Akses Melasti dan Melaut Ditutup, Nelayan ‘’Mesadu’’ ke Anggota Dewan 

Iklan Home Page

Denpasar, baliwakenews.com
 
 
Anggota Komisi III DPR RI, Wayan Sudirta SH., MH., Rabu 28 Desember 2022, menerima sejumlah nelayan dan warga dari Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, yang datang mengadu ke Rumah Aspirasi Jalan Diponegoro, Denpasar. Mereka mengadukan dugaan penutupan akses jalan yang digunakan warga Desa Bunutan untuk Melasti, Banyupinaruh, Ngaben, Nganyud, dan upacara Purnama-Tilem serta upacara keagamaan Hindu lainnya bahkan akses jalan untuk melaut. 
 
Sudirta didampingi sejumlah advokat LBH KORdEM Demokrasi Bali, Putu Wirata Dwikora, SH, Wayan Ariawan, SH, Nyoman Sutaya, SH, Bimanda Panalaga, SH, Wayan Sukayasa, SH dan Made Rai Wirata, SH., menerima para nelayan yang datang untuk mengadu. 
 
 
Para nelayan dan warga Bunutan yang diwakili oleh  I Nyoman Juliantara, I Wayan Dana, I Made Bawak Wiyasa, I Nengah Retes, Dan I Wayan Sunirta menjelaskan, yang diduga melakukan penutupan akses jalan adalah investor selaku pihak yang membeli tanah yang berbatasan dengan Tukad Ketes, Desa Bunutan. 
 
 
Dituturkan dalam seminggu ini sudah ada pengerjaan proyek penutupan yang mengkuatirkan para nelayan yang biasa menggunakan akses tersebut untuk ke pantai sekitarnya, tempat mereka menambatkan sekitar 150-an jukung. Menurut nelayan dan warga yang mengadu, tanah tersebut dibeli oleh investor bernama Sures. Sebelumnya, warga sudah mengadukan permasalahannya ke Kepala Desa Bunutan, Camat Abang dan beberapa anggota DPRD Karangasem. Namun, informasinya, investor tetap berpendirian untuk menutup akses jalan ke pantai tersebut. ‘’Padahal, akses jalan ke pantai itu sudah lebih dari 100-an tahun, sejak saya kecil sudah melewatinya,’’ kata Wayan Dana, salah seorang nelayan yang mengadu. 
 
 
Akses jalan setapak itu sudah turun temurun digunakan untuk ke pantai saat pelaksanaan upacara Melasti, Ngaben, Nganyud, Banyupinaruh, Upakara Melukat Purnama dan Tilem, dan upacara keagamaan Hindu yang lainnya. 
 
Bagi para nelayan, kata Dana dan Made Bawak Wiyasa, yang sudah turun temurun menghidupi keluarga dari hasil melaut, penutupan akses jalan setapak di Tukad Ketes itu akan mematikan mata pencaharian para nelayan. Kalau mata pencaharian nelayan sampai tertutup, dan mereka kehilangan mata pencaharian, bagaimana mereka menghidupi keluarganya. Belum lagi tertutupnya akses untuk umat Hindu yang Ngaben dan Nganyud, Melasti, Banyupinaruh, dan lain-lain, yang bisa menimbulkan suasana yang tidak nyaman bagi krama Hindu di sekitar lokasi yang memerlukan akses jalan setapak Tukad Ketes tersebut.
 
 
Dana dan para nelayan mengharapkan, Anggota Komisi III DPR RI, Wayan Sudirta, membantu aspirasi para nelayan maupun warga Desa Bunutan dan sekitarnya, yang selama ini menggunakan jalan setapak tersebut untuk akses ke pantai. Nelayan menggunakannya untuk aktivitas perikanan seperti menuju akses penambatan jukung, dan masyarakat umum ada yang menggunakannya untuk Ngaben, Nganyud, Melukat Purnama atau Melukat Tilem, dan kegiatan keagamaan Hindu lainnya. 
 
Sudirta sendiri menerima para nelayan dan siap menindaklanjuti aspirasi para nelayan tersebut. Selain siap untuk turun, LBH KORDEM Bali yang didirikan oleh mantan advokat yang kini duduk di Senayan tersebut, siap mengadvokasi aspirasi para nelayan dan warga Desa Bunutan tersebut. 
 
Sudirta menyatakan keprihatinannya  mendengar keluh-kesah nelayan Bunutan tersebut, yang ternyata selain nelayan tradisional yang sudah ada, mereka juga  nelayan baru dari karyawan pariwisata yang terdampak PHD, lalu membeli perahu dengan meminjam uang bank sebagai bentuk UMKM (Usaha Mikro Kecil Dan Menengah ), terutama sejak pandemi Covid-19 tahun 2020 yang lalu. BWN-03
 
Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR