Mangupura, baliwakenews.com
Tradisi berbagi menjelang Hari Raya Galungan kembali dirasakan ribuan krama Desa Adat Kedonganan. Melalui program Mepatung Ulam Bawi, Labda Pecingkreman Desa (LPD) Kedonganan membagikan sekitar 18 ton daging babi dan ayam kepada masyarakat sebagai bentuk nyata manfaat yang dikembalikan kepada krama.
Pelaksanaan program yang memasuki tahun ke-23 ini berlangsung di halaman depan Kantor LPD Kedonganan, Senin (15/6/2026), dan disambut antusias warga yang telah lama menantikan tradisi tahunan tersebut.
Ketua LPD Kedonganan, AA Ngurah Windu Putra, menegaskan bahwa Mepatung Ulam Bawi bukan sekadar kegiatan sosial menjelang hari raya, melainkan wujud komitmen LPD dalam menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat yang selama ini mempercayakan pengelolaan dananya kepada lembaga desa adat tersebut.
Menurutnya, jumlah penerima manfaat tahun ini meningkat sekitar 200 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut menjadi indikator semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap LPD Kedonganan.
“Ini menunjukkan bahwa LPD tidak hanya mengelola keuangan desa adat, tetapi juga berupaya meningkatkan kesejahteraan dan solidaritas krama,” ujar Windu Putra.
Ia menjelaskan, pertumbuhan jumlah peserta juga sejalan dengan perkembangan kinerja lembaga yang terus menunjukkan tren positif. Meningkatnya aset dan laba LPD menjadi modal penting untuk memperluas manfaat kepada masyarakat melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan.
Bagi Windu Putra, keberhasilan LPD tidak hanya diukur dari capaian finansial, tetapi juga dari seberapa besar dampak yang dirasakan oleh krama. Karena itu, tradisi Mepatung Ulam Bawi terus dipertahankan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus sarana mempererat hubungan antara lembaga dan masyarakat.
Kegiatan diawali dengan penyerahan simbolis paket daging kepada para prajuru adat, kelian adat, dan kepala lingkungan. Dalam kesempatan tersebut, LPD Kedonganan juga memperkenalkan program inovatif Tanaka melalui pemutaran video singkat yang disaksikan para undangan dan masyarakat.
Program Mepatung Ulam Bawi sendiri tetap berlandaskan nilai-nilai luhur masyarakat Bali, yakni Sagilik Saguluk, Sabeantaka, Paras Paros Sarpanaya, yang menekankan semangat persatuan, kebersamaan, dan kesetaraan.
Setiap krama yang memiliki saldo minimal Rp200 ribu berhak menerima paket daging, sementara krama tamiu mendapatkan hak yang sama dengan syarat saldo minimal Rp10 juta. Selain paket daging, warga juga menerima uang lauk-pauk yang dapat digunakan untuk membeli kebutuhan pelengkap menjelang Hari Raya Galungan.
Tokoh Kedonganan sekaligus perintis program ini, I Ketut Madra, mengapresiasi keberlanjutan tradisi yang telah berjalan lebih dari dua dekade tersebut. Menurutnya, konsistensi pelaksanaan program menunjukkan bahwa manfaat LPD benar-benar kembali kepada masyarakat.
Apresiasi juga datang dari Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Sutarja, yang menilai Mepatung Ulam Bawi menjadi bukti bahwa LPD bukan hanya lembaga keuangan desa adat, tetapi juga perekat kebersamaan krama.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi yang terus dipertahankan LPD Kedonganan ini menjadi contoh bagaimana lembaga ekonomi desa adat mampu tumbuh sekaligus menjaga nilai-nilai sosial. Melalui Mepatung Ulam Bawi, manfaat pembangunan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, sementara semangat kebersamaan tetap terjaga dari generasi ke generasi. BWN-04

































