baliwakenews.com – Ungkapan “suksema leluhur” yang sering diucapkan oleh Bima Nata, putra kedua mantan Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta yang kini menjabat sebagai wakik gubernur, telah menjadi fenomena viral dan memicu munculnya berbagai meme di kalangan masyarakat Bali. Bima Nata, yang akrab disapa Ebi, terjun ke dunia politik mengikuti jejak sang ayah dan berhasil meraih suara tertinggi dalam pemilihan legislatif 2024 untuk kursi DPRD Badung dari Dapil Petang.
Melalui akun TikTok-nya, Bima Nata kerap membagikan konten yang menampilkan dirinya mengucapkan “suksema leluhur” dalam berbagai kesempatan. Salah satu video yang diunggahnya menampilkan dirinya mengucapkan ungkapan tersebut, yang kemudian mendapatkan perhatian luas dari netizen. Ungkapan ini, yang berarti “terima kasih leluhur”, mencerminkan penghormatan terhadap nenek moyang dan nilai-nilai budaya Bali.
Popularitas ungkapan ini tidak hanya terbatas pada platform TikTok, tetapi juga merambah ke media sosial lainnya, di mana masyarakat Bali dan netizen lainnya menggunakan “suksema leluhur” dalam berbagai konteks, seringkali dengan sentuhan humor. Fenomena ini menunjukkan bagaimana tradisi dan budaya lokal dapat beradaptasi dan menemukan tempatnya dalam ekspresi digital modern, menciptakan jembatan antara nilai-nilai leluhur dan budaya populer saat ini.
Dalam budaya Bali, “suksma” berarti “terima kasih” atau “jiwa”, sedangkan “leluhur” merujuk pada nenek moyang. Dengan demikian, “suksma leluhur” dapat diartikan sebagai ungkapan terima kasih atau penghormatan kepada leluhur.
Penggunaan ungkapan ini tidak terlepas dari tradisi dan upacara adat di Bali. Misalnya, dalam prosesi melukat—ritual pembersihan diri secara spiritual—di Pura Kahyangan Kedatuan Raksa Sidhi, setelah menjalani penglukatan, para pemedek (umat) akan kembali bersembahyang untuk “matur suksma” atau mengungkapkan terima kasih karena telah diberikan izin untuk melukat dan menerima berkah di pura tersebut.
Selain itu, ungkapan terima kasih khas Bali seperti “matur suksma” memiliki filosofi dan arti penting bagi masyarakat lokal. Ungkapan ini mencerminkan sikap menghargai kerja sama, gotong royong, dan penghormatan terhadap orang lain, termasuk leluhur dan dewa-dewi. Dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari maupun ritual adat, “matur suksma” digunakan sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan atas bantuan yang diterima.
Viralnya ungkapan “suksma leluhur” juga sejalan dengan upaya tokoh-tokoh Bali dalam menekankan pentingnya mewarisi nilai-nilai toleransi dan kebersamaan yang telah ditanamkan oleh leluhur. Misalnya, dalam sebuah kampanye di Seririt, Wayan Koster mengajak masyarakat Bali untuk melestarikan tradisi toleransi antar umat beragama yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.
Dengan demikian, viralnya “suksma leluhur” tidak hanya mencerminkan penghormatan terhadap nenek moyang, tetapi juga menegaskan kembali nilai-nilai budaya Bali yang menghargai kerja sama, gotong royong, dan toleransi yang telah diwariskan oleh para leluhur. (Aanbagus)





























