Ekonomi Sarati Naik Kelas, Desa Adat Buleleng Bentuk 17 Kelompok Sarati Banten

Iklan Home Page

Singaraja, baliwakenews.com

Tukang banten atau yang lebih dikenal dengan istilah sarati merupakan salah satu profesi yang sebagian besar digeluti oleh kaum perempuan yang telah tergolong uzur. Dulu profesi ini dipandang sepele, namun belakangan profesi ini sangat menjanjikan.

Dalam pembuatan sesajen atau banten banyak makna filosofi yang harus diterapkan. Dahulu pekerjaan sebagai seorang sarati dipandang sebelah mata karena terlihat tidak menjanjikan seperti PNS, Polisi, Dokter, maupun Guru. Bekerja sebagai seorang Sarati kerap dipandang hanya dapat bertumpu dengan upacara keagamaan. Jika tidak ada upacara, maka tidak ada penghasilan.

Seiring perkembangan jaman, desa adat Buleleng membuat terobosan dengan membangun tempat kremasi (pembakaran jenazah) di areal setra desa adat Buleleng. Untuk melayani umat, desa adat Buleleng membentuk sejumlah kelompok bekerjasama dengan para Sarati pada 14 banjar adat.

Baca Juga:  Pengetatan Pengawasan Di Pos Sekat Pancasari, 250 Kendaraan Diperiksa Sebagian Putar Balik

Ketika Covid-19 melanda masyarakat tidak diperkenankan berkumpul, warga yang melaksankan upacara kematian mulai berfikir praktis. Mereka meminta bantuan agar mayat dapat dikremasi dengan sesajen yang ada. Disinilah aktifitas sarati mulai meningkat sehingga perputaran ekonomi mulai tumbuh.

Melemahnya Covid-19 dan adanya krematorium tentu berpengaruh dengan pendapatan seorang sarati banten. Krematorium menjadi batu loncatan dalam meningkatkan ekonomi seorang sarati, seperti diakui salah seorang sarati, Jro mangku I Kadek Bayu Hermawan Suryadiasa asal banjar adat Peguyangan.

”Upacara di Petunon yang banyak, saat itu kami kewalahan menangani. Saat itu kami hanya mendapatkan jeda dua hari, hari ini dapat giliran lagi dua harinya lagi dapat. Namun saat ini kami semakin banyak dapat job, tidak hanya untuk kremasi. Banten seperti tiga bulanan, menikah, maupun syukuran rumah juga ramai,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Pemkab Buleleng Usulkan Metempeng Gandong Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Kini sedikitnya terbentuk 17 kelompok sarati banten. Berbeda dengan masa lalu, aktivitas sarati dalam melayani umat dan kebutuhan akan sesajen pengabenan belakangan ini menjadi setiap hari. Guna menghindari adanya kecemburuan, desa adat Buleleng sebagaimana diakui kelian desa adat Nyoman Sutrisna membentuk kelompok pada masing- masing banjar adat.

“Sarati di Desa adat Buleleng kami atur secara bergantian, sehingga tidak ada yang berebut atau saling mendahului. Dengan penggunaan dari bahan banten, itu selalu silih berganti karena banten yang digunakan semua baru. Nah buah yang di pakai dalam pitra yadnya kami kumpulkan untuk eco-enzym nah ini perputaran yang baik dari segi ekonomi dan lingkungan yang dijaga,” ungkapnya.

Baca Juga:  Usai Nonton Adu Jangkrik, Siswi SMP Disetubuhi Pria Beristri

Kini ekonomi para sarati banten khususnya di desa adat Buleleng mulai naik kelas. Minimal perputaran ekonomi dilingkup desa adat Buleleng semakin meningkat. Semoga profesi sarati banten dapat menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, pengabdian dapat ekonomi juga dapat. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR