Melasti Dewa Cili di Desa Adat Kutuh, Ungkapan Rasa Syukur Atas Kesejahteraan dan Kemakmuran

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Wilayah Desa Adat Kutuh, yang dulunya kering dan tandus kini menjelma menjadi kawasan wisata yang terkenal baik di nasional maupun mancanegara. Salah satu yang menjadi ikon adalah Daerah Tujuan Wisata (DTW) Pantai Pandawa. Bahkan belakangan terus berkembang Pengelola DTW Pantai Pandawa yang dibawah naungan Desa Adat Kutuh juga mengembangkan kawasan yang ada di samping-sampingnya. Seperti Pantai Tanah Barak di sisi barat dan Pantai Timbis serta Gunung Payung di sisi kirinya.

Menariknya meskipun berkembang menjadi kawasan wisata secara dinamis, tokoh-tokoh di Desa Adat Kutuh bersama kramanya tidak pernah lepas dari tradisi upacara dan keagamaan yang diwarisi secara turn temurun.

Selain rutin menggelar festival budaya ritual keagamaan juga terus berjalan dengan baik dan konsisten. Salah satunya adalah tradisi “Melasti Dewa Cili”. Tradisi warisan leluhur yang adiluhung dipegang teguh oleh krama dan tokoh setempat.

Seperti di tahun 2025, Upacara Melasti Dewa Cili kembali digelar. Seperti apakah pelaksanaan upacara yang unik ini? Sejak siang hari warga Desa Adat Kutuh sudah berkumpul di kawasan Pura Desa untuk mengikuti prosesi Melasti Dewa Cili yang dilaksanakan setiap 2 tahu sekali ini. Berbeda dengan Melasti di desa adat di Bali yang biasanya dilaksanakan saat menjelang Hari Raya Nyepi.

Berbicara tentang Melasti Dewa Cili, salah seorang warga Kutuh, I Wayan Lugraha (Pan Sunu) dalam bukunya berjudul, Magisnya Catus Phata Pura Desa, Desa Adat Kutuh mengungkapkan, Kata Dewa Cili terdiri dari dua kata yaitu dewa dan cili. Kata dewa dari bahasa Sanskerta akar kata “div” yang artinya sinar. Dewa berarti sinar suci Sanghyang Widi Wasa atau manifestasi dari Tuhan. Cili berarti patung kecil lambang Dewi Sri (Panitia, 1978: 129). Di Desa Kutuh simbol Dewi Sri dibuat dari padi atau pantun (beberapa tangkai padi yang terbaik) diikat diisi/dimaknai dengan upakara(sakralisasi) Hindu Bali yang disebut Dewa Cili.

Melasti Dewa Cili adalah tradisi agama di Kutuh untuk melaksanakan upacara penyucian bhuana agung dan bhuana alit, mohon air suci kehidupan (amerta) dan menghaturkan upakara sebagai ungkapan rasa syukur atas kemakmuran, kesejahteraan yang didapat dari hasil pertanian (panen) yang baik.

Melasti Dewa Cili yang diwarisi secara turun temurun di Desa Kutuh diselenggarakan setiap 2 tahun sekali yaitu setiap tahun masehi ganjil, tepatnya purnamaning sasih kasa (kira-kira pada bulan Juli). Penyelenggaraan setiap 2(dua) tahun sekali mempunyai latar belakang dari keberadaan Pura Gunung Payung di desa Kutuh yang letaknya pada posisi purwaning desa/timur desa. Pura Gunung Payung mempunyai palinggih pasambyangan di Pura Uma Sanghyang yang posisinya wayabyaning desa/ barat laut sebagai stana Dewa Sangkara dalam Padma Bhuananing desa (Pengibeh).

Jarak Pura Gunung Payung dengan Pura Uma Sanghyang dan pusat desa sebagai pemukiman kurang lebih 2 1/2 km.

Zaman dahulu alat transportasi tidak ada/hanya dengan berjalan kaki, maka jarak yang demikian merupakan jarak yang cukup jauh dan memberatkan. Untuk keperluan kegiatan menyelenggarakan upakara pujawali/piodałan setiap Purnamaning sasih ke wolu (VIII) maka tempat menyelenggarakan upacara ini diselenggarakan secara silih berganti, jika tahun masehi ganjil upakara diselenggarakan di Pura Gunung Payung, maka pada tahun masehi genap upakara pujawali diselenggarakan di Palinggih Pasambyangan Gunung Payung yang ada di areal jeroan Pura Uma Sanghyang. Pura Gunung Payung mulanya untuk memuliakan Dewi Sri/dewi kesuburan.

Baca Juga:  Putu Sukarini: Mutahiran Data WP

Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya kubung suci yang menjadi tempat air suci (wisnu) serta adanya palinggih Gedong Sri pada deretan utara utama mandala Dalem Gunung Payung. Kemampuan ekonomi krama kala itu sangat kurang, jangankan untuk berupakara yang sedang/besar hanya mampu untuk makan sehari-hari saja sudah bersyukur. Untuk menyikapi ini para tetua waktu itu dengan bijaksana untuk menyelenggarakan upakara puja wali/piodalan yaitu sistim silih berganti yang disebut ngencak jelih antara di Pura Gunung Payung dan di palinggih pesambyangannya di Pura Uma Sanghyang. Upakara Melasti Dewa Cili diselenggarakan berlatar belakang dengan pelaksanakan Upakara Pujawali/piodalan di Pura Gunung Payung yang diselenggarakan setiap dua(2) tahun sekali, maka upakara Melasti Dewa Cilipun mengikutinya dua tahun sekali juga.

Puja wali yang diselenggarakan secara silih berganti pada dua kahyangan yaitu di Palinggih Pasambyangan Gunung Payung dan Pura Gunung Payung. Sistim pujawali seperti ini berlangsung sampai tahun 1985 (Informasi Kt.Subrata-mantan bendesa). Setelah tahun tersebut maka upakara Pujawalinya diselenggarakan setiap tahun di Pura Gunung Payung. Sedangkan palinggih pasambyangan tidak lagi ada pujawali khusus, namun jika pujawali di Pura Gunung Payung maka di palinggih pasambyangan juga katuran upakara.

Pemujaan Dewa Sri disamping dengan palinggih jineng lumbung juga dengan simbol Dewa Cili yang disimbolkan dengan seikat padi/pantun terpilih dengan hiasan ritual khas Hindu Bali, distanakan di bagian hulu dari jineng/lumbung, Cili di tempat lain umumnya di Bali disebut Dewa Nini. Cili merupakan simbol pradana dari Dewa Sri (purusa).

Pradana adalah lambang wujud material dari Purusa. Karena kuatnya kepercayaan (melalui sakralisasi) seikat padi yang disakralkan tidak lagi disebut padi tetapi disebut Dewa Cili. Bandingkanlah dengan pamundut pratima/arca yang terbuat dari emas atau kayu yang disakralkan tidak disebut pamundut emas atau kayu tetapi sudah disebut pamundut ida bhatara utawi ida sesuhunan. Setelah simbol suci dibuat maka selanjutnya adalah memaknai dengan upakara atau banten.

Acara ini dimulai dari mohon tirta di laut dengan bantennya terdiri dari unsur pokok yaitu banten balayag, tulung dan padi, kacang, umbi-umbian serta hasil panen yang lainnya yang dipersembahkan kepada Dewa Baruna/Wisnu. Sekembalinya krama mohon tirta amerta di bawa pulang untuk keluarga dan dipercikkan pada lumbung/jineng/gudang padi sebagai stana Sanghyang Sri-Cili, dan dirangkaikan juga dengan mantenin padi di lumbung (klumpu, jineng) dengan harapan semoga padinya bisa untuk memenuhi keputuhan hidup keluarga, supaya padi bisa tet/inih. Tet/inih berarti suatu keadaan dalam penggunaan padi, supaya dapat memenuhi kebutuhan pokok manusia (makanan).

Menyimpan dalam bentuk padi bertujuan untuk menghemat secara tepat, agar jangan menggunakan hasil bumi dengan cara yang tidak benar/boros. Disini ada simbul pertemuan Sri yang disimbolkan dengan padi, dengan Wisnu (air laut) menjadi lambang kesuburan/kemakmuran/kesejahteraan. Mantenin = katuran upakara dengan belayag, bung ketan, gula merah, tulung, jaja abug (jajan dibuat dari tepung santan dan rasanya sangat enak menjadi kesenangan Dewi Sri-Cili) sebagai jaja pokok, ungkapan rasa syukur semoga padinya di lumbung bisa tet/inih.

Baca Juga:  Lagi, Bali United Cuci Gudang; Dua Pemain Menyusul Hengkang, Salah Satunya Pemain Kelahiran Kota Denpasar

Masyarakat Kutuh secara geografis adalah masyarakat agraris/bertani (zaman dahulu) dengan tanah bukit kapur dan laut adalah sumber air yang terbesar di bumi. Daerah bukit tidak mempunyai sumber mata air tawar baik untuk pertanian maupun keperluan sehari-hari. Para terua menamakan “madanu dilangite artinya orang bukit umumya baru dapat bertani /turun ke kebun jika ada hujan (dari langit). Panen yang baik adalah karena adanya hujan yang baik, hujan datangnya dari air laut yang menguap dan menjadi embun, menjadi mendung, menjadi bintik-bintik air dan selanjutnya turun menjadi hujan. Oleh karena itulah sebagai ungkapan rasa syukur mendapat panen yang baik maka krama menyelenggarakan upakara Melasti Dewa Cili di tepi laut.

Tujuan Melasti Dewa Cili, yakni “Melasti ngarania ngiring prawatek dewata, anganyutaken laraning jagat, papakiesa, letuhing buana, ngamet sarining amerta ring telenging sagara”. Adapun yang disebut melasti dengan mengusung simbol-simbol dewa, pratima, arca dsb, melenyapkan penderitaan dunia/alam, kesedihan, sangsara, kotornya dunia, mengambil air amerta ditengah samudra. Prawatek dewata adalah simbol-simbol suci para dewa yang akan diusung/ dipandut ke laut tempat berlangsungkan upakara melasti.

Sebelumnya prawatek dewata kabeh dari seluruh kahyangan desa telah berkumpul di Bale Agung/Bale Panjang Pura Desa lengkap dengan berbagai upakaranya. Ini simbolik persatuan, kerukunan para dewata kabeh yang akan memberikan anugrah kepada seluruh krama.

Anganyutaken laraning bhuana artinya akan melenyapkan segala penyakit di bhuana agung maupun pada bhuana alit, termasuk melenyapkan berbagai hal/sifat negatif yang ada. Papa klesa berarti penderitaan yang ada di dunia yang disebut Panca klesa seperti awidya artinya kebodohan, asmita yang berarti mementingkan diri sendiri, ada disebut raga berarti selalu menuruti hawa nafsu, murka berarti sifat suka marah yang ada dalam diri manusia, kurangnya rasa kasih sayang, irihati, sedangkan abhiniseka artinya manusia mempunyai rasa takut yang berlebihan.

Rasa ini tidak ada sebab musababnya kadang tumbuh sendiri pada manusia. Letubing bhuana berupa kekotoran dunia yang seharusnya dihilangkan atau dilenyapkan, sehingga menjadi lingkungan yang asri nyaman dan menawan. Adapun tujuan upakara melasti yang terakhir adalah ngamet sarining ameria ring telenging sagara yang berarti mengambil air kehidupan di dalam samudra. Demikian tujuan upakara melasti seperti diuraikan di atas tetapi Melasti Dewa Cili ada tujuan lebih yaitu ungkapan rasa bersyukur karena wara nugraha Tuhan Yang Maha Kuasa krama telah memperoleh panen/hasil pertanian yang berlimpah melalui air hujan yang sumbernya adalah laut.

Oleh karena itu mempersembahkan kembali hasil tersebut kepada dewa yang menjadi sumber mata air pertama yaitu dewa laut yang disebut Dewa Baruna melalui melasti Dewa Cili. Melalui kerja profesi sebagai petani merupakan yadnya dalam bentuk karma, maka dengan itulah akan mendapatkan kesejahteraan, kebahagiaan dengan hasil panen yang baik. Sebagai umat yang baik haruslah mempersembahkan terlebih dahulu anugrah Tuhan sebelum dinikmati.

Baca Juga:  Sajian Nusantara di Jamuan Kenegaraan World Water Forum ke-10

Sementara itu, Bendesa Adat Kutuh, Jro Nyoman Mesir menegaskan pihaknya senantiasa komit untuk menjaga adat Budaya, agama dan tradisi yang ada di Kutuh. Salah satu bentuknya selain memberikan ruang pelaku seni untuk tampil dalam ajang Festival Pandawa yang rutin digelar setiap tahun, pihaknya melakukan pembinaan ke banjar-banjar.
Hasil pembinaan ini akan dievaluasi secara rutin melalui Bulan Bahasa Bali yang diisi dengan berbagai lomba seni dan budaya.

Termasuk dalam kegiatan Pujawali atau ritual kegamaan yang berjalan dengan baik di Kutuh. Salah satunya yaitu Melasti Dewa Cili yang telah diwarisi secara turun temurun. Karena pada jaman dahulu penghasilan warga adalah dari sektor pertanian. Sebagai rasa syukur secara simbolik hasil bumi ini dipersembahkan kepada Tuhan dengan melarung ke laut atau Segara.

“Ini dilaksakana setiap 2 tahun sekali. Setelah saya pelajari setiap tahun ganjil kena pemelastian Dewa Cili ini,”ujarnya.

Adapun sesuhunan yang ikut dalam pemelastian ini, Ida Betara di Pura Desa, Dalem, Puseh, Pura Pengubengan, Dauh Margi, Batu Pageh serta Pura Gunung Payung yang diawali dengan berkumpul di Pura Desa.

Tiba di Pura Segara Ida Betara menyusuri Pantai dan selanjutnya kelinggihang serta dilaksanakan upacara. Adapun sarana upacaranya berupa Ayaban, dua Bebangkit Palegembal, serta Caru Panca Sata.

Selain itu juga dilaksanakan prosesi menghaturkan gebogan buah yang dilarung ke Segara. Dilanjutkan dengan nunas tirta di tengah laut menggunakan kano. Jro Mesir berharap warisan leluhur ini ke depan bisa terus diketoktularkan ke generasi berikutnya sehingga terus berlanjut dan ajeg.

Setelah prosesi selesai di Segara, selanjutnya Ida Betara kembali ke Balepanjang dan singgah di Pura Pengubengan. Selanjutnya dua hari berikutnya Ida Betara kembali ke Pura Desa. “Dulu hanya palegantung hasil pertanian di larung ke laut, sekarang kita buat seperti gunung atau gebogan sehingga orang mengerti ini Melasti Dewa Cili,” imbuhnya.

Krama yang ikut melasti diakuinya semakin bertambah jumlahnya. Sebab sekarang sudah ada jalan yang bagus menuju ke pantai. Sedangkan dulu harus melalui medan yang terjal. Selain gebogan buah, juga dilenkapi dengan persembahan tumpeng sebagai ucapan puji syukur yang atas karunia Ida Betara. Karena meski sekarang sudah tidak ada pertanian krama Desa Adat Kutuh sudah dikaruniai pantai yang indah yang semakin banyak dikunjungi wisatawan.

“Dulu kan pertanian, sekarang kita dianugrahi pantai yang indah harus kita syukur. Makanya kita juga menghaturkan tumpeng ke segara,” pungkas Jro Mesir. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR