Tak Punya Lapangan Layak, Pembinaan Atlet Muda Nusa Dua Dipertanyakan

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com


Potensi anak-anak muda di Nusa Dua untuk berkembang melalui olahraga dinilai belum ditunjang fasilitas yang memadai. Keterbatasan sarana olahraga bahkan dikhawatirkan membuat pembinaan atlet muda di kawasan pariwisata internasional tersebut berjalan tanpa dukungan infrastruktur yang layak.


Tokoh masyarakat Nusa Dua sekaligus mantan pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Wayan Sumantra, menyoroti kondisi tersebut setelah melihat langsung penggunaan Lapangan Lagoon dalam turnamen antarsekaa teruna beberapa waktu lalu.
Alih-alih menjadi ruang yang nyaman bagi generasi muda untuk berolahraga, kondisi lapangan justru dinilai berpotensi membahayakan pemain. Permukaan tanah yang keras dan tidak rata serta fasilitas lapangan yang mulai rusak membuat sejumlah pemain mengalami cedera saat pertandingan.


“Melihat kondisi lapangan miris sekali. Tanahnya keras, tiang gawang sudah mengkarat dan permukaan lapangan tidak merata. Akhirnya banyak pemain yang cedera,” ujar Sumantra.


Menurutnya, persoalan tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah. Sebab, Lapangan Lagoon bukan hanya digunakan untuk kegiatan seremonial, tetapi menjadi salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, untuk berolahraga.

Baca Juga:  Besok, Piala Walikota Cup 2026 Resmi Dibuka


Sumantra mempertanyakan bagaimana pembinaan atlet berprestasi dapat dilakukan jika ruang untuk berlatih saja sangat terbatas.
“Anak-anak sekolah kasihan. Tidak ada tempat untuk olahraga. Mereka olahraga di eks Tragia. Bagaimana mau lahir generasi yang berprestasi kalau fasilitas saja tidak punya?” tegasnya.


Kondisi tersebut dinilai semakin ironis mengingat Nusa Dua merupakan kawasan pariwisata internasional yang selama ini menjadi salah satu etalase Bali dan Indonesia di mata dunia.


Di sisi lain, pemerintah sebenarnya telah beberapa kali menyampaikan rencana penataan Lapangan Lagoon. Bahkan, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa sebelumnya disebut telah mempresentasikan rencana penataan kawasan tersebut, termasuk rencana pembangunan jogging track.


Namun, Sumantra menilai rencana tersebut belum menjawab persoalan utama yang selama ini menjadi kendala, yakni status lahan.
Berdasarkan informasi yang diketahuinya, lahan Lapangan Lagoon masih tercatat sebagai aset kehutanan. Bahkan, pemanfaatan maupun penataannya disebut masih berkaitan dengan izin pemerintah provinsi.

Baca Juga:  Apresiasi Generasi Muda, Ketua TP PKK Badung Hadiri Malam Purna Paskibraka 2025


“Setahu saya masalahnya adalah status kepemilikan tanah. Saat ini masih tercatat sebagai aset kehutanan. Informasinya masih belum diizinkan oleh provinsi,” ungkapnya.


Kondisi itu, menurut Sumantra, membuat wacana penataan Lapangan Lagoon seolah berulang tanpa penyelesaian yang jelas. Ia menduga fungsi lahan yang juga kerap digunakan sebagai area parkir ketika berlangsung event besar di Nusa Dua turut menjadi pertimbangan.
“Apakah karena fungsi utamanya sebagai parkir saat event KTT dan sejenisnya? Curiga saya seperti itu. Sehingga setiap ada wacana perbaikan tidak pernah menyentuh substansi lapangannya,” katanya.


Bagi Sumantra, pemerintah perlu melihat persoalan ini lebih jauh. Lapangan olahraga tidak semestinya hanya dipandang sebagai fasilitas pelengkap, melainkan bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia.


Terlebih, kawasan Nusa Dua memiliki banyak anak dan remaja yang membutuhkan ruang untuk menyalurkan energi sekaligus mengembangkan bakat olahraga mereka.


Ia berharap pemerintah segera memberikan kepastian terhadap status lahan sehingga penataan dapat dilakukan secara menyeluruh. Lapangan Lagoon, menurutnya, idealnya tidak sekadar diperbaiki permukaannya, tetapi dikembangkan menjadi fasilitas olahraga dan ruang publik yang benar-benar dapat digunakan masyarakat.

Baca Juga:  Festival Engrang Meriahkan HUT ke-14 Kota Mengupura


“Jangan hanya bicara penataan. Yang paling penting bagaimana lapangan ini benar-benar bisa digunakan anak-anak dan masyarakat dengan aman dan layak,” harapnya.


Sumantra juga mengingatkan, pembangunan kawasan pariwisata semestinya berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat lokal. Kemajuan Nusa Dua tidak hanya diukur dari kemegahan hotel dan event internasional, tetapi juga dari sejauh mana anak-anak di kawasan tersebut memiliki ruang yang layak untuk tumbuh, bermain dan berprestasi.


“Kalau kita ingin melahirkan generasi yang berprestasi, fasilitasnya harus disiapkan. Jangan sampai anak-anak kita hanya menjadi penonton ketika event besar berlangsung di daerahnya sendiri,” tandasnya. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR