Oleh I K. Eriadi Ariana
BEBERAPA hari terakhir, cuaca Bali terasa begitu panas. Pekan lalu suhu rata-rata di Kota Denpasar pada siang hari berkisar antara 26 s.d. 34 derajat celcius. Bahkan, gawai saya sempat mencatat suhu hingga 36 derajat celsius.
Menyikapi perubahan cuaca itu, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada sejumlah media massa memberi penjelasan. Cuaca panas itu disebut sebagai fenomena tahunan. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan cuaca begitu menyengat. Penyebab utamanya adalah pengaruh posisi semu matahari yang beranjak ke arah selatan ekuator.
Pergeseran matahari menyebabkan Bali dan daerah-daerah di selatan khatulistiwa mendapat paparan sinar matahari lebih intens. Kondisi inilah yang menyebabkan suhu udara dirasakan menjadi lebih panas dari biasanya.
BMKG mencatat kelembaban udara di Bali dalam beberapa hari terakhir mencapa 80 s.d. 90 persen . Kondisi ini menyebabkan udara terasa lebih gerah, terlebih ketika tidak ada tutupan awan yang membentengi paparan sinar matahari.
Perubahan cuaca itu praktis mengganggu aktivitas banyak orang. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya jatuh sakit akibat tubuh yang tidak mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan ekstrem.
Kapat-Kalima: Keindahan dan Kelabilan
Cuaca panas di bulan Oktober-November sejatinya telah diarsipkan dengan baik dalam ingatan kolektif tetua Bali. Beberapa teks lontar menegaskan bulan-bulan ini sebagai bulan labil, yang menguji kepekaan manusia terhadap perubahan lingkungan.
Pada penanggalan Saka, bulan Oktober-November disebut dengan Sasih Kapat-Kalima. Kedua bulan tersebut dianggap sebagai salah satu “sasih baik” dari 12 sasih yang tersedia dalam penanggalan Saka. Momen ketika bunga-bunga ranum semerbak diyakini sebagai waktu yang tepat untuk melakukan pemujaan ke hadapan pemilik semesta. Maka, upacara pujawali (odalan) maupun karya dilaksanakan di antara dua bulan ini. Pun demikian, sepasang kekasih acapkali memilih kedua bulan itu sebagai dewasa ayu untuk membangun rumah tangga baru.
Para kawi (sastrawan) juga tidak mau melewatkan dua sasih ini sebagai bagian proses kreatifnya. Dalam tradisi kesusastraan Bali, dua sasih tersebut dipandang sebagai puncak keindahan. Oleh karena itu banyak karya sastra dengan sengaja mulai ditulis maupun dirampungkan pada dua sasih tersebut.
Meskipun demikian, tetua Bali juga mencatat sisi lain dari harumnya Kapat-Kalima. Perubahan suhu yang ekstrem dari panas ke dingin atau peralihan udara dari kering ke lembab telah disadari sebagai faktor eksternal yang dapat memukul mundur imunitas tubuh. Maka dari itu, beragam upaya disiapkan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Caru Sasih dan Kreta Masa
Teks Rogha Sanghara Bumi yang banyak dirujuk untuk merespons fenomena alam menjelaskan sejumlah anjuran untuk menghadapi sisi negatif Kapat-Kalima. Penyakit yang muncul pada Sasih Kapat disebabkan oleh kehadiran Bhatara Kusumajati. Ciri sakit yang diderita manusia pada sasih ini adalah panas seperti terbakar, gelisah tiada henti, tidak bisa makan, dan hanya menginginkan air.
Apabila tubuh merasakan sakit dengan ciri-ciri di atas pada Sasih Kapat—terlebih jika mewabah secara massal—teks merekomendasikan melakukan caru sasih sebagai peruwatan. Sarana yang digunakan adalah membuat sanggah cucuk berisi daun beringin yang ditempatkan pada salah satu sisi pintu pekarangan.
Pada sanggah cucuk itu dipersembahkan banten berupa sepasang tumpeng kuning, daging ayam putih sebagai lauknya, jenis buah-buahan, lima buah canang gantal arum, empat batang rokok, dengan kemenyan, serta se-sujang tuak. Sementara itu, pada bagian bawah sanggah cucuk itu dipersembahkan segehan. Saat memuja, sebutlah Kala Wigraha Bumi, kemudian tuangkan air dan tuak di atas segehan tersebut.
Berbeda dengan Sasih Kapat, pada Sasih Kalima penyakit disebabkan oleh turunnya Bhatara Jagatkarana. Ciri-ciri penyakit yang muncul adalah tubuh menggigil, panas gelisah, kepala sakit tertusuk-tusuk, serta tidak bisa bangun.
Ketika terkena penyakit seperti ini, maka disarankan untuk melaksanakan caru sasih dengan membangun sanggah cucuk di sebelah kiri pintu pekarangan. Banten yang dipersembahkan adalah dua buah penek dengan lauk daging babi, sate lembat-asem, lengkap dengan buah, dua tanding canang, serta satu tekor tuak. Pada bagian bawah sanggah cucuk itu dipersembahkan segehan. Sebutlah Sang Kala Mangsa pada saat mengantarkan doanya.
Sejalan dengan penjelasan Rogha Sanghara Bumi, teks Pangeling-eling Wong Batur yang merupakan satu dari 13 cakep Rajapurana Pura Ulun Danu Batur turut menjelaskan upaya harmonisasi semesta pada setiap bulannya. Ritual yang direkomendasikan prinsipnya ditujukan untuk menyeimbangkan energi di dalam tubuh besar dengan energi di tubuh kecil.
Upaya harmonisasi energi alam itu disebut dengan caru kreta masa. Ritual caru ini akan dilaksanakan tiap bulan, tetapi pada hari yang berbeda-beda. Pada Kapat, kreta masa wajib dilaksanakan pada saat Purnama. Pada momentum tersebut, Hyang Iswara sedang berpasangan dengan Kusumayuda.
Pada sasih tersebut turun Buta Kala Miring dan Buta Gudug Basur. Energi dari Iswara dan para abdinya hendaknya diharmoniskan menggunakan sesajian caru berupa sasayut kuning, dengan dua buah tumpeng, dan dagingnya berupa ayam siyungan. Pada bagian bawah sanggar dipersembahkan nasi yang dicampur daging katupang pencek bakal serta dilengkapi dengan seguci arak.
Sementara itu, pada Sasih Kalima kreta masa dilaksanakan saat Tilem. Pada momentum ini Hyang Kesawa, Hyang Sangkara, dan Hyang Smara turun bersama. Pengikut dewa-dewa ini adalah Buta Kala Miring dan Buta Muneng.
Momen turunnya tiga dewa bersama dengan pengikutnya direkomendasikan untuk direspons dengan caru yang terdiri atas dua buah tumpeng berisi tiga butir telur matang, sasayut, pelas putih, kacang ranti yang direbus, dan sambal jahe tanpa garam. Persembahan untuk para pengikutnya disajikan di bawah sanggah berupa nasi kahoran cacah, berdaging g[e]rang g[e]rih, rumput lepas, sayur lumbung, babanaka, kacang pencak, serta seguci arak.
Ritus sebagai Pengingat
Narasi tentang ritus penetral fenomena alam—sebagaimana yang dijelaskan di dalam dua teks di atas—adalah medan terbuka untuk diskusi yang lebih kritis. Saya kira ritus bukan sekadar rutinitas di panggung meriah seremonial.
Seperti sistem wicara pada umumnya, ritus adalah media komunikasi untuk mengantarkan pesan. Ritus adalah penanda tentang suatu pesan yang ingin disampaikan oleh seorang penyampai pesan.
Apabila ditinjau secara ekologis, ritus-ritus yang dimuat Rogha Sanghara Bumi maupun Pangeling-eling Wong Batur adalah penanda atas tubuh alam itu sendiri. Sanggah cucuk berhias daun beringin yang diwacanakan dalam teks Rogha Sanghara Bumi misalnya, dapat dibaca ke esensi asalinya sebagai wujud dari pohon beringin di dalam ekosistem.
Spesies pohon yang masuk dalam genus ficus ini merupakan komponen penting dalam ekosistem. Pohon ini dikenal sebagai tumbuhan yang berkontribusi besar dalam penyerap air dan mempertahankan air tanah. Sistem perakaran yang kuat adalah perekat tanah dari erosi, sementara daun rimbunnya merupakan penyerap karbon dioksida yang baik.
Fungsi ekologis dari pohon beringin bermuara pada lahirnya beragam narasi kultural di banyak komunitas masyarakat. Beringin acapkali dimitoskan sebagai “rumah” dari makhluk-makhluk tertentu atau perwujudan roh suci alam maupun leluhur, sehingga sangat tabu untuk ditebang.
Kehadiran daun beringin sebagai salah piranti ritual harmoni bumi dalam teks Rogha Sanghara Bumi adalah pesan terbuka bagi pembaca untuk melestarikan beringin, pun pohon dan hutan secara keseluruhan. Hutan dan pohon adalah sumber kehidupan, produsen oksigen, makanan, serta obat-obatan. Secara praktis, obat untuk penyakit yang diderita bisa diakses, sementara dalam jangka panjang hutan dapat merawat harmoni iklim.
Ritus caru kreta masa pun sebuah jaringan tanda. Satu pesan yang dapat dipetik adalah anjuran mengingat momentum. Pelaksanaan kreta masa menjadi pijakan manusia untuk mengingat dan menghitung hari beserta dengan sifat-sifatnya. Pemahaman atas sifat hari itu menjadi pengingat manusia untuk bergerak dan berhenti. Ada kalanya manusia bergerak laju memanfaatkan alam maupun berhenti untuk memberi alam bernafas. Memberi ruang mereka memulihkan diri.
Silendu Arkaja Mandala, 20 Oktober 2025

































