baliwakenews.com – Setiap enam bulan sekali dalam penanggalan Bali, umat Hindu menyambut Hari Raya Sugihan, sebuah hari suci yang sarat makna tentang penyucian diri dan penghormatan terhadap leluhur.
Namun di balik ritual dan dupa yang mengepul, Sugihan adalah kisah tentang manusia yang berusaha menjaga jati diri di tengah arus zaman.
Sugihan dibagi menjadi dua, yakni Sugihan Jawa yang jatuh pada Kamis Wage Wuku Sungsang, dan Sugihan Bali sehari setelahnya. Meskipun nama “Jawa” dan “Bali” tersemat, keduanya tak merujuk pada etnis atau wilayah, melainkan pada makna filosofis: Sugihan Jawa untuk menyucikan bhuwana alit (alam dalam diri manusia), dan Sugihan Bali untuk menyucikan bhuwana agung (alam semesta di luar diri manusia).
“Sugihan itu seperti cermin. Ia mengajak kami melihat kembali siapa diri kami sebenarnya,” ujar Ni Ketut Sriani, seorang ibu rumah tangga asal Gianyar yang sejak kecil menjalani tradisi ini bersama keluarganya. Baginya, Sugihan adalah lebih dari sekadar sembahyang. Itu adalah saat untuk merenung dan mengingat akar.
Pada hari Sugihan Jawa, umat biasanya melakukan persembahyangan pribadi, memohon pembersihan jiwa dan raga. Sedangkan pada Sugihan Bali, fokus berpindah ke alam sekitar, membersihkan rumah, tempat suci, dan memberikan sesajen kepada para leluhur serta penghuni tak kasat mata yang dipercaya menjaga lingkungan.
Namun, di tengah pesatnya modernisasi dan gaya hidup serba cepat, makna Sugihan mulai memudar di kalangan muda. Banyak yang mengenal hari raya ini hanya sebagai bagian dari rentetan Galungan tanpa memahami esensinya.
“Anak-anak sekarang lebih hafal jadwal konser dari pada hari suci,” kata Made Suardika, seorang pemangku di Tabanan. Ia mencoba mengimbangi dengan pendekatan digital: membuat konten edukasi Sugihan di media sosial agar generasi muda bisa memahami lewat cara yang mereka kenal.
Sugihan juga menjadi simbol perjuangan masyarakat Bali dalam menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan, konsep Tri Hita Karana yang menjadi filosofi hidup di Pulau Dewata.
Di sebuah rumah sederhana di Karangasem, seorang kakek bernama Mangku Rai duduk bersila di depan pelinggih keluarga, membakar dupa, dan menutup mata. “Sugihan bukan hanya untuk orang tua. Ini warisan. Kalau kita tak rawat, siapa lagi?” katanya pelan.
Dalam tiap lilin yang menyala dan dupa yang menari di angin sore, Sugihan berbicara tentang upaya untuk tetap bersih, tidak hanya secara lahir, tetapi juga batin. Sebuah ajakan sunyi untuk pulang, bukan ke rumah, tetapi ke dalam diri. BWN-01

































