Melukat di Beji Pura Batu Meringgit Dipercaya Bisa Sembuhkan Penyakit Sekala dan Niskala

Iklan Home Page

Bedugul, baliwakenews.com

MELUKAT merupakan bagian dari ritual pembersihan diri secara rohani dalam pelaksanaan keagamaan umat Hindu di Bali. Dipercaya, dengan proses pengelukatan, dapat memberi vibrasi positif pada seseorang, terutama pikiran dan jiwa secara niskala.

Salah satu tempat suci di Bali yang dijadikan sebagai tempat melukat, Pura Beji Batu Meringgit. Berdasarkan penelusuran tim Baliwakenews.com, pura dengan konsep kepercayaan Siwa Budha ini, berlokasi di Kawasan Wisata Kebun Raya, Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

Berdasarkan penuturan Jro Mangku di pura tersebut, Pura Batu Meringgit merupakan simbol multikultural, karena tidak hanya ada tempat pemujaan bagi umat Hindu Bali, namun juga ada Klenteng atau Konco yang identik dengan tempat pemujaan umat Budha.

Dan berdasarkan historisnya, Pura Batu Meringgit dibangun pada era perjalanan Ida Rsi Madura sekitar abad ke 11-12 Masehi (tahun 1201 Masehi atau 1123 Saka).

Konon ceritanya, klenteng Budha di pura ini dibangun oleh Shri Jaya Kasunu yang merupakan keturunan Jaya Pangus. Pendirian klenteng Budha yang diperkirakan pada abad ke 13 ini bertujuan untuk menghormati Jaya Pangus yang menikah dengan seorang perempuan China.

Baca Juga:  Walikota, Wakil Walikota dan Sekkot Denpasar Ikuti Verifikasi Sensus Penduduk 2020

Di Pura Batu Meringgit juga ada Pura Beji yang baru dibangun setahun sebelum COVID-19. Menurut Juru Sapuh Pura Beji, Jro Mangku Alit, pembangunan Pura Beji berawal dari pawisik dari Ida Sesuwunan. Dimana harus dibangun beji untuk pengelukatan. Karena sebelum memasuki areal Pura Penataran Batu Meringgit, pamedek diwajibkan untuk melakukan ritual malukat yang bermakna pembersihan pikiran dan jiwa secara spiritual dalam diri manusia, di Pura Beji yang berlokasi di bagian barat pura utama.

Jro Mangku Alit menjelaskan tahapan yang wajib diikuti bagi umat yang hendak melukat. Yakni, dimulai dengan menghaturkan pejati di Pura Beji dan menghaturkan canang di tiga pancoran yang berlokasi di depan gerbang masuk pura. Yakni, pancoran pengelukatan, pancoran peleburan dan pancoran tamba.

Sesuai dengan namanya tiga pancoran tersebut memiliki fungsi yang berbeda. Pertama untuk pembersihan diri, yang kedua untuk melebur semua hal buruk dan yang ketiga adalah untuk menyembuhkan penyakit.

Baca Juga:  Berlaga di Sea Games Kamboja 2023, Pemkab Tabanan Lepas 17 Atlet Vovinam

Selain melukat di tiga pancoran tersebut, umat juga sebaiknya membawa dua jenis bungkak yaitu bungkak nyuh gading dan bungkak nyuh gadang.

“Bungkak nyuh gading berfungsi untuk melukat sedangkan bungkak nyuh gadang berfungsi sebagai tamba atau obat,” tutur Jro Mangku Alit

Usai melukat, umat baru melakukan persembahyangan di pura beji memuja Betara Wisnu Gangga dan sungkem kepada Batara Lingsir dan Ratu Niang Lingsir. Di pura beji juga berstana Ratu Begawan Sidi Tamba, yang memberikan tamba atau pengobatan.

Dikatakan banyak kejadian diluar nalar, diluar kemampuan manusia yang terjadi saat umat datang melukat. Yang paling sering terjadi adalah mereka yang merasa mual dan muntah-muntah saat melukat. Hal tersebut juga terjadi pada seorang pemedek saat tim Baliwakenews.com berada di lokasi.

SEMENTARA itu, di areal tengah Pura Batu Meringgit, salah satu bangunan suci yang mencolok dan berbeda dengan pura pada umumnya di Bali, adalah Palinggih Konco.

Menurut Jro Mangku, di Palinggih Konco tempat berstananya Bhatara Tan Lai Su Tek. Selain itu ada juga Palinggih Siwa dan Buddha yang konon merupakan wujud kemanunggalan sisi teologi antara masyarakat Hindu dan Buddha di Pura Batu Meringgit.

Baca Juga:  Megahnya Festival Ogoh-Ogoh Singasana ke-II 2025

Umat Buddha di Pura Batu Meringgit konon memiliki rasa toleransi yang tinggi. Kesadaran untuk membangun kedamaian berdasarkan persatuan dalam perbedaan, selalu dipupuk dengan baik oleh umat Hindu dan Budha. Contohnya, toleransi diwujudkan dengan diizinkan bagi warga Hindu untuk ikut serta bersembahyang di Palinggih Konco.

Proses ritual dan tata cara persembahyangan di Palinggih Konco juga mengikuti tradisi umat Budha. “Palinggih Konco dipercaya bisa mengabulkan kesejahteraan dan kesehatan bagi umat yang berdoa di sana,” ungkapnya.

Umat Hindu dan Buddha di Pura Batu Meringgit sangat mempercayai kemenunggalan asas Siwa dan Buddha. Ajaran Siwa maupun Buddha secara bersama dirasakan sebagai jalan suci berlandaskan kasih, sehingga terjalin sebuah integrasi pemahaman secara teologis antara umat Hindu dan Buddha di Pura Batu Meringgit. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR