Denpasar, Baliwakenews.com
Hujan yang turun nyaris tanpa jeda di tengah musim kemarau kembali memantik perbincangan di Bali. Di sejumlah desa adat, warga menyebut fenomena ini sebagai tetenger jagat, pertanda alam sedang “protes” akibat ulah manusia. Di warung kopi hingga balai banjar, keluhan senada muncul, “Musim salah kaprah, yang bener cuma kesalahan kita.”
Dalam tradisi Hindu Bali, seperti tertuang dalam Lontar Roga Sanghara Bhumi dan Tengahing Bhuwana, hujan yang datang di luar waktunya kerap dibaca sebagai bentuk ketidakseimbangan alam. Namun tahun ini, tafsir warga jauh lebih lugas, alam sedang melayangkan kritik keras, lebih pedas dari pidato siapa pun, kepada manusia dan pejabat yang sibuk membuat slogan “melestarikan Bali”, namun lupa mempraktikkannya.
Di beberapa pura di kaki gunung, pemangku menggelar pengeruwatan, memohon agar unsur alam kembali harmonis. Tetapi kehidupan di perkotaan berjalan seperti biasa, pembangunan terus, ruang hijau tinggal alamat nostalgia, dan sungai jadi tempat “titipan” siapa saja yang malas bayar retribusi sampah. “Alam disuruh sabar, padahal manusianya makin kurang ajar,” kata seorang tetua adat, separuh bercanda, separuh benar-benar kesal.
Fenomena hujan kemarau itu pun dianggap sebagai tamparan halus atau mungkin sudah bukan halus lagi, bagi pejabat yang menutup mata terhadap kerusakan lingkungan. Di beberapa daerah, longsor kecil muncul setelah hujan deras, memperlihatkan tebing yang sebelumnya dikikis demi vila atau kafe berpanorama “instagramable”. “Mungkin alam sedang mengirim draf laporan kinerja. Isinya merah semua,” ujar seorang warga, menyindir.
Sejumlah penyungsung pura menyebut turunnya hujan di musim panas sebagai campur tangan energi Baruna, dewa air, untuk meredam panas bumi yang terlalu tinggi akibat perilaku manusia. Dalam bahasa satirenya, mereka menambahkan, “Baruna turun tangan karena manusia dan pejabat sudah angkat tangan.”
Di tengah situasi ini, berbagai desa adat mengingatkan kembali pentingnya menjaga Panca Maha Bhuta, unsur tanah, air, panas, angin, dan ruang yang selama ini tampaknya kalah oleh unsur “izin baru” dan “pembangunan baru”. Upacara dilakukan, tirta dimohonkan, tetapi warga menyadari ada yang lebih penting dari sekadar ritual: disiplin menjaga alam, dari pejabat hingga warga paling kecil.
Seorang pemangku menutup upacara dengan kalimat sederhana namun menohok,
“Kalau musim sampai tersesat, berarti manusianya sudah jauh lebih tersesat. Lontar sudah mengingatkan. Alam sudah bicara. Tinggal pejabat yang pura-pura tidak dengar.” BWN-01





























