Tabanan, baliwakenews.com
Sampah menjadi persoalan yang tidak pernah ada solusinya, sehingga pemerintah gencar menggalakkan penanganan sampah dari sumbernya. Menyukseskan program tersebut Program Kemitraan Masyarakat Universitas Warmadewa (PKM Unwar), melaksanakan pengabdian masyarakat dengan tema ” PKM Pengelolaan Sampah Organik Di Desa Adat Bongan Puseh , Kecamatan Tabanan-Kabupaten Tabanan”.
Ketua Tim PKM Unwar, Ir. Luh Kartini,M.Si., memaparkan kegiatan PKM ini telah dilaksanakan pertemuan pada April 2021 dengan Krama Desa Adat Bongan Puseh untuk mengetahui persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Desa Adat Bongan Puseh merupakan Organisasi yang telah ada sejak dulu berdampingan dengan Desa Bongan dan telah merancang kegiatannya dengan membentuk Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA). BUPDA adalah unit usaha milik Desa Adat yang melaksanakan kegiatan usaha di bidang ekonomi riil, jasa, dan/atau pelayanan umum, dengan tata kelola modern untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian krama desa adat, ” tutur Luh Kartini didampingi anggota Tim PKM Unwar lainnya yaitu Ir. A. A. Ngurah Mayun Wirajaya,MM., dan Dr.Ir. I Gusti Bagus Udaya M.Si.
Lebih lanjut dipaparkan, dalam menjalankan aktivitasnya, Desa Adat Bongan Puseh mempunyai 6 banjar adat yaitu Banjar Bongan Gede, Bongan Tengah, Bongan Timbul, Bongan Lebah, Bongan Jawa dan Bongan Kauh. “Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tidak lepas dari produksi sampah. Sampai saat ini, sampah-sampah organik yang ada di wilayah Desa Adat Bongan Puseh belum dimanfaatkan dan diolah secara optimal oleh masyarakat dan hal ini dilihat oleh BUPDA sebagai peluang, ” ucapnya.
Berdasarkan hasil observasi dilapang, dikatakan dapat diperoleh informasi permasalahan yang dihadapi mitra yaitu sampah rumah tangga, tempat ibadah/pura, pasar, perkantoran, industri belum dimanfaatkan dan diolah untuk dijadikan pupuk organik padat maupun cair. Persoalan lainnya adalah belum dimilikinya peralatan dan bahan untuk melakukan pengolahan sampah organik dan alat pengemasan pupuk organik.
“Mitra juga belum memiliki rumah tempat proses pengolahan dan fermentasi. Anggota kelompok juga belum paham terhadap proses pengolahan dan fermentasi sampah organik,” tukasnya.
Oleh karena itu Tim PKM Unwar merasa kelompok mitra perlu difasilitasi dari aspek teknologi pengolahan sampah organik, uji mutu produk pada laboratorium, dan manajemen usaha kelompok mitra.
Dengan pelaksanaan PKM diharapkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam memanfaatkan sampah organik untuk dijadikan produk pupuk organik padat/cair sebagai substitusi pupuk anorganik. Selain mengatasi persoalan sampah, dapat menjadi alternatif bahwa sampah organik bermanfaat bagi masyarakat disekitar mitra dipakai sebagai pupuk organik dalam pemupukan tanaman yang dibudidayakan selain pupuk-pupuk organik dari kotoran ayam dan sapi.
Sentuhan teknologi dalam pengolahan sampah organik yang dapat dijadikan Pupuk Organik Padat (POP) akan memberi nilai tambah yang tinggi bagi anggota kelompok mitra, utamanya dari mutu sampah organik yang dihasilkan dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Program PKM ini dilaksanakan di BUPDA Desa Adat Bongan Puseh, diawali dengan penyuluhan, pelatihan, dan penerapan teknologi dengan praktek langsung dilapang. “Dari kegiatan ini target luaran yang ingin dicapai yaitu BUPDA secara mandiri mampu memanfaatkan sampah organik dengan baik menjadi “Pupuk Organik Padat” (POP) sehingga dapat meningkatkan pendapatan kelompok mitra, ” tandas Luh Kartini.
Melalui PKM Unwar masyarakat Desa Adat Bongan Puseh dapat melanjutkan kegiatan usaha di BUPDA. Karena dengan adanya alih teknologi anggota kelompok mitra telah mampu mengadopsi berbagai perkembangan teknologi yang akan dikembangkan yang sebelumnya belum dilakukan saat tersedianya limbah organik cukup melimpah dan dimanfaatkan untuk kompos.
Setelah mendapatkan pelatih dari PKM Unwar, masyarakat semakin memahami tentang pemanfaatan limbah organik untuk produk pupuk kompos. Setelah fermentasi berjalan 3-4 minggu, maka dilakukan pengecekan terhadap hasil fermentasi sebagai bahan evaluasi dalam pembuatan berikutnya.
“Pada pertemuan ini telah dipraktekkan bagaimana limbah tersebut mempunyai nilai tambah yang cukup tinggi bagi mitra. Dengan adanya pengabdian ini anggota kelompok mitra termotivasi melakukan kegiatan lebih aktif dan manajemen organisasi berjalan lebih baik, ” pungkasnya.





























