Kutsel, baliwakenews.com
Sudah menjadi rahasia umum, arus balik libur lebaran jumlah penduduk non permanen yang datang biasanya lebih banyak dari yang mudik.
Selain itu, beberapa penduduk non permanen ini ada yang tidak memiliki identitas dengan tujuan yang tidak jelas sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan baru di tempat yang dituju. Hal ini menjadi antisipasi pihak terkait di Kabupaten Badung.
Seperti halnya yang dilakukan aparat terkait di Kecamatan Kuta Selatan (Kutsel). Salah satunya dengan melakukan pendataan penduduk non permanen melibatkan tim gabungan dari berbagai unsur pengamanan yang ada.
Hal Itu diungkapkan Camat Kutsel, I Ketut Gede Arta, Kamis 27 April 2023. Gede Arta didampingi Sekcam Wayan Sujaka Arianta memaparkan, yang dilakukan tim ini adalah mendata penduduk non permanen dan bukan sidak penduduk. Pendataan ini menggunakan pola pendekatan komunikasi. “Orang ke sini kan dengan tujuan bervariasi, bisa saja untuk berlibur dengan mengajak keluarganya. Karena Kuta Selatan adalah daerah pariwisata. Nah ini yang akan didata, apakah berlibur, sekolah, bekerja atau tujuan lainnya,” imbuhnya.
Sebab Kuta Selatan adalah kawasan pendidikan, pariwisata, serta sebagai tempat pencari kerja. “Tiga sektor ini yang akan kami data, kalau mereka pekerja, bekerjanya dimana biar jelas,” tegasnya.
Tim gabungan ini kata dia beranggotakan aparat terkait di Kelurahan dan Desa, seperti Linmas dan LPM, Pecalang, unsur Kepolisian dan TNI, Pol.PP serta aparat terkait di Kecamatan Kutsel. “Seperti di tahun-tahun sebelumnya tim akan turun ke lepangan tidak di puncak arus balik namun satu minggu setelah Itu. Puncak arus balik kan tanggal 26 Arpil, nah kami akan turun seminggu setelah Itu agar hasilnya masksimal,” paparnya sembari menambahkan kalau nantinya ditemukan yang datang belum ada tujuan yang jelas, langkah yang akan diambil sesuai yang disarankan oleh Pol.PP. Kabupaten Badung.
Pihaknya berharap penduduk non permanen yang datang ini pekerjaanya jelas dan tempat tinggalnya juga sudah pasti. Pendataan ini akan dilakukan secara kolektif melibatkan lingkungan, kelurahan dan didukung oleh desa adat serta pengamanan lokal dan unsur perumahan. Sebab di zaman keterbukaan informasi dan media sosial tidak ada yang bisa ditutupi. “Nanti masyarakat melalui media sosial juga berperan menginformasikan. Termasuk awak media sebagai bagian pentahelik pembangunan,” paparnya.
Gde Arta juga mengatakan kalau saat Covid-19 tahun lalu jumlahnya penduduk non permanen yang datang relatif sedikit. “Kutsel kan termasuk kawasan premium dan yang dibutuhkan adalah tenaga yang terampil dan memiliki keahlian. Yang terpenting adalah keterlibatan semua semua stakehokder termasuk masyarakat untuk menginformasikan,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya mengimbau kepada penduduk non permanen harus tertib administrasi, memiliki tujuan yang jelas, dan berpartisipasi menjaga keamanan, kebersihan dan ketentraman serta memegang prinsip,dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung dengan senantiasa menjaga dan menghormati kearifan lokal yang ada. “Dengan begitu keharmonisan dan kenyamanan akan tercipta di Kutsel dan Badung secara umum,” pungkasnya. BWN-04































