Mesin Karya Anak Daerah Menjadi Harapan Baru Pengelolaan Sampah Desa di Buleleng

Iklan Home Page

Singaraja, Baliwakenews.com

Deru mesin terdengar memecah pagi di Desa Anturan, Kecamatan Buleleng. Bukan suara industri besar, melainkan mesin pemilah dan pencacah sampah karya putra daerah yang mulai bekerja di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Resik Mesari. Dari desa pesisir ini, Pemerintah Kabupaten Buleleng memulai langkah baru menuju pengelolaan sampah yang lebih tertata dan berkelanjutan.

TPS3R Resik Mesari resmi beroperasi sebagai TPS3R pertama di Buleleng yang dilengkapi mesin pemilah dan pencacah sampah plastik modern buatan lokal. Mesin tersebut memiliki kapasitas pengolahan mencapai 3 hingga 5 ton sampah per hari, menjadikannya tulang punggung pengelolaan sampah berbasis desa dengan skala yang lebih efisien.

Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, yang meresmikan fasilitas tersebut pada Selasa 13 Januari 2026 menyebut kehadiran teknologi ini sebagai lompatan penting dalam sistem pengelolaan sampah daerah.

“TPS3R Desa Anturan kami dorong menjadi percontohan. Kapasitas mesinnya besar, sehingga tidak hanya melayani satu desa, tetapi berpotensi melayani beberapa desa sekaligus,” ujarnya.

Baca Juga:  299 Kendaran Putar Balik Di Lima Titik Penyekatan Dalam Kota Singaraja

Bagi Pemerintah Kabupaten Buleleng, pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Supriatna menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat, khususnya dalam memilah sampah sejak dari rumah. Tanpa partisipasi warga, teknologi secanggih apa pun tidak akan memberi hasil maksimal.

Yang membuat TPS3R Resik Mesari istimewa bukan hanya kapasitasnya, tetapi juga asal-usul mesinnya. Mesin pemilah dan pencacah tersebut merupakan hasil karya putra daerah Buleleng, dibiayai sepenuhnya melalui APBD Kabupaten Buleleng. Kebijakan ini sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap inovasi lokal dan kemandirian teknologi daerah.

Ke depan, Pemkab Buleleng menargetkan TPS3R Desa Anturan menjadi model pengelolaan sampah berbasis desa yang dapat direplikasi di wilayah lain. Peluang pengadaan mesin serupa pun akan dibuka bagi TPS3R lain yang dinilai siap secara kelembagaan dan operasional.

Di tingkat desa, antusiasme terasa kuat. Perbekel Desa Anturan, I Ketut Soka, menyebut bantuan mesin tersebut sebagai jawaban atas persoalan sampah yang selama ini dihadapi warganya.

Baca Juga:  Luar Biasa! Buleleng Melebihi Target Vaksinasi Rabies dalam Peringatan WRD 2023

“Ini yang kami tunggu. Bantuan mesin dari Bapak Bupati menjadi modal utama bagi Desa Anturan untuk mengelola sampah secara maksimal dan berkelanjutan,” katanya.

Desa Anturan sendiri telah menata sistem pengelolaan sampah melalui struktur organisasi yang melibatkan desa adat. Dua orang pengawas dan satu ketua umum menjalankan tugas secara pengabdian tanpa gaji, sementara operasional dan tenaga pemilah sampah dibiayai melalui dana desa. Model ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan pengelolaan tanpa membebani masyarakat.

Edukasi kepada warga juga menjadi fokus utama. Secara bertahap, desa akan mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari rumah, dengan melibatkan desa adat dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai pengelola TPS3R.

Di balik mesin yang kini bekerja di Anturan, terdapat proses panjang riset dan pengembangan. Perancang mesin, Putu Eka Dharmawan, Direktur Rumah Plastik menjelaskan bahwa mesin tersebut dirancang khusus untuk karakteristik sampah domestik Indonesia yang masih bercampur antara organik dan anorganik.

Baca Juga:  Bursa Caketum KONI Denpasar, Suteja Kumara Digadang-Gadang Gantikan Gus Toni

“Mesin impor sering tidak cocok karena sampah kita berbeda. Mesin ini kami rancang agar mudah dioperasikan di TPS3R dan fokus pada pemilahan sampah rumah tangga,” ujarnya.

Riset pengembangan mesin ini telah dilakukan sejak 2017. Hasil pemilahan, terutama plastik anorganik bernilai rendah, ke depan diharapkan dapat dimanfaatkan lebih lanjut, termasuk sebagai bahan campuran aspal jalan.

Dari Desa Anturan, Buleleng sedang membangun harapan baru. Bahwa persoalan sampah tidak selalu harus ditangani dengan teknologi mahal dari luar, melainkan bisa diselesaikan dengan inovasi lokal, kolaborasi pemerintah dan desa, serta kesadaran masyarakat. Mesin boleh berputar, tetapi perubahan sesungguhnya dimulai dari tangan-tangan warga yang mau memilah sampah sejak dari rumah. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR