BI Bali Bongkar Miskonsepsi soal Bank Sentral, Media Diajak Perkuat Narasi Ekonomi

Iklan Home Page

IKN, Baliwakenews.com

Masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh tugas dan kewenangan Bank Indonesia (BI). Bahkan, sejumlah persepsi keliru mengenai bank sentral masih ditemukan di tengah masyarakat, mulai dari anggapan BI sebagai tempat mengajukan kredit hingga persoalan pengawasan perbankan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali melalui kegiatan Capacity Building Sobat Media yang dirangkaikan dengan penguatan literasi ekonomi dan jurnalistik bagi insan pers, pada 1-3 Oktober 2026,di Ibu Kota Negara (IKN).

Kepala Divisi Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) KPwBI Provinsi Bali, Renold Asri, mengatakan pemahaman masyarakat mengenai fungsi BI masih perlu diperkuat, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Dalam diskusi langsung dengan masyarakat, kami masih sering menemukan pemahaman yang kurang tepat. Ada yang mengira di Bank Indonesia bisa mengajukan kredit bunga murah, ada yang mengira BCA lebih besar dari BI, bahkan ada yang masih menyangka tugas pengawasan perbankan masih di BI, padahal sudah lama beralih ke OJK,” ujar Renold saat membuka kegiatan.

Baca Juga:  Belajar dari Mataram, DPRD Bali Pelajari Olah Sampah Jadi Magot & Paving Block

Menurutnya, literasi mengenai peran bank sentral menjadi penting agar masyarakat dapat membedakan fungsi BI dengan lembaga keuangan maupun otoritas lainnya.

Rupiah Bukan Sekadar Alat Transaksi

Renold juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap posisi Rupiah sebagai simbol sekaligus instrumen kedaulatan negara.

Menurutnya, penggunaan Rupiah di seluruh wilayah Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aktivitas transaksi ekonomi, tetapi juga memiliki dimensi kebangsaan.

Ia menyinggung kasus Sipadan dan Ligitan sebagai salah satu pelajaran penting mengenai arti kehadiran negara di wilayah perbatasan.

“Kasus Sipadan dan Ligitan menjadi pengingat penting bagi kita. Salah satu pertimbangan Mahkamah Internasional saat itu adalah tingginya penggunaan Ringgit di kawasan tersebut. Oleh karena itu, menjaga edukasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah adalah bentuk nyata kita dalam menjaga kedaulatan NKRI,” tegasnya.

Karena itu, edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah dinilai perlu terus diperkuat, terutama di wilayah perbatasan dan kawasan yang memiliki karakteristik geografis khusus.

Media Diminta Perkuat Narasi Ekonomi Bali

Di sisi lain, Renold menilai media memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi mengenai kebijakan ekonomi kepada masyarakat.

Baca Juga:  Koster-Giri Menyapa Masyarakat dan Tawarkan Program

Terlebih, mandat BI kini tidak hanya berkaitan dengan menjaga kestabilan nilai Rupiah, tetapi juga mencakup kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran serta dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sesuai kerangka peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. BI membutuhkan sinergi dan bantuan dari rekan-rekan media untuk menyampaikan berita-berita positif dan komprehensif mengenai perekonomian sesuai kondisi riil. Narasi positif dari media akan membangun optimisme pasar dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Renold.

Menurutnya, informasi ekonomi yang akurat, berimbang, dan mudah dipahami masyarakat dibutuhkan untuk membangun kepercayaan publik sekaligus memperkuat optimisme terhadap perekonomian.

Jurnalis Dibekali Strategi Narasi Ekonomi di Era Digital

Dalam kegiatan tersebut, insan media juga mendapatkan pembekalan jurnalistik dengan tema “Navigasi Jurnalistik Ekonomi Bali: Memodelkan Narasi Quality Tourism, Ekonomi Kreatif dan Digitalisasi Keuangan Daerah dengan Generative Engine Optimization (GEO)”.

Kegiatan menghadirkan dua pembicara dari Bisnis Indonesia, yakni Didit Ahendra, GM Teknologi Informasi Bisnis Indonesia, dan Emmanuel B. Caesario, GM Konten Bisnis Indonesia.

Baca Juga:  Suhu Rata-Rata Global 5 Tahun ke Depan Peluang Tembus 1,5 Derajat Celcius

Pembekalan tidak hanya membahas literasi ekonomi, tetapi juga perkembangan teknologi dan strategi pemberitaan di era mesin pencari berbasis kecerdasan buatan. Media didorong mampu mengemas isu ekonomi Bali secara lebih kontekstual, informatif, dan mudah ditemukan masyarakat melalui ekosistem digital.

Usai mendapatkan pembekalan literasi ekonomi dan teknik pemberitaan, rangkaian Capacity Building Sobat Media dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Ibu Kota Nusantara (IKN).

Peserta mengawali agenda dengan mengunjungi Kantor Sekretariat Kerja Bersama Bank Indonesia di IKN yang telah beroperasi dengan sistem pergantian atau rolling pegawai dari kantor pusat secara berkala.

Selain melihat aktivitas BI di kawasan IKN, peserta juga dijadwalkan mengunjungi Istana Presiden serta sejumlah destinasi di kawasan ibu kota baru tersebut.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan BI dengan media sekaligus meningkatkan kapasitas jurnalis dalam memahami dan menyampaikan isu ekonomi secara lebih mendalam di tengah perubahan lanskap informasi digital. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR