Mangupura, baliwakenews.com
Kerusakan jogging track di Pantai Kuta akibat abrasi hingga kini belum diperbaiki. Namun, alih-alih mendesak percepatan, Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana, justru meminta pemerintah menahan diri. Alasannya tegas, jangan sampai anggaran terbuang sia-sia untuk perbaikan yang berpotensi kembali rusak.
Menurut Alit, langkah tergesa-gesa memperbaiki fasilitas publik di tengah proyek konservasi pantai yang belum tuntas hanya akan berujung mubazir. Ia menilai, akar persoalan bukan pada jalur jogging track, melainkan abrasi yang masih terus terjadi.
“Jogging track memang rusak dan itu jadi sorotan. Tapi saya justru minta jangan diperbaiki dulu. Kalau sekarang diperbaiki, nanti rusak lagi. Itu sama saja buang anggaran,” tegasnya.
Sebagai langkah awal, ia meminta Dinas PUPR hanya melakukan pembersihan dan penataan sementara di area terdampak, agar tidak terlihat kumuh di mata wisatawan. Fokusnya, kata dia, adalah menjaga estetika kawasan tanpa melakukan pembangunan permanen yang prematur.
Di sisi lain, ia menekankan bahwa perbaikan seharusnya dilakukan setelah proyek konservasi pantai oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida rampung sepenuhnya. Proyek tersebut mencakup pembangunan breakwater dan revetment sebagai solusi jangka panjang mengatasi abrasi.
“Kalau nanti breakwater dan revetment sudah selesai, baru kita perbaiki jogging track. Sekarang beton-beton yang rusak dipindahkan dulu, dirapikan. Pasirnya juga diratakan. Kita tunggu semuanya benar-benar selesai,” jelasnya.
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa penanganan kawasan Pantai Kuta masih berjalan parsial dan belum sepenuhnya terintegrasi. Kondisi di lapangan menunjukkan fasilitas rusak dibiarkan, sementara proyek besar masih berproses.
Alit juga menepis anggapan bahwa kebijakan ini dipicu tekanan atau pernyataan pihak tertentu. Ia menegaskan keputusan tersebut murni untuk kepentingan penataan kawasan agar tidak terus menuai citra negatif.
“Tidak ada kaitannya dengan pernyataan siapa pun. Ini murni supaya tidak jogging track saja yang terus jadi sorotan. Kita ingin penanganannya tuntas, bukan tambal sulam,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas PUPR Badung, AA Rama Putra, sebelumnya menyatakan pihaknya telah mengambil langkah penanganan sementara terhadap dampak abrasi. Perapian dilakukan sembari menunggu rampungnya Bali Beach Conservation Project (BBCP) Phase II yang saat ini dikerjakan BWS Bali Penida.
Kondisi ini memperlihatkan dilema klasik pembangunan kawasan pesisir, antara tekanan memperbaiki wajah destinasi wisata secepatnya dan kebutuhan menghadirkan solusi jangka panjang yang benar-benar menyelesaikan persoalan.
Bagi Pantai Kuta ikon pariwisata Bali, keputusan menunda perbaikan mungkin terasa tidak populer. Namun, jika terbukti mencegah pemborosan anggaran dan kerusakan berulang, langkah ini bisa menjadi pilihan realistis di tengah persoalan abrasi yang belum sepenuhnya teratasi. BWN-04

































