Konsep Ramah Regulasi dan Budaya Bali Jadi Magnet Perayaan Tahun Baru di GWK

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com


Perayaan malam pergantian Tahun Baru 2026 di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Desa Ungasan, Kuta Selatan (Kutsel), Rabu (31/12/2025) malam, membuktikan bahwa kemeriahan tidak selalu bergantung pada pesta kembang api. Dengan konsep perayaan yang menyesuaikan kebijakan pemerintah, GWK tetap menjadi magnet ribuan pengunjung yang ingin merayakan malam tahun baru di destinasi ikonik Bali.


Melalui event GWK Bali Countdown yang memasuki penyelenggaraan kelima, pengelola menghadirkan alternatif hiburan berupa Musical Laser Show sebagai puncak perayaan. Konsep ini dipilih sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi sekaligus upaya menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung. Pantauan di lokasi menunjukkan arus pengunjung terus meningkat menjelang tengah malam, dengan ribuan orang memadati area pertunjukan untuk mengikuti rangkaian acara dan detik-detik pergantian tahun.

Baca Juga:  Bali United Menang 2 Kali Beruntun, Kenzo Nambu Ingatkan Rekannya; Tetap Rendah Hati


General Manager of Marketing Communication and Event GWK Cultural Park, Andre R Prawiradisastra, menjelaskan bahwa secara konsep, perayaan tahun baru di GWK tetap mengedepankan musik, hiburan, serta pelibatan pelaku UMKM lokal. Namun, penyesuaian dilakukan agar acara tetap meriah tanpa melanggar aturan yang berlaku.


“Empat tahun sebelumnya GWK dikenal dengan The Biggest Fireworks in Bali. Tahun ini kami meniadakan kembang api karena ada kebijakan pemerintah yang harus kami patuhi,” ujarnya.


Sebagai gantinya, pengelola menyiapkan pertunjukan laser musikal yang ditampilkan tepat pada detik-detik pergantian tahun, menjadi momen puncak yang dinantikan pengunjung.


Dari sisi kunjungan, Andre mengungkapkan penjualan tiket hingga Senin malam telah mencapai 8.000 tiket dan diperkirakan meningkat hingga sekitar 10.000 pengunjung pada hari pelaksanaan. Menurutnya, tren pembelian tiket memang biasanya melonjak pada hari-H.

Baca Juga:  Bupati Giri Prasta Dinobatkan Sebagai Pembina Pelayanan Publik Terbaik


“Kami optimistis jumlah pengunjung akan bertambah. Astungkara, harapannya seluruh rangkaian acara bisa berjalan nyaman dan aman,” katanya.


Ia menegaskan, GWK Cultural Park memiliki kapasitas area yang sangat memadai. Dua kawasan utama yang saling terhubung memungkinkan pengunjung tersebar dengan baik, sehingga potensi kepadatan dapat dikendalikan.


Selain hiburan modern, perayaan Tahun Baru di GWK tetap menempatkan budaya Bali sebagai elemen utama. Setiap rangkaian acara dibuka dengan tarian Kecak, yang telah menjadi ciri khas pertunjukan di kawasan GWK. Menjelang tengah malam, sebelum laser show dimulai, pengunjung juga disuguhi penampilan seni dari sanggar-sanggar yang rutin tampil di GWK.

Baca Juga:  Wayan Edy Sanjaya : Sekolah Swasta Harus “Naik Kelas”


“Budaya selalu menjadi bagian dari setiap event besar di GWK. Kami ingin kemeriahan tetap terasa tanpa meninggalkan identitas Bali,” jelas Andre.


Di tengah isu penurunan kunjungan wisata di sejumlah destinasi, Andre menyebut trafik pengunjung ke GWK relatif stabil. Meski wisatawan domestik mengalami penurunan, kunjungan wisatawan mancanegara justru menunjukkan tren peningkatan.


“Kalau dibandingkan tahun lalu, trafik ke GWK hampir sama. Artinya, minat berkunjung ke GWK tidak menurun,” pungkasnya. Ramai: Suasana detik-detik menjelang pergantian tahun di GWK. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR