I K. Eriadi Ariana
KABUPATEN Badung pada bulan November 2025 memperingati HUT ke-16 Ibu Kota Mangupura. Mangupura ‘kota yang menawan’, ditetapkan sebagai Ibu Kota Kabupaten Badung sejak 16 November 2009 silam. Kota ini terletak di Kecamatan Mengwi, yang secara langsung terhubung dengan jejak sejarah satu titik politik penting pada masa pra-kemerdekaan, yakni Kerajaan Mengwi.
Pada kisaran abad ke-17, sejumlah daerah bawahan Kerajaan Gelgel di Bali berkembang menjadi kerajaan-kerajaan mandiri. Peristiwa tersebut selanjutnya melahirkan kerajaan-kerajaan kecil yang membagi Pulau Bali. Sembilan kerajaan itu adalah Klungkung, Karangasem, Buleleng, Badung, Bangli, Gianyar, Mengwi, Tabanan, dan Jembrana.
Pada masa selanjutnya Mengwi dan Karangasem mengalami perkembangan pesat. Dua kerajaan ini mengembangkan politik ekspansi hingga ke seberang lautan. Karangasem mengepakkan sayap ke timur dan berhasil menaklukan Lombok, sementara Mengwi menerjunkan laskar ke barat dan mampu menguasai Blambangan.
Pada era setelahnya, pengaruh Mengwi terus berkembang, baik secara politik maupun ekonomi. Pengaruh tersebut bertahan hingga awal abad ke-19, ketika Kerajaan Badung–awalnya berada di bawah kuasa Mengwi–semakin menunjukkan kuasanya di atas panggung politik Bali. Seiring berjalannya waktu, Kerajaan Badung pada akhirnya tidak saja mampu melepaskan diri dari cengkraman Mengwi, melainkan berhasil menggeser peran Mengwi sebagai simpul politik di Bali Selatan.
Dari Simpul Eko-teologis ke Situs Politik dan Pariwisata
Melansir situs resmi Kabupaten Badung, badungkab.go.id, Mengwi–dan Mangupura–dijelaskan terhubung dengan Pucak Mangu dan Uluwatu. Keduanya, yakni Pucak Mangu dan Uluwatu, adalah situs penting orang Bali.
Mengwi, Pucak Mangu, dan Uluwatu dianggap terhubung melalui garis imajiner, yang menandakan konsep hulu-teben atau sagara-giri. Hulu artinya sesuatu yang lebih tinggi. Dapat disepadankan sebagai kepala. Sementara itu, teben adalah sesuatu yang lebih rendah. Sepadan dengan pengertian kaki. Adapun giri berarti gunung, sedangkan sagara merujuk laut.
Hulu-teben atau sagara-giri adalah konsep pokok orang Bali. Konsep yang konon banyak dipengaruhi ajaran Siwaisme ini selanjutnya terhubung dalam berbagai wujud kultural, misalnya tentang aspek batin-material, bapak-ibu, hening-energik, diam-bergerak, hingga suci-leteh ‘kotor’. Apabila ditarik pada lanskap ekosistem fisik (bhuwana agung), konsep hulu-teben menghasilkan pola mandala yang menjadi poros tata-kelola lingkungan.
Konsep hulu-teben Badung menempatkan Pucak Mangu sebagai hulu yang mewakili elemen purusa (gunung, rohani, ketenangan, bapak, mengunduh kesucian), sementara Uluwatu adalah teben yang mewakili elemen pradhana (laut, jasmani, energi, ibu, melebur kekotoran). Adapun Mengwi atau Mangupura adalah poros pertemuan kedua unsur atau energi tersebut. Pada kota inilah kemurnian dari purusa yang tenang dipadukan dengan energi pradhana yang menyala-nyala untuk menghidupi Bumi Keris serta seluruh makhluk yang hidup di dalamnya. Perpaduan itu adalah “pesona” yang barangkali dicita-citakan pendirinya.
Mengapa Pucak Mangu dan Uluwatu penting diwacanakan dalam menjalin konsep “pesona” yang terikat pada kata Mangupura? Jawabannya dapat dijejak dalam teks-teks lama yang sampai kepada kita sampai saat ini.
Sejumlah lontar telah mewacanakan peran Gunung Mangu (Pucak Mangu) maupun Uluwatu dalam mandala Pulau Bali. Klaim ini setidaknya ditemukan dalam teks-teks yang menarasikan kosmologi Bali, antara lain Usana Bali, Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, dan Kakawin Purwaning Gunung Agung.
Usana Bali Rajapurana Batur menjelaskan Gunung Mangu–disebut Gunung Mala–sebagai satu dari empat Gunung Catur Lokapala Balidwipa. Gunung Catur Lokapala merupakan empat gunung yang menyangga Pulau Bali. Keempatnya adalah Gunung Lempuyang (timur), Andakasa (selatan), Baratan (barat), dan Mala (utara). Menurut teks, empat gunung ini telah ada jauh sebelum Gunung Agung dan Gunung Batur dibawa dari Jambudwipa dan diletakkan di Bali oleh Bhatara Pasupati.
Empat gunung tersebut adalah tempat empat tokoh suci (hyang) bersemayam. Gunung Lempuyang adalah kahyangan Hyang Gnijaya, Gunung Andakasa adalah kahyangan Hyang Tugu, Gunung Baratan kahyangan Nata Watukawu, dan Gunung Mala kahyangan dari Hyang Mayadanawa.
Selanjutnya, dalam teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, Gunung Mangu dinarasikan sebagai simpul “eko-teologis” yang mewakili madya mandala. Hyang Pasupati pada masa lampau dikisahkan telah memotong puncak Gunung Mahameru di Jambudwipa menjadi tiga bagian. Potongan itu dibawa ke Bali dan Lombok sehingga berturut-turut menjadi Gunung Agung, Gunung Rinjani, dan Gunung Batur.
Ketika dibawa ke Bali, serpihan-serpihannya tercecer di Pulau Bali. Serpihan itu menjadi Gunung Tapsai, Pangelengan, Mangu, Silanjana, Beratan, Watukaru, Nagaloka, Pucak Sangkur, Bukit Rangda, Tratebang, Bukit Padangdawa, Andakasa, Uluwatu, Byaha, Bwasamuntig, Lempuyang, dan Gunung Sraya. Pada akhirnya gunung-gunung tersebut ditetapkan sebagai situs pemujaan Dewa Nawa Sangha. Adapun Gunung Mangu ditetapkan sebagai kahyangan Hyang Danawa yang bersemayam menjaga poros tengah.
Hyang Pasupati memberikan sejumlah kuasa kepada anaknya, Hyang Danawa, ini. Hyang Danawa dilahirkan sebagai representasi dari Siwa Iswara yang mengupayakan perlindungan ke segala arah dan teguh menjaga jiwa Pulau Bali beserta isinya.
Konon, pendiri Kerajaan Mengwi pun mendapat pencerahan di gunung tersebut sebelum membentuk kerajaan. Apabila kedua narasi ini dijahit, mungkin motif awal pendirian Mengwi adalah untuk mengupayakan perlindungan bumi beserta rakyatnya. Sebuah negara yang menawarkan cita-cita harmoni. Bukan sebagai negara yang melaju dalam imaji megah tetapi mengorbankan harmoni (mangu) alam.
Narasi tidak kalah romantis ditulis Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul dalam menggambarkan Uluwatu. Pada teks ini, Uluwatu juga disebut gunung yang dalam konstruksi mandala ditempatkan di barat daya. Dewa yang bersemayam di Uluwatu bergelar Hyang Sudarma.
Hyang Sudarma merupakan putra Hyang Pasupati yang ditugaskan menjaga kawasan barat daya Pulau Bali. Ia adalah perwujudan Hyang Rudra di surga. Fungsinya mencegah sekaligus meruwat segala macam hal buruk dan dosa yang menjangkiti Pulau Bali.
Kakawin Purwaning Gunung Agung menarasikan kawasan Uluwatu sebagai satu-kesatuan lanskap dengan daerah sekitarnya, yang bernama Gunung Rata atau Gunung Pecatu. Kawasan ini memiliki ciri lingkungan yang minim sumber air. Oleh karena itu, makhluk hidup yang tinggal di sana hanya akan mengandalkan air dari sumber tadahan hujan.
Meskipun dinarasikan minim sumber air, Gunung Pecatu secara terang dinyatakan bukan wilayah tak bertuan. Justru kawasan ini telah dihuni manusia sejak masa yang lampau.
Teks Babad Tambyak menjelaskan jika di sekitar kawasan ini pernah terhimpun Laskar Kerajaan Bedahulu. Laskar ini dipimpin oleh Ki Tambyak, seorang patih Raja Bedahulu yang berjuang hingga titik darah penghabisan mempertahankan tanah-airnya dari gempuran Laskar Majapahit.
Menurut beberapa teks, beberapa pesisir di Bukit Pecatu, khususnya di sekitar Uluwatu, adalah tujuan wisata spiritual Dang Hyang Nirarta. Bahkan tokoh spiritual yang namanya tersohor sampai saat ini di benak orang Bali dikisahkan moksa di tempat tersebut.
Salampah laku Nirartha memberi sorotan bahwa debur ombak laut selatan yang setia menghantam karang Uluwatu bukan saja lahir sebagai perwujudan energi kreatif, tetapi sekaligus panggilan untuk kembali kepada kemurnian esensial. Itulah model wisata yang dikonsep dan diidam-idamkan para “wisatawan asli” dari masa silam. Model wisata itu bernama wisata ketenangan. Bukan model pariwisata yang justru berbalik mencipta beban ekologis maupun sosial-kultural yang belakanan kian sering dipertontonkan.
Lemah Sasih-Air Mih, 24 November 2025


































