Bertahun-Tahun Gotong Jenasah Terobos Sungai, Warga Suwung Lemo Harapkan Akses Jalan

Iklan Home Page

Tanjung Benoa, baliwakenews.com

Warga Suwung Lemo, Banjar Anyar Desa Adat Tanjung Benoa mengharapkan bantuan pemerintah. Pasalnya sudah bertahun-tahun mereka harus berjuang menyeberangi sungai sembari mengusung Jenasah untuk dikubur di Kuburan Desa Adat Tanjung Benoa. Karena hal ini merupakan akses terdekat menuju kuburan yang jaraknya sekitar 2 km.

Bahkan ketika air pasang, wargapun tidak bisa menyeberang sungai atau loloan sehingga jika ada warga meninggal terpaksa penguburannya ditunda menunggu air surut. Kondisi ini dituturkan Kepala a lingkungan (Kaling) Anyar, I Wayan Ganti Artana, Senin 19 Februari 2024.

Menurut Ganti Artana, warga Suwung Lemo yang masuk ke lingkungan Banjar Anyar Tanjung Benoa ini memang sudah lama kesulitan dalam melakukan penguburan menuju Setra Tanjung Benoa. Karena akses satu-satunya harus melalui loloan atau rawa-rawa yang airnya cukup tinggi. Sambil mengusung Jenasah, Warga terpaksa harus basah kuyup menerobos sungai yang airnya cukup tinggi. Namun kalau air pasang mencapai ketinggian 1,5 meter, penguburan terpaksa ditunda karena Warga tidak bisa menyebrang.

Baca Juga:  Imigrasi Bekuk 103 WNA, Diduga Terkait Kejahatam Siber

Hal ini membuat warga terkadang kesulitan untuk menyeberang dan menunggu air turun. Warga pun harus berbasah-basahan menggotong Jenasah ketika hendak melakukan penguburan menuju kuburan Desa Adat Tanjung Benoa. Kendala ini sebenarnya sudah lama terjadi dan juga sudah diusulkan melalui Musrenbang Kelurahan.

Pihaknya berharap nantinya yang mempunyai kewenangan baik itu pemerintah pusat melalui dinas kelautan maupun Propinsi dan Badung bisa bersinergi membantu mewujudkan harapan warganya tersebut. Terlebih di kawasan ini aktivitas warganya juga cukup padat yakni bergelut di sektor pariwisata seperti wisata penyu dan mangrove. “Kami sangat berharap apa yang menjadi kesulitan warga ini bisa segera dipenuhi,” harap Ganti Artana.

Selain itu, kawasan Suwung Lemo juga tidak ada Shelter Tsunami sehingga cukup rawan. Dia berharap kondisi ini juga bisa menjadi perhatian pemerintah. Kondisi ini juga dibenarkan salah seorang warga setempat, Nyoman Ridet Artikanaya. Menurut dia Warga Suwung Lemo atau dikenal dengan Daud Loloan Wilayahnya breada di Banjar Anyar Desa Adat Tanjung Benoa. “Warga yang brmukim di sini sudah sejak lama secara turun temurun. Saat ini Warga yang tinggal di Suwung Lemo mencapai di atas 60 KK,” ungkapnya.

Baca Juga:  Sekda Badung Hadiri Piodalan Pura Dadia Pasek Gaduh, Bualu, Kutsel.

Warga ini juga membenarkan belum lama ini saat hendak dilakukan proses penguburan salah seorang warga di sana yang meninggal Kondisi air sungai berada di kisaran 80 sampai 120 meter dan belum sampai 1,5 meter. Karenanya warga pun menerobos atau menyeberang loloan dengan berbasah basah sembari mengusung Jenasah.

Karena jika air sungai tingginya mencapai 1,5 meter biasanya pengusungan jenasah menuju kuburan terpaksa diundur menunggu debit air menurun sehingga warga bisa menyebrangi loloan atau rawa-rawa tersebut. Ditanya sejak kapan warga tinggal di Dauh Loloan, Pria yang akrab disapa Mangku Rama itu mengungkapkan keberadaan mereka di sana sudah ada sejak Desa Adat Tanjung Benoa ada. Hanya saja dia mengaku tidak tahu persis akan tahunnya.

Ketika leluhur mereka pertama kali datang dari Gianyar dan tinggal di Suwung Lemo hanya berjumlah 6 KK dan sekarang sudah berkembang menjadi 67 KK. Ditanya apakah ada jalan alternatif selain harus menyeberang sungai atau loloan, sebenarnya kata dia ada jalan alternatif yaitu melalui Desa Adat Tetangga yakni Desa Adat Tengkulung. Hanya saja selain jaraknya yang cukup jauh menuju kuburan, juga ada awig-awig yang mewajibkan kalau melewati Desa Adat Tengkulung harus ada Upacara Pemrastista dan juga upacara lainnya. Namun pihaknya memilih jalan loloan ini agar tidak ada beban yang lain.

Baca Juga:  Menparekraf Sandiaga Uno Buka ITTSU 2023

Dia berharap kepada pihak terkait agar bisa memenuhi harapan warga Suwung Lemo yakni adanya akses agar bisa mengusung wadah atau bade dan juga tempat memutar tiga kali untuk menuju Setra Desa Adat Tanjung Benoa. “Akses melalui loloan ini mempersingkat jarak dari pemukiman kami menuju Setra yang berjarak sekitar 2 km,” ujarnya. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR