baliwakenews.com – Setiap menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Bali menggelar upacara Mecaru Pengerupukan, sebuah ritual sakral untuk menetralisir energi negatif sebelum memasuki hari suci penyepian. Salah satu elemen unik dalam ritual ini adalah nasi cacah 108, yang kerap menjadi pertanyaan bagi mereka yang belum memahami makna mendalam di baliknya.
Bagi masyarakat awam, nasi cacah mungkin hanya tampak seperti sesajen sederhana. Namun, menurut Guru Nabe Budiarsa, seorang pinisepuh dari Pasraman Sastra Kencana, angka 108 bukanlah angka sembarangan. Ia merupakan bagian dari susunan energi suci yang dipercaya memiliki kekuatan harmonisasi semesta.
“Angka 108 ini memiliki akar yang sangat dalam dalam ajaran Hindu. Ia berhubungan dengan aksara suci, urip (nilai hidup) dari aksara-aksara tersebut, dan juga keseimbangan antara manusia dan Bhuta Kala,” jelasnya.
Menurut ajaran Hindu, angka 108 muncul dari perhitungan urip aksara suci, Aksara Ang dan Ah memiliki urip 8. Aksara Sa, Ba, Ta, A, dan I memiliki total urip 33. Aksara Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, dan Ya memiliki urip 59.
Jika dijumlahkan, angka tersebut membentuk 108, angka yang diyakini melambangkan total energi dari Bhuta Kala.
Dalam filosofi Hindu, Bhuta Kala adalah kekuatan alam yang bisa bersifat positif maupun negatif. Jika tidak diseimbangkan, kekuatan ini dapat membawa gangguan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, nasi cacah 108 dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan dan permohonan agar Bhuta Kala tidak mengganggu keseimbangan alam.
Ritual Mecaru Pengerupukan dilakukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Saat malam tiba, suara gamelan, kentongan, dan obor api menyala di berbagai penjuru desa, mengiringi pawai Ogoh-Ogoh yang melambangkan kekuatan jahat. Namun, sebelum Ogoh-Ogoh diarak dan dibakar, nasi cacah 108 sudah lebih dulu dihaturkan kepada Bhuta Kala sebagai tanda pemberian dan pengendalian energi negatif.
“Masyarakat Hindu percaya bahwa dengan memberikan sesaji ini, kita mengakui keberadaan Bhuta Kala dan mengharmonisasikannya agar tidak mengganggu kesejahteraan manusia,” tambah Guru Nabe.
Ritual ini mengajarkan bahwa harmoni tidak hanya terjadi dalam diri manusia, tetapi juga dalam hubungan kita dengan alam dan energi yang tak kasat mata. Dalam kesunyian Nyepi, keseimbangan itu semakin ditegaskan, ketika manusia berdiam diri, menghormati alam, dan memberi ruang bagi semesta untuk kembali tenang.
Bagi mereka yang tidak berasal dari Bali, mungkin sulit memahami mengapa sebuah ritual seperti Mecaru Pengerupukan begitu penting. Namun, di pulau ini, setiap detail, setiap sesaji, hingga setiap butir nasi cacah memiliki makna mendalam.
Dan pada akhirnya, bukan hanya tentang nasi cacah 108. Ini tentang sebuah cara hidup, tentang bagaimana manusia menghormati siklus kosmis dan menjaga keharmonisan dengan alam yang lebih besar dari dirinya sendiri. BWN-01





























