Denpasar, Baliwakenews.com – Sabtu (3/10/2026) menjadi hari yang berbeda bagi Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta. Untuk sejenak, kesibukan pemerintahan yang selama ini mengisi hari-harinya bergeser ke sebuah ruang yang lebih personal yakni ruang wisuda.
Di Aula Taman Asoka Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Bagus Alit hadir bukan dalam kapasitasnya sebagai Wakil Bupati Badung. Ia datang sebagai seorang mahasiswa yang telah menuntaskan perjalanan akademiknya. Di hari yang sama, sang istri, Putu Yunita Oktarini, juga mengikuti prosesi wisuda.
Keduanya sama-sama menyelesaikan pendidikan Program Magister dan berhak menyandang gelar Magister Sosial (M.Sos.). Bagus Alit kini menyandang gelar S.H., M.Sos., sedangkan Putu Yunita Oktarini menyandang gelar S.E., M.Sos.
Di balik toga dan prosesi akademik tersebut, tersimpan cerita tentang bagaimana pendidikan tetap dipertahankan di tengah rutinitas yang tidak ringan.
Sebagai Wakil Bupati Badung, hari-hari Bagus Alit diisi agenda pemerintahan, rapat, kegiatan kemasyarakatan hingga berbagai kegiatan yang menuntut kehadiran langsung di tengah masyarakat. Waktu yang tersisa harus dibagi dengan keluarga dan kewajiban akademik.
Tidak selalu mudah. Tetapi justru di situlah komitmen terhadap pendidikan diuji.
“Menjalankan tugas sebagai Wakil Bupati tentu banyak menyita waktu. Tetapi sejak awal saya sudah berkomitmen untuk menyelesaikan pendidikan. Jadi, bagaimana caranya kita mengatur waktu dan menjaga konsistensi, itu yang paling penting,” ujar Bagus Alit.
Ia menyadari, jabatan dan kesibukan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar. Bagi Bagus Alit, pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar, melainkan proses untuk terus memperkaya pengetahuan dan cara pandang.
“Saya melihat pendidikan bukan hanya soal mendapatkan gelar. Ada proses belajar, berdiskusi dan membuka wawasan. Itu yang saya rasa penting, apalagi ketika kita diberikan tanggung jawab untuk melayani masyarakat,” katanya.
Pilihan untuk melanjutkan pendidikan di tengah kesibukan juga menjadi perjalanan yang dijalani bersama keluarga. Putu Yunita, sang istri, berada dalam perjalanan akademik yang sama. Keduanya sama-sama menempuh pendidikan pada Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya, Program Studi Ilmu Agama dan Kebudayaan UNHI Denpasar.
Karena itu, wisuda kali ini memiliki makna yang lebih dari sekadar pencapaian akademik. Ada kebersamaan pasangan suami istri yang sama-sama berjuang menyelesaikan pendidikan.
“Bisa menyelesaikan pendidikan bersama istri tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. Kami sama-sama memahami bagaimana membagi waktu dan saling mendukung ketika ada kewajiban kuliah maupun tugas lainnya,” ungkap Bagus Alit.
Bagi keluarga, momen tersebut menjadi buah dari proses yang panjang. Bukan hanya karena dua gelar magister berhasil diraih, tetapi karena pendidikan mampu tetap berjalan berdampingan dengan tanggung jawab keluarga dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagus Alit pun berharap ilmu yang diperoleh selama menjalani pendidikan tidak berhenti sebagai gelar di belakang nama. Ada tanggung jawab lain setelah toga dilepas, yakni bagaimana pengetahuan tersebut dapat memberi manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapannya tentu apa yang kami pelajari tidak berhenti di bangku kuliah. Mudah-mudahan bisa memberikan manfaat, baik dalam kehidupan keluarga maupun dalam menjalankan tugas dan pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.
Hari itu, setelah prosesi wisuda selesai, Bagus Alit kembali pada rutinitasnya. Namun, ada satu pencapaian yang kini melekat dalam perjalanan hidupnya.
Di tengah kesibukan menjalankan roda pemerintahan Kabupaten Badung, ia memilih untuk tetap menyediakan ruang bagi pendidikan. Dan bersama sang istri, ruang itu akhirnya membawa mereka sampai pada satu titik yakni berdiri bersama mengenakan toga, menerima gelar magister, dan merayakan sebuah proses yang mereka jalani di tengah padatnya kehidupan. Sebuah pengingat sederhana bahwa kesibukan boleh memenuhi waktu, tetapi kemauan untuk terus belajar tetap memiliki tempat. BWN-05
































