Meru di Pura Besakih Tersambar Petir, Lontar Sudah Lama Mengingatkan

Iklan Home Page

Karangasem, Baliwakenews.com

Fenomena petir yang menyambar bangunan pura di Bali kerap memunculkan perhatian masyarakat. Namun, dalam tradisi Hindu Bali, terutama yang tercatat dalam sejumlah lontar, kejadian itu dipandang jauh lebih dalam daripada sekadar peristiwa alam. Sambaran petir pada menur atau gedong tumpang diyakini sebagai tanda sakral yang berhubungan dengan kesucian tempat suci dan harmoni alam.

Sejumlah lontar yang menjadi rujukan pemangku dan sulinggih, seperti Druwening Wewatekan, Rudra Tattwa, dan Bhuana Kosa, menggambarkan petir sebagai “tetenger wisesa” tanda dari kekuatan alam niskala. Dalam teks tersebut, petir disebut sebagai unsur pemurnian yang berada di bawah pengaruh Dewa Rudra, dewa yang menaungi badai, angin, dan energi penyuci.

Baca Juga:  Petani Badung Sambut Harapan Baru Lewat Ritual Sakral Penetralisir Hama Tikus dengan Ngaben Bikul

Dalam Druwening Wewatekan, sambaran petir pada bangunan suci disebutkan dapat menjadi isyarat bahwa keseimbangan pura terganggu. Ada kalanya tempat suci memerlukan penyucian ulang, atau muncul energi “panas” yang perlu dinetralkan melalui upacara. Pandangan ini telah hidup dalam tradisi tutur para tetua adat di berbagai desa pakraman.

Sementara itu, Rudra Tattwa menguraikan bahwa kilat merupakan bagian dari energi pemurnian Rudra. “Rudra mabodas ring kilat,” demikian salah satu kutipannya, yang berarti Rudra menampakkan diri melalui cahaya petir. Karena itu, sambaran petir pada pelinggih tidak selalu ditafsirkan sebagai pertanda buruk, melainkan kunjungan energi besar yang membersihkan.

Baca Juga:  PPDM Unmas Denpasar, Ubah Ancaman Keong Mas Pada Sistem Budidaya Padi, Jadi Peluang  

Setelah kejadian petir mengenai pura, masyarakat adat biasanya segera melakukan rangkaian ritual. Upacara guru piduka dilaksanakan untuk memulihkan kesucian tempat suci, diikuti pamlaspas untuk menyucikan kembali bangunan yang terkena sentuhan unsur api langit. Dalam beberapa desa, dilakukan pula pengulapan sebagai bentuk penyeimbangan antara alam sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia spiritual).

Bagi umat Hindu Bali, harmoni antara manusia dan alam menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Petir yang menyambar pura bukan hanya dianggap sebagai ancaman, tetapi juga sebagai pengingat bahwa alam memiliki bahasanya sendiri, bahasa yang diabadikan dalam lontar-lontar tua dan diwariskan melalui tradisi leluhur.

Baca Juga:  Kader Demokrat Badung Datangi PN Denpasar Gara-gara Moeldoko CS lakukan PK

Tradisi inilah yang membuat setiap sambaran petir di kawasan suci selalu ditanggapi dengan penuh hormat. Bagi masyarakat Bali, menjaga keseimbangan pura bukan hanya merawat bangunan fisiknya, tetapi juga merawat hubungan halus antara manusia dan kekuatan alam yang menaunginya. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR