Bertengkar dengan Sang Kekasih, Pria Paruh Baya Asal Tabanan Nyaris Loncat di Jembatan Tukad Bangkung

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com – Pada Rabu malam yang lengang, ketika angin berembus kencang di atas Jembatan Tukad Bangkung yang menjulang tinggi di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, seorang pria berdiri di tepian. Di bawah kakinya, ngarai sedalam lebih dari 70 meter menganga, seolah mengundang lompatan sunyi yang tak bersuara.

Adalah laporan singkat di grup WhatsApp internal Polsek Petang yang mengubah segalanya. Bripda I Made Rama Adi Putra mengabarkan adanya seseorang yang hendak mengakhiri hidupnya di jembatan tertinggi di Bali tersebut. Tak butuh waktu lama, Unit Kecil Lengkap (UKL) yang dipimpin Perwira Pengawas langsung bergerak. Aksi cepat itu tiba tepat waktu, seorang pria berinisial I.G.D (46), warga Pupuan, Tabanan, berhasil diamankan sebelum langkahnya berubah menjadi tragedi.

Baca Juga:  Kurasi Produk UMKM Kabupaten Badung  

Di Mapolsek Petang, setelah emosinya sedikit mereda, I.G.D mengaku bahwa motifnya adalah sakit hati karena persoalan asmara. Namun ia enggan menjelaskan lebih jauh. Kata-katanya tumpang tindih antara kemarahan dan kekecewaan, seperti simpul benang yang terlalu lama diikat tanpa pernah dibuka.

“Kami bergerak cepat begitu menerima informasi. Ini bagian dari komitmen kami untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, terutama di lokasi-lokasi rawan seperti Jembatan Tukad Bangkung,” ujar Kapolsek Petang AKP Nyoman Arnaya keesokan harinya, Kamis (8/5).

Jembatan Tukad Bangkung bukan sekadar bentang baja yang menghubungkan dua daratan. Ia telah lama menjadi saksi bisu dari keputusasaan banyak orang. Tingginya yang menjulang, akses terbukanya yang mudah, serta sunyinya suasana malam membuatnya menjadi tempat yang kerap dipilih mereka yang sudah kehilangan harapan.

Baca Juga:  Pembuang Jasad Orok di Bandara Ditangkap di Semarang

Dalam beberapa tahun terakhir, nama jembatan ini muncul di berita-berita lokal sebagai tempat beberapa aksi bunuh diri. Sebagian berhasil dicegah, sebagian lagi tidak. Wacana pemasangan pagar pengaman atau kamera pengawas pernah muncul, namun belum ada langkah konkret yang benar-benar diimplementasikan. Warga sekitar mengaku cemas, namun juga bingung bagaimana cara membantu.

Kasus I.G.D menyisakan pertanyaan besar: berapa banyak orang yang memendam luka yang tak terlihat? Di balik aktivitas harian dan wajah-wajah biasa, banyak jiwa yang terperangkap dalam tekanan yang tak terungkapkan. Dan ketika mereka datang ke tepian jembatan itu, mereka datang bukan hanya membawa tubuhnya, tapi juga beban tak kasatmata yang telah lama dipikul sendiri.

Baca Juga:  Pemancing di Tukad Badung Temukan Mayat Bayi Laki-laki Hanyut

Kapolsek Petang mengajak semua pihak, dari keluarga hingga pemerintah desa, untuk tidak menutup mata terhadap gejala-gejala keputusasaan. Ia menekankan pentingnya edukasi tentang kesehatan mental, serta kehadiran ruang aman untuk bicara dan mendengar.

“Pencegahan dimulai dari keluarga dan lingkungan. Jangan abaikan tanda-tanda stres atau depresi pada orang terdekat,” tegasnya.

Pada pukul 22.45 WITA malam itu, keluarga I.G.D datang ke Mapolsek Petang. Mereka membawanya pulang untuk mendapatkan pendampingan. Tapi bagi banyak orang, pulang tak cukup untuk menyembuhkan. Butuh lebih dari sekadar atap dibutuhkan pelukan pengertian dan ruang untuk sembuh. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR