Di Balik Air Tenang Dam Oongan, Kisah Cinta, Tangisan, dan Mayat Mengambang

Iklan Home Page

Denpasar, baliwakenews.com

Di ujung Jalan Nojasaraswati, Denpasar Utara, tersembunyi sebuah bendungan kecil yang nyaris dilupakan orang. Namanya Dam Oongan. Di tengah riuh kota yang terus tumbuh, tempat ini menyimpan diam yang panjang, seolah menyembunyikan kisah yang tak selesai diceritakan.

Tak banyak yang tahu kapan tepatnya dam ini dibangun. Warga tua di seputaran Ubung Kaja menyebutnya sudah ada sejak mereka kecil. “Tiang ngalih nguda-ne, Dam Oongan sampun wenten, nika tempat main semeton oongan uli banjar (Sejak saya masih kecil, Dam Oongan sudah ada. Itu tempat bermain anak-anak dari banjar),” ujar Pak Nengah, 74 tahun, sembari menatap aliran air yang bening tapi lamban.

Baca Juga:  KONI Denpasar Gelar Tes Fisik Tahap II, Diikuti Hampir 500 Atlet Unggulan

Dalam bahasa Bali, “oongan” berarti anak kecil. Konon, nama dam itu berasal dari kebiasaan anak-anak desa yang sering mandi dan bermain air di sana pada tahun 1960-an. Tapi ada versi lain, yang lebih suram. Diceritakan secara turun-temurun, dam itu pernah menjadi tempat seseorang mengakhiri hidupnya karena cinta yang tak direstui. Sejak itu, warga setempat kerap mendengar suara tangis kecil di tengah malam, meski tak ada seorang pun terlihat.

Cerita itu kerap dianggap dongeng belaka. Namun, kisah mistis Dam Oongan kembali mencuat ketika pada suatu siang, Rabu 25 Juni 2025, warga menemukan sesosok mayat mengambang diam di pinggir dam. Air yang biasanya tenang mendadak menjadi saksi bisu tragedi. Penemuan itu membuat tim SAR, polisi, hingga Balawista turun tangan. Belum diketahui apakah ini kecelakaan, bunuh diri, atau ada sesuatu yang lebih dalam.

Baca Juga:  Dies Natalis Unwar Ke-36 Dirangkaikan Launching buku "Menabur Pesona, Merebut Kuasa"

Namun, bagi warga sekitar, kejadian itu seperti membuka kembali bab lama yang coba dilupakan.

“Saya pernah dengar dari almarhum kakek, dam itu dulu bekas aliran subak, tapi juga tempat persembunyian saat masa pendudukan Jepang. Ada banyak terowongan kecil yang ditutup,” kata Putu Aditya, warga muda yang aktif dalam komunitas sejarah lokal.

Klaim itu belum pernah dibuktikan secara arkeologis. Namun, mengingat banyaknya saluran irigasi tradisional di Denpasar yang terhubung dengan jalur subak tua, kemungkinan adanya sisa-sisa jalur bawah tanah bukan mustahil.

Baca Juga:  Evakuasi Jasad Membusuk dan Bengkak, Aparat Turunkan Mobil Taktis Rescue

Dam Oongan, dengan airnya yang terus mengalir, menyimpan banyak lapisan. Ia bukan hanya saluran air, melainkan juga aliran cerita tentang anak-anak yang bermain, cinta yang patah, penjajahan yang senyap, dan kematian yang kembali muncul dalam berita.

“Air bisa menyimpan rahasia,” kata Pak Nengah pelan, “tapi tidak selamanya rahasia bisa ditahan.”

Kini, Dam Oongan tetap mengalir seperti biasa. Tapi setiap kali airnya bergelombang pelan, selalu ada rasa seolah ia tengah membisikkan sesuatu. Entah kepada siapa. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR