Mangupura, baliwakenews.com
Rencana penyesuaian elevasi Jalan Goa Gong, Ungasan, tidak dilanjutkan. Sebagai gantinya, penanganan jalur yang dikenal cukup terjal dan rawan kecelakaan tersebut berpotensi diarahkan melalui rekayasa lalu lintas.
Salah satu opsi yang kini mencuat adalah penerapan sistem satu arah. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung mengusulkan agar arus kendaraan di Jalan Goa Gong nantinya diarahkan untuk menuruni jalur tersebut.
Kepala Bidang Bina Marga PUPR Badung, I Putu Teddy Widnyana Putra, mengatakan opsi tersebut perlu dikaji mengingat kondisi jalan yang cukup terjal, terutama bagi kendaraan yang bergerak menanjak.
«“Mungkin jadi satu arah, mungkin turun. Kalau naik kan sangat berbahaya. Nah, itu nanti kami koordinasi, merupakan kewenangan Dishub untuk rekayasa lalu lintas lebih lanjut,” ujar Teddy.»
Menurutnya, rekayasa lalu lintas menjadi salah satu alternatif setelah rencana penyesuaian elevasi Jalan Goa Gong tidak memungkinkan untuk dilanjutkan. Salah satu pertimbangannya adalah keberadaan gua di kawasan tersebut.
Penggunaan alat vibro dalam proses penyesuaian agregat dan elevasi dikhawatirkan menimbulkan getaran yang dapat berdampak terhadap batu-batu di dalam gua. Terlebih, kawasan gua tersebut telah masuk sebagai kawasan cagar budaya.
«“Dari awal kami sudah sosialisasikan mengenai penyesuaian elevasi. Tapi itu tidak memungkinkan dari sisi estetika maupun sekala-niskala karena ada kekhawatiran terhadap gua. Vibro yang digunakan untuk penyesuaian agregat dan elevasi dikhawatirkan berdampak terhadap batu-batu yang ada di dalam gua,” jelasnya.»
Selain rekayasa lalu lintas, Pemkab Badung juga menyiapkan solusi jangka panjang dengan membuka trase alternatif dari kawasan Udayana menuju Perumahan Bumi Asri hingga Jalan Merak, Ungasan.
Trase tersebut disiapkan untuk mengurangi ketergantungan kendaraan terhadap Jalan Goa Gong. Berdasarkan kajian feasibility study (FS) dan kondisi riil di lapangan, jalur alternatif tersebut diharapkan dapat membantu mengurai kepadatan lalu lintas sekaligus menjadi akses alternatif menuju kawasan Ungasan dan Pecatu.
Teddy mengatakan, kondisi Jalan Goa Gong selama ini menjadi perhatian karena jalur tersebut memiliki catatan kecelakaan yang menimbulkan kerugian materiil hingga korban fisik.
«“Tujuan dan maksud rencana trase ini adalah mengurai kemacetan, terutama yang melewati jalur Goa Gong. Melewati Goa Gong yang selama ini kita ketahui dengan kondisinya yang banyak memakan korban, baik itu korban materiil maupun fisik. Nah, itu yang kita jadikan alternatif melewati perumahan,” katanya.»
Dengan tidak dilanjutkannya penyesuaian elevasi, penanganan Jalan Goa Gong kini mengarah pada kombinasi rekayasa lalu lintas dan penyediaan jalur alternatif. Untuk penerapan sistem satu arah, pembahasannya akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Dinas Perhubungan Badung. BWN-04

































