Mangupura, baliwakenews.com
Angin berembus lebih kencang dari biasanya di Pantai Kuta. Langit yang kelabu, debur ombak yang tak bersahabat, serta pasir pantai yang beterbangan menjadi pemandangan dominan dalam beberapa hari terakhir. Pantai yang identik dengan keramaian wisatawan itu kini terasa lebih lengang seolah sedang menarik napas di tengah amukan cuaca ekstrem.
Hujan lebat yang disertai angin kencang di wilayah pesisir Badung tak hanya mengubah wajah Pantai Kuta, tetapi juga menggeser ritme pariwisata. Jumlah wisatawan yang biasanya memadati bibir pantai perlahan menyusut. Aktivitas berjemur, berselancar, hingga sekadar duduk menikmati matahari terbenam nyaris tak terlihat.
Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana, mengakui perubahan itu terasa jelas. Menurutnya, angin kencang membuat wisatawan memilih menjauh dari pantai. “Kalau anginnya seperti ini, siapa yang berani berlama-lama di pantai,” ujarnya singkat, menggambarkan kekhawatiran yang kini dirasakan pelaku pariwisata setempat.
Tak hanya manusia yang terdampak, alam pun menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Sejumlah pohon waru yang berjajar di sepanjang Pantai Kuta tampak miring, akarnya tergerus abrasi, batangnya tak lagi tegak menantang angin. Beberapa bahkan nyaris menyentuh pergola—fasilitas pantai yang belum sempat digunakan, namun sudah terancam rusak.
“Syukurnya cepat ditangani. Pohon yang miring kita potong bersama DLHK, karena sudah ada yang menyentuh pergola. Jangan sampai belum dipakai, sudah rusak duluan,” kata Alit Ardana.
Abrasi menjadi cerita lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Di sekitar Pos Satgas Pantai Kuta, akar-akar pohon mulai terangkat ke permukaan, seolah tak lagi sanggup mencengkeram pasir yang terus digerus ombak.
“Di depan Satgas itu abrasinya luar biasa. Akar sudah kelihatan. Untung ada penataan pantai. Kontraktor ikut membantu dengan alat berat dan batu-batu breakwater dipakai untuk menopang pohon agar tidak roboh,” tambahnya.
Di tengah situasi ini, Satgas Pantai Kuta tetap berjaga. Pengawasan diperketat, peringatan disampaikan, dan keselamatan menjadi prioritas utama. Pantai mungkin sedang sepi, namun kewaspadaan justru tak boleh surut.
Cuaca ekstrem ini menjadi pengingat bahwa Pantai Kuta bukan sekadar ruang wisata, melainkan ekosistem pesisir yang rentan. Saat angin dan ombak mengambil alih panggung, manusia hanya bisa menepi menunggu alam kembali ramah, dan Pantai Kuta kembali dipenuhi langkah-langkah wisatawan. BWN-04





























