Tabanan, baliwakenews.com – Hari itu, Senin sore (7/7/2025), suasana di depan Pasar Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, berubah drastis. Jalan nasional yang biasanya ramai dilalui kendaraan dari arah Denpasar menuju Gilimanuk, mendadak lumpuh total. Sebuah lubang besar menganga di tengah badan jalan, seperti mulut raksasa yang siap menelan apa pun yang melintas.
Di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang terjebak dan aparat kepolisian yang sibuk mengatur lalu lintas, masyarakat setempat menatap dengan pasrah. Ini bukan pertama kalinya jalan itu ambles. Namun kali ini, kerusakannya lebih parah.
“Sudah empat kali jalan ini rusak seperti ini. Sejak pertama kelihatan retak di pertengahan Juni lalu, kami sudah khawatir,” ujar I Putu Sukerata, Perbekel Desa Bajera. Ia berdiri tak jauh dari lokasi, memperhatikan barikade yang membentang dan lubang sedalam sekitar enam meter yang terus melebar.
Puncaknya terjadi sekitar pukul 16.00 Wita. Setelah hujan deras mengguyur Bajera sejak pagi, bagian tengah jalan runtuh. Separuh badan jalan menghilang. “Kami sudah pasang rambu peringatan sejak kemarin, tapi ya… tetap saja jebolnya makin lebar,” kata Sukerata, menggeleng pelan.
Jalan yang ambles ini, menurut Sukerata, adalah peninggalan masa kolonial. Dibangun dengan teknik lama, tanpa penyangga modern, struktur jalan itu seolah tak lagi sanggup menopang beban lalu lintas masa kini yang padat dan berat. Truk-truk, bus antarkota, mobil pribadi, sepeda motor—semua berdesakan melintasi jalur itu setiap hari. Belum lagi, hujan yang nyaris tak berhenti selama seminggu terakhir, membuat kondisi tanah di bawah jalan makin labil.
“Kalau hujan besar, air langsung menggerus bagian bawah jalan. Tanahnya mungkin sudah kosong, tapi di atasnya masih kelihatan mulus. Tahu-tahu ambles,” jelasnya.
Kini, jalan itu ditutup total. Garis polisi dan barikade berdiri tegas, membatasi lubang raksasa dari aktivitas warga dan pengendara. Polisi lalu lintas dari Polres Tabanan berjaga penuh sejak pagi. Arus kendaraan dialihkan ke mana-mana, menciptakan antrian panjang di jalur alternatif seperti Antap, Pupuan, hingga ke jalan menuju Singaraja.
Di tengah kemacetan yang menjalar hingga beberapa kilometer, warga ikut turun tangan. “Kami bersama aparat Polsek Selemadeg bantu arahkan lalu lintas. Supaya tidak makin parah,” ujar Sukerata.
Camat Selemadeg, I Wayan Budhiarsana, juga turun langsung ke lokasi. Ia menyebut kendaraan besar sudah tak mungkin lewat. “Kami sarankan kendaraan dari arah Gilimanuk ambil jalur Antosari–Pupuan. Dari Denpasar bisa lewat Jelijih, atau menepi di rest area,” ujarnya. Meski demikian, jalur alternatif itu pun mulai padat.
Masalah tak berhenti di situ. Sehari sebelumnya, banjir merendam ruas jalan di Jembatan Yeh Nu, Banjar Penyalin, Desa Samsam. Arus kendaraan dari dua arah lumpuh selama berjam-jam. Wilayah Selemadeg seperti sedang diuji bertubi-tubi oleh alam.
Di sisi lain, Satuan Lalu Lintas Polres Tabanan dan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tabanan bergerak cepat menyebarkan informasi pengalihan arus. “Kami minta masyarakat ikuti arahan petugas dan gunakan jalur alternatif. Yang penting keselamatan,” kata Sekdis Kominfo, I Gusti Putu Winiantara.
Meski begitu, di balik semua penanganan cepat itu, tersisa satu pertanyaan besar: mengapa kerusakan yang telah terpantau sejak 19 Juni lalu belum juga ditangani secara serius? Mengapa menunggu hingga lubang benar-benar menganga dan lalu lintas nasional lumpuh?
Jalan nasional semestinya menjadi urat nadi yang terus dijaga. Tapi di Bajera, jalan itu seperti dibiarkan menua sendirian. Dan ketika akhirnya runtuh, barulah kita semua terjaga. BWN-01


































