, basis ideologi yang kuat untuk mewujudkan cita-cita kebangsaan dan kesejahteraan bersama,” papar pria asal Puri Siangan, Gianyar tersebut.
Ia optimistis, di bawah kepemimpinan Gubernur Koster, keberadaan desa adat semakin kuat karena program-programnya pro – rakyat. Alam dan manusia Bali juga benar-benar diperhatikan lewat berbagai kebijakan baik peraturan gubernur (Pergub) maupun peraturan daerah (Perda).*BW-09


































