Lontar, Alam Virtual, dan Nyepi yang Bergemuruh

Iklan Home Page

Oleh:
I K. Eriadi Ariana*

NYEPI yang lekat dengan keheningan beberapa pekan terakhir berubah menjadi diskursus penuh gemuruh. Silang pendapat tentang kapan waktu paling ideal merayakan hari suci tahunan itu menggema di berbagai ruang, terutama di dunia virtual.


Setidaknya ada dua hal menarik yang dapat diamati selama wacana tentang Nyepi ini mengemuka di media sosial (medsos). Pertama terkait dengan siapa yang terlibat dalam diskusi-diskusi itu. Kedua, berhubungan dengan landasan berpikir peserta diskusi yang banyak di antaranya menyitir teks-teks kuno warisan tetua Bali.

Arena Terbuka
Sejak kemunculannya, media sosial tidak terelakkan menjelma menjadi panggung diskusi terbuka. Penghuninya (baca: warganet) merupakan kalangan tanpa kelas yang merdeka dalam menyampaikan pendapat. Dunia virtual tidak menyiapkan para penengah yang moderat, pun tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan berbagai hal secara sahih. Penilaian terhadap semua hal yang muncul di layar gawai dikembalikan ke tangan warganet.


Situasi inilah yang terjadi dalam diskusi tentang Nyepi belakangan ini. Diskusi tentang Nyepi di medsos tidak lagi menjadi domain elit agama. Jangan berharap pandangan yang muncul di linimasa medsos diproduksi oleh orang-orang nyastra–sebutan bagi mereka yang suntuk menyelami sastra sehingga memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk membicarakan agama, sastra, maupun kebudayaan.


Asal berani berpendapat, dunia virtual bisa dengan mudah menobatkan seorang warganet sebagai seorang yang ahli: seorang pegiat medsos. Pegiat medsos tidak memiliki batasan untuk memproduksi konten maupun melakukan klaim terhadap apa yang dinyatakan. Syukur-syukur apa yang diproduksi bisa mencuri perhatian warganet lain dan menjadi viral.


Pada diskursus Nyepi banyak di antara pendengung adalah mereka yang awam dengan teks. Sebagai pendengung tugas mereka tentu hanya milu-milu tuwung untuk meramaikan. Banyak dari mereka tidak paham aksara maupun bahasa sumber dari suatu teks, tetapi mengklaim telah masuk ke dalam semesta teks yang mahaluas. Tidak jarang dari mereka adalah pembaca yang membaca teks tersebut lewat alih aksara, terjemahan, atau tafsir orang lain. Syukur masih sempat membaca, karena sebagian lainnya bahkan sama sekali tidak kenal dan bersentuhan.

Baca Juga:  Terima Audensi MPUK Badung, Adi Arnawa Ajak Jaga Kerukunan Antar Umat Beragama


Pada situasi sedemikian rupa, maka janganlah terlalu berharap atas kesahihan rujukan suatu konten. Banyak konten polemik Nyepi dipijakkan pada subjektivitas produser yang hanya menjadikan teks sebagai gincu untuk menjadikannya benar, atau sekadar untuk menyeram-nyeramkan klaim agar tampak literer.


Konten FYP di beranda medsos acapkali justru dibangun dari sisa-sisa perdebatan serta keruntuhan cara berpikir. Rujukan yang tidak holistik, pembacaan dan penerjemahan yang keliru, bahkan pengalaman pribadi semacam petunjuk mimpi bisa dilempar ke publik, kemudian diklaim sebagai data yang sahih atas nama teks. Inilah praktik pemerkosaan terhadap teks, di mana teks dikambinghitamkan pada posisi sebagai korban sekaligus tersangka suatu wacana.


Sementara itu, mereka yang benar-benar paham dengan teks kadang kala memilih untuk menghindari perdebatan. Bahkan, mereka cenderung memilih untuk diam. Ketika mereka mencoba bersuara, konten yang dibangun acapkali tidak terkemas dengan baik, hingga akhirnya terhempas dari algoritma medsos. Ini barangkali merupakan gambaran dari situasi yang dikemukakan Tom Nichols sebagai “the death of expertise [matinya kepakaran]”.

Laku Aguron-guron
Sundarigama, Aji Swamandala, Batur Kalawasan, hingga Kuttara Kanda (maksudnya mungkin Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul) adalah teks-teks yang terseret dalam pusaran diskusi Nyepi di medsos. Terseretnya teks-teks tersebut itu dapat dibaca sebagai penanda baru kultur literasi orang Bali.


Fenomena tersebut setidak-tidaknya menjawab bahwa sebagian orang Bali masih merindukan peran teks-teks warisan leluhur untuk menata kehidupan, meskipun mereka telah lama diasuh dalam cara pandang yang positivistik. Situasi ini seolah menjadi antitesis terhadap pandangan bahwa teks lama tidak lagi digemari orang Bali.

Baca Juga:  Sukses Bertransformasi Dalam Produk & Layanan, Pegadaian Raih Indonesia Brand Champion 2024


Antusiasme orang Bali terhadap teks-teks kuno warisan leluhurnya juga menjadi penanda yang positif bagi masa depan teks. Kini, teks-teks tersebut seolah sedang bergerak dari artefak yang semula sangat eksklusif menjadi warisan kebudayaan yang kian inklusif.


Dahulu kala, orang Bali memandang teks lama sebagai benda tenget-pingit (rahasia dan bernuansa mistik). Ajaran-ajaran di dalam lontar diwariskan melalui garis perguruan (aguron-guron) tertentu yang umumnya bersifat sangat rahasia. Oleh karena itulah kita mengenal istilah aywa wera, yakni narasi tegas tentang ajaran yang wajib diturunkan dalam kondisi pikiran berkesadaran di bawah bimbingan seorang guru yang nyastra.


Narasi aywa wera menempatkan teks sebagai benda kultural yang tidak boleh dibaca sembarangan. Pembacaan dilakukan dengan situasi-situasi layak, baik dari sisi tempat, waktu, situasi, maupun orang-orang yang terlibat.


Seorang guru nyastra memiliki ruang studi dan waktu-waktu yang juga khusus untuk mewariskan ajaran rahasia. Siswa-siswa yang akan diwariskan ajaran diikat oleh studi kelayakan sakala-niskala. Sakala berdasarkan bimbingan intensif dari guru, sedangkan niskala melalui praktik ritus inisiasi (pawintenan). Prinsipnya adalah menghormati teks, bukan sekadar menjadikannya piranti untuk meningkatkan follower atau viewer di platform medsos.

Tanggung Jawab Pewarisan
Perdebatan tentang hari suci Nyepi yang terjadi dalam beberapa pekan ini lahir bukan tanpa sebab. Situasi ini seolah muncul di tengah posisi orang Bali yang berada di persimpangan jalan. Pada satu sisi, teks-teks kuno warisan leluhur masih dirindukan kehadirannya, sementara pada sisi lain ruang untuk mempelajari secara serius masih terbatas.


Ke depan langkah untuk memenuhi kebutuhan itu perlu diupayakan. Pemerintah dapat mempertimbangkan program literasi yang berkelindan pada upaya pengkajian, penerbitan, maupun alih media teks-teks kuno warisan leluhur Bali. Tujuannya tidak lain untuk memasyarakatkan teks, sehingga teks-teks tersebut bisa mengambil perannya sebagai pencerah umat sebagaimana yang termuat di dalam Kakawin Ramayana.

Baca Juga:  Badung Serahkan 2000 NIB dan Luncurkan 1 Unit Mobil Layanan Perizinan Keliling


Apabila ditinjau menurut topik yang disajikan, teks-teks yang menjadi pijakan diskursus Nyepi rata-rata merupakan karya sastra tutur. Tutur artinya petuah-petuah. Maka, sastra tutur merupakan karya sastra yang memuat tentang ajaran-ajaran tertentu.


Tutur menjadi satu jenis sastra tradisional yang sangat digemari masyarakat literer Bali. Popularitas teks-teks tutur itu setidaknya dibuktikan melalui praktik penyalinan, penulisan, alih media, maupun upaya pengkajian yang berlangsung sangat dinamis. Hal inilah yang menjadi alasan jumlah teks tutur berlimpah-ruah, baik yang tersimpan di lembaga-lembaga penyimpanan naskah milik pemerintah, swasta, hingga koleksi pribadi.


Isi dari setiap teks tutur sangat ditentukan oleh garis perguruan (aguron-guron) di mana teks itu hidup dan diwariskan oleh masyarakat pendukungnya. Dengan demikian, narasi yang termuat dalam teks-teks tutur umumnya sangat spesifik menyangkut suatu komunitas atau mandala. Inilah alasan mengapa satu teks tutur dapat menyajikan narasi yang sangat bertentangan dengan teks tutur lain, lebih-lebih dengan laku hidup suatu komunitas masyarakat.


Pada titik ini, prinsip-prinsip kurasi teks sebagaimana yang ditawarkan ilmu filologi perlu diperhatikan secara serius. Sebelum membaca teks, seorang pembaca wajib memastikan keterbukaan dan kejernihan diri, sehingga dapat memeriksa, memilih, dan memilih teks yang akan dibaca secara baik

.
Pembaca berkewajiban memupuk daya kritis berlandaskan prinsip kehati-hatian yang memadai sebelum menarik simpulan atas pembacaan suatu teks. Simpulan yang baik didapat melalui praktik uji terus-menerus. Simpulan jangan sampai ditarik secara tergesa-gesa, yang justru semakin menyesatkan publik. Kita semua perlu kembali duduk dengan tenang sembari menghela napas untuk membaca lebih cermat teks yang terbuka di atas meja kerja.

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR