Merdeka dari Sampah, Semangat Baru Desa Kutuh di Momen Kemerdekaan

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Di Desa Kutuh ada yang berbeda dari perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia kali ini. Tak hanya mengibarkan semangat nasionalisme, warga Kutuh juga mengumandangkan tekad lain yang tak kalah penting merdeka dari sampah.

Di tengah sorak-sorai kemerdekaan, Perbekel Desa Kutuh, Wayan Mudana, dengan lantang menyatakan bahwa desanya siap berdiri di garda depan melawan salah satu persoalan terbesar Bali saat ini, sampah.

“Di momen kemerdekaan ini, Desa Kutuh merdeka dari sampah. Kami tidak ingin lagi membuang ke desa lain atau ke TPA. Semua harus selesai di sini,” tegasnya.

Janji itu bukan sekadar slogan. Di sebuah lahan di Tebo Kauh, berdiri TPST Desa Kutuh, jantung pengolahan sampah yang setiap hari menerima 7–13 ton limbah. Di sinilah sampah dipilah, diolah, bahkan diubah menjadi sesuatu yang berguna.

Baca Juga:  Pengurus Saka Bakti Husada Kabupaten Badung 2020 Dikukuhkan

Sampah organik disulap menjadi kompos dan eco enzym, sementara plastik dan material non-organik lainnya berubah wujud menjadi paving block yang bisa digunakan kembali.

Teknologi modern ikut menopang. Sebuah mesin incinerator bernama Motah bekerja tanpa henti, memastikan sampah yang datang tidak lagi menumpuk. “Kami kombinasikan dengan sistem Pergub Bali tentang pembatasan plastik sekali pakai dan program Bali Bersih. Jadi semua terintegrasi,” jelas Mudana, Senin (25/8/2025).

Perubahan besar ini tentu tidak instan. Butuh waktu dan kesadaran kolektif. Kini, setidaknya 50 persen warga Kutuh sudah terbiasa memilah sampah dari rumah tangga mereka.

Baca Juga:  Agung Wardika Resmi Ketua PEXI Badung, Target Rebut Juara Porprov

Sebagian lainnya masih terbata-bata, tapi desa tak patah arang. Melalui dana APBDes dan iuran partisipatif masyarakat yang hanya Rp35 ribu per bulan, sistem pengelolaan sampah ini terus berjalan.

“Yang paling penting adalah mengubah mindset. Sampah itu tidak bisa dianggap sepele, apalagi murah. Semua butuh usaha bersama,” ucap Mudana.

Langkah Desa Kutuh ternyata tak hanya menjadi kebanggaan lokal. Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta, turut memberi apresiasi.

“Semua masyarakat harus merdeka, termasuk dari sampah. Kutuh sudah memberi contoh nyata. Semoga semangat ini menular ke desa lain di Badung dan Bali,” katanya.

Kini, Desa Kutuh sering kedatangan tamu desa-desa tetangga yang penasaran bagaimana sistem ini dijalankan. Mereka datang bukan sekadar melihat, tapi juga belajar, membawa pulang inspirasi untuk diterapkan di tempat masing-masing.

Baca Juga:  Dewan Minta Penjaring Sampah Ditambah di Tukad Mati

Bagi warga Kutuh, deklarasi ini adalah wujud kemerdekaan yang sesungguhnya. Bukan hanya bebas dari penjajahan, tapi juga dari beban lingkungan yang selama ini membayangi.

Merdeka dari sampah bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan panjang. Harapannya, semangat ini akan menyebar ke seluruh pelosok Bali. Karena pada akhirnya, sampah bukan lagi masalah, melainkan peluang untuk menciptakan kehidupan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR