Mangupura, baliwakenews.com – Kemampuan seorang lifeguard tidak cukup hanya mengandalkan keberanian saat menghadapi wisatawan yang mengalami kondisi darurat di laut. Keterampilan fisik, pertolongan medis, komunikasi hingga kesiapan mental harus terus diasah agar respons penyelamatan tetap cepat dan tepat.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam latihan gabungan jajaran Lifeguard Badung di kawasan Pantai Kuta sejak Jumat (26/9/2026). Latihan diawali dengan penyegaran kemampuan komunikasi melalui sinyal gerakan tubuh, yang menjadi salah satu keterampilan penting ketika petugas berada di tengah laut.
Kepala UPTD Penyelamatan Wisatawan Kecamatan Kuta, Wayan Somer, mengatakan latihan tersebut merupakan bagian dari penyegaran kemampuan dasar seluruh anggota. Penyegaran diperlukan agar keterampilan yang telah dimiliki tidak hilang dan tetap dapat diterapkan secara tepat ketika menghadapi situasi darurat.
Menurut Somer, setidaknya ada empat kemampuan utama yang harus terus dikuasai dan diasah para lifeguard. Keempatnya yakni run-swim-run, CPR, P3K dan penguasaan sinyal penyelamatan.
“P3K juga perlu terus disegarkan, mulai dari pemeriksaan korban hingga keterampilan memberikan pertolongan. Kemudian yang keempat adalah sinyal,” ujarnya.
Run-swim-run menjadi salah satu materi untuk menguji kemampuan fisik petugas melalui rangkaian berlari dan berenang dengan batas waktu tertentu. Kemampuan tersebut penting karena petugas dituntut mampu bergerak cepat ketika harus menjangkau wisatawan yang membutuhkan pertolongan.
Sementara CPR menjadi keterampilan penting dalam penanganan korban yang mengalami henti napas maupun henti jantung. Sedangkan P3K diperlukan untuk memastikan petugas mampu memberikan pertolongan awal, mulai dari pemeriksaan kondisi korban hingga tindakan pertolongan sebelum penanganan lebih lanjut.
Somer menegaskan, seluruh kemampuan tersebut idealnya dikuasai oleh setiap anggota. Menurutnya, penggunaan peralatan modern tidak berarti menghilangkan kebutuhan terhadap kemampuan fisik dan keterampilan dasar seorang lifeguard.
“Bagaimana kemampuan fisik dengan alat yang kita punya harus kita kolaborasikan. Kita mengadopsi alat-alat modern, tetapi juga mengandalkan kekuatan fisik dan mental kita,” katanya.
Dalam latihan kali ini, materi sinyal menjadi salah satu kemampuan yang kembali dimantapkan. Sinyal diperlukan karena komunikasi antara petugas di pantai dan petugas yang berada di tengah laut tidak selalu dapat dilakukan menggunakan radio maupun komunikasi suara.
Salah seorang Instruktur Lifeguard Badung, Ketut Arkayasa, menjelaskan sejumlah gerakan tubuh telah ditetapkan sebagai tanda komunikasi antarpetugas. Gerakan tersebut digunakan untuk memberikan instruksi maupun menyampaikan kondisi yang terjadi di laut.
“Untuk komunikasi, kita yang di pantai dengan teman yang di tengah laut tidak mungkin melakukan teriakan. Karena itu kita menggunakan sinyal atau gerakan tubuh,” jelasnya.
Ia mencontohkan, kedua tangan yang diangkat lurus ke atas merupakan tanda agar petugas di laut bergerak lebih ke tengah. Sedangkan satu tangan lurus ke atas menjadi tanda agar petugas di laut keluar menuju pantai.
Setiap sinyal juga harus mendapatkan respons dari petugas penerima. Respons tersebut menjadi penanda bahwa pesan telah diterima dan dipahami, sehingga risiko kesalahan komunikasi dapat ditekan.
“Kalau ada salah satu yang kurang memahami sinyal, tentu akan terjadi kesulitan komunikasi. Karena itu semua anggota semestinya menguasai tanda-tanda ini,” katanya.
Selain memberikan instruksi pergerakan personel, sinyal juga digunakan untuk menyampaikan kondisi tertentu di laut. Termasuk ketika petugas menemukan biota yang berpotensi membahayakan, seperti ubur-ubur atau hiu, maupun ketika membutuhkan pemindahan atau penggunaan peralatan penyelamatan.
Kepala UPTD Penyelamatan Wisatawan Kuta Selatan, Ni Putu Sastra Labda Patni, mengatakan pemahaman terhadap sinyal menjadi penting karena terdapat kondisi tertentu ketika petugas tidak memungkinkan menggunakan alat komunikasi.
“Ini sangat penting karena ada kondisi tertentu ketika kita tidak memungkinkan membawa alat komunikasi. Dengan memahami sinyal, tindakan penyelamatan bisa dilakukan lebih cepat dan respons dari petugas di darat juga lebih cepat,” jelasnya.
Menurut dia, sinyal juga dibedakan berdasarkan kondisi korban yang dievakuasi. Petugas di laut harus mampu memberikan tanda kepada rekannya di darat apakah korban dalam kondisi sadar, setengah sadar, pingsan maupun meninggal dunia.
Dengan informasi tersebut, petugas di darat dapat segera menyiapkan peralatan yang dibutuhkan, seperti tandu maupun perlengkapan evakuasi lainnya.
Di luar kemampuan teknis penyelamatan, Sastra Labda Patni menilai aspek pencegahan juga tidak kalah penting. Edukasi kepada wisatawan mengenai keselamatan di laut perlu dilakukan secara bersama-sama.
Pihaknya mendorong kerja sama dengan sekolah, Polairud, hotel, restoran dan resort di kawasan pantai untuk ikut memberikan pemahaman kepada wisatawan mengenai arti bendera keselamatan, papan imbauan serta karakteristik arus laut.
“Hotel, restoran maupun resort yang berada di pinggir pantai juga diharapkan ikut menjaga dan memberikan edukasi kepada tamunya. Wisatawan perlu mengetahui tanda-tanda larangan dan bagaimana mengenali arus laut,” tandasnya.
Latihan penyegaran tersebut selanjutnya akan dilanjutkan dengan materi lainnya, termasuk run-swim-run, CPR dan P3K. Dengan latihan secara berkala, kemampuan fisik, teknis, komunikasi dan kesiapan mental para lifeguard diharapkan tetap terjaga ketika menghadapi situasi darurat di kawasan pantai. BWN-04






























