Singaraja, Baliwakenews.com
Kabut tipis masih menggantung di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Rabu 7 Januari 2026 pagi, ketika suara gamelan dan doa adat mengawali langkah besar pembangunan Bali Utara–Selatan. Di titik perbukitan yang selama ini dikenal rawan kecelakaan, Gubernur Bali Wayan Koster berdiri di hadapan warga, tokoh adat, dan jajaran pemerintah pusat. Hari itu, pembangunan lanjutan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani pada Titik 9 dan 10 resmi dimulai.
Upacara Adat Ngeruak yang sakral berpadu dengan seremoni ground breaking. Bagi Koster, momen ini bukan sekadar seremoni pembangunan jalan, melainkan penanda komitmen panjang yang kembali ia pacu sejak dilantik untuk periode kedua pada 20 Februari 2025.
“Shortcut ini kebutuhannya sangat mendesak, untuk penumpang maupun logistik. Karena itu saya minta agar Titik 9 dan 10 segera dilanjutkan, dan sekarang akhirnya berjalan,” ujar Koster, menatap jalur berkelok dengan kemiringan ekstrem yang selama ini menjadi momok bagi pengendara.
Jalan yang Menguji Nyali
Ruas Singaraja–Mengwitani dikenal sebagai salah satu jalur paling berisiko di Bali. Kelandaian mencapai 27 persen, tikungan tajam beruntun, dan catatan kecelakaan yang tak sedikit. Data Direktorat Jenderal Bina Marga menyebut, rata-rata terjadi sekitar 140 kecelakaan setiap tahun, dengan korban meninggal mencapai belasan orang.
Di titik inilah pemerintah berupaya “meluruskan” tantangan alam melalui perbaikan geometrik jalan. Dengan pembangunan Titik 9 dan 10 sepanjang total 3,90 kilometer—terdiri atas jalan 2,95 kilometer dan jembatan 942 meter—waktu tempuh yang semula lebih dari 21 menit dipangkas menjadi hanya sekitar 8 menit.
“Kelandaian kita turunkan maksimal menjadi 10 persen, tikungan berkurang drastis, dan emisi karbon kendaraan bisa ditekan sekitar 10 persen,” jelas Direktur Pembangunan Jalan Ditjen Bina Marga, Asep Syarif Hidayat.
Dikebut Sejak Hari Pertama
Koster mengisahkan, percepatan shortcut ini langsung ia dorong bahkan hanya beberapa minggu setelah dilantik kembali. Ia mendatangi Menteri Pekerjaan Umum untuk memastikan proyek yang dirancang dari Titik 1 hingga Titik 12 tidak terhenti di tengah jalan.
“Saya kawal dari tender, kontrak, sampai penentuan hari baik. Bukan untuk intervensi, tapi memastikan tidak berlarut-larut,” katanya.
Peran Pemerintah Provinsi Bali, lanjut Koster, krusial dalam pembebasan lahan. Hingga kini, 316 bidang tanah telah dibebaskan dengan nilai mencapai Rp193 miliar, agar pembangunan berjalan tanpa hambatan sosial.
Ke depan, medan yang lebih berat masih menanti di Titik 11 dan 12. Namun Koster telah memasang target: pembebasan lahan dimulai 2026, konstruksi menyusul akhir 2027 atau awal 2028, dan seluruh shortcut tuntas sebelum masa jabatannya berakhir pada 20 Februari 2030. “Saya ingin shortcut ini minimal sampai Titik 12 selesai sebelum 2030,” tegasnya.
Pariwisata, Macet, dan Masa Depan Bali
Bagi Koster, shortcut bukan hanya soal jalan, tetapi tentang masa depan Bali. Dengan kontribusi pariwisata mencapai 66 persen terhadap perekonomian daerah, kelancaran konektivitas menjadi kunci daya saing Pulau Dewata.
Sepanjang 2025 hingga akhir Desember, jumlah wisatawan menembus 7,05 juta orang—tertinggi sepanjang sejarah Bali. Angka itu melampaui capaian pra-pandemi yang berkisar 6,2 juta wisatawan.
“Kalau ada yang bilang Bali sepi, itu keliru. Justru lonjakannya sangat signifikan,” katanya.
Namun lonjakan wisatawan membawa konsekuensi: kemacetan dan persoalan sampah. Menurut Koster, masalah macet tak bisa diselesaikan dengan wacana semata.
“Ini bukan soal ceramah, tapi soal infrastruktur dan transportasi. Lima tahun ke depan kita fokus menghubungkan Bali Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Tengah,” ujarnya.
Dukungan pemerintah pusat pun mengalir. Dari 13,9 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia, sekitar 45 persen memilih Bali. Devisa yang dihasilkan diperkirakan mencapai Rp170 triliun—lebih dari separuh devisa pariwisata nasional.
Fokus Bekerja, Bukan Ribut
Di tengah sorotan publik dan riuh media sosial, Koster memilih bersikap santai. Kritik dan perdebatan ia anggap sebagai risiko kepemimpinan.
“Tugas kita bekerja, bukan ribut di media sosial. Bully-bullyan itu ujian ketahanan mental. Saya nikmati saja,” Aucapnya dengan nada ringan.
Namun kepada para pelaksana proyek, pesannya tegas: kualitas dan ketepatan waktu adalah harga mati.
“Kualitas nomor satu dan harus tepat waktu. Jangan bagus tapi molor. Saya pantau langsung,” katanya.
Di tengah kabut Gitgit yang perlahan menipis, suara alat berat mulai terdengar. Jalan yang dulu dikenal berbahaya kini bersiap berubah menjadi jalur penghubung harapan—menghubungkan Bali Utara dan Selatan, sekaligus mengantarkan Pulau Dewata melaju ke masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan. BWN-03





























