MITOS WATUGUNUNG RUNTUH DALAM HARI RAYA SARASWATI

Iklan Home Page

Dr. Ida Bagus Subrahmaniam Saitya, S.H., S.Ag., M.Fil.H.
Dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Ketua DPK Peradah Indonesia Denpasar
Ketua Forum Generasi Muda Lintas Agama Kota Denpasar

Di dalam Lontar Medang Kemulan disebutkan, Redite Kliwon Watugunung/hari minggu dinamakan “Watugunung Runtuh”, Ini menceritakan gugurnya watugunung setelah berperang melawan Dewa Wisnu. Dapat dimaknai sebelum menerima ilmu pengetahuan kita harus menghilangkan ego di dalam diri agar dapat menjadi bijaksana. Watugunung berasal dari kata “watu” yang berarti batu dan “gunung” berarti kepala, jadi watugunung runtuh menghilangkan kepala batu.

Baca Juga:  Eed Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur Ditetapkan, Puncak pada 12 April 2025

Hari senin disebut “Sandung Watang”, diartikan sosok mayat, mayat dalam hal ini disebut “maya”, “maya” berarti ketidaksadaran atau ketidakberpengatahuan. Oleh karna itu, “maya” sedapat mungkin dihilangkan dalam menerima ilmu pengetahuan.

Hari selasa disebut “Paid-paidan”, bermakna unsur “maya” berpotensi menggagalkan untuk menerima ilmu. Contoh sederhana misalnya malas kuliah, tetapi mau kuliah, ini disebut “paid-paidan”, antara mau kuliah atau malas kuliah, jadi malas kuliah itu disebut unsur ”maya”. Hari rabu disebut “Buda Urip”, Watugunung dihidupkan kembali. Maknanya kebangkitan kesadaran “buddhi” dalam diri manusia untuk menerima ilmu.

Baca Juga:  Lihat Kesiapsiagaan Bali Dalam Menghadapi Bencana, Parlemen Australia Kunjungi BPBD Bali

Hari kamis disebut “Pategtegan” itu perenungan batin secara mendalam untuk mencapai ketetapan hati setelah buddhi telah bangkit dan hidup (“Buda Urip”). Ketetapan hati sangat penting dalan menempuh ilmu pengetahuan.

Hari jumat disebut “Pangredanan”. Disini Watugunung menyembah Dewa Siwa, Dewa Siwa juga disebut Bhatara Guru, guru dari semua guru. Jadi bagaimana sikap kita menghormati seorang guru. Hari sabtu adalah hari raya Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan. Dewa Siwa mengajarkan Watugunung ajaran-ajaran agama.

Baca Juga:  Rahina Tumpek Klurut, Anak Muda Bali Antusias Nikmati Kopi dan Be Guling Traktiran Gubernur Koster

Hari Minggu dinamakan “Banyu Pinaruh” ibaratkan kita melukat setelah mendapatkan ilmu pengetahuan atau istilahnya wisuda.

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR